Belakangan ini, media sosial di Taiwan diramaikan oleh gelombang suara “permintaan maaf” kepada The Epoch Times dan Falun Gong. Banyak warganet Taiwan secara beruntun mengunggah tulisan, mengakui bahwa di masa lalu mereka tidak memahami—bahkan bersikap skeptis terhadap—laporan media The Epoch Times serta berbagai upaya pengungkapan kebenaran yang dilakukan praktisi Falun Gong. Namun, serangkaian peristiwa yang baru-baru ini terungkap di Tiongkok mendorong mereka untuk mengakses lebih banyak informasi dan mengubah pandangan, hingga akhirnya secara sukarela memulai ajakan “meminta maaf kepada The Epoch Times” di media sosial.
EtIndonesia. Baru-baru ini, sejumlah warganet Taiwan di platform media sosial Threads mengunggah permintaan maaf kepada The Epoch Times dan Falun Gong. Unggahan tersebut memicu diskusi luas dan banyak warganet Taiwan turut merespons serta ikut dalam “gelombang permintaan maaf” ini.
Salah satu pengunggah menulis pada 28 November: “Kini saya menyadari bahwa (The Epoch Times) adalah media kebenaran!”
Unggahan itu memperoleh lebih dari 20.000 tanda suka, serta ratusan komentar dan bagikan ulang.
Banyak warganet menyusul dengan unggahan serupa, menyatakan bahwa sebelumnya mereka “tidak mau percaya” atau “menganggap berlebihan” laporan The Epoch Times terkait pengambilan organ hidup oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Namun, seiring berbagai petunjuk dan sisi gelap yang mengerikan satu demi satu terungkap—termasuk operasi transplantasi jantung dan hati simultan yang dijalani penyanyi Taiwan Lü Jianzhong (Tank), serta kematian misterius aktor Tiongkok Yu Menglong—semakin banyak orang mulai meninjau ulang informasi terkait.
Warganet lain menanggapi pada 30 November dengan menulis: “Menjelang akhir tahun… semakin banyak hal terungkap. Saya datang untuk meminta maaf sekali lagi.”
Ia juga menyinggung unggahannya pada April lalu, saat mengaku pernah menganggap tayangan di jalanan Taipei tentang kebenaran pengambilan organ hidup oleh praktisi Falun Gong sebagai “terlalu berdarah dan berlebihan”. Baru setelah banyak informasi terungkap belakangan ini, ia menyadari betapa mengerikannya kenyataan tersebut.

Ada pula warganet yang berkomentar bahwa setelah menonton film dokumenter “States Organs”, ia melakukan riset dan memahami kekejaman penganiayaan PKT terhadap kelompok berkeyakinan Falun Gong. Yang lain mengenang bahwa sebelum pandemi COVID-19 pun mereka sudah membaca laporan terkait dari The Epoch Times dan “sejak itu terus mengikutinya”.
Seiring semakin banyak warga Taiwan yang melihat dengan lebih jelas realitas rezim PKT, pemerintah Taiwan juga berupaya memperkuat persatuan untuk menghadapi tekanan dari PKT.

Selain itu, pada 7 Desember, Dewan Perwakilan Rakyat AS merilis versi terbaru Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA) setebal 3.086 halaman, yang mengatur penggunaan anggaran Pentagon untuk tahun fiskal 2026 serta arah kebijakan. Dokumen tersebut mencakup isu-isu utama seperti senjata nuklir, pertahanan rudal, operasi luar angkasa, dan penempatan militer di kawasan Indo-Pasifik, serta memperkuat strategi pertahanan terhadap PKT dan Rusia.
UU tersebut mengesahkan bantuan militer kepada Taiwan hingga 1 miliar dolar AS pada tahun fiskal 2026, peluncuran program pengembangan dan produksi sistem drone, serta peningkatan pelatihan gabungan antara penjaga pantai Taiwan dan Amerika Serikat.
Selain itu, rancangan undang-undang tersebut juga mencakup Taiwan Non-Discrimination Act dan dukungan bagi Taiwan untuk bergabung dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Namun, undang-undang itu menghapus ketentuan yang mengundang Taiwan berpartisipasi dalam latihan militer Rim of the Pacific (RIMPAC).
Selanjutnya, rancangan tersebut masih harus disetujui melalui pemungutan suara di DPR AS dan Senat AS masing-masing, sebelum diserahkan kepada Presiden untuk ditandatangani dan berlaku sebagai undang-undang. (Hui/asr)


