Tak Punya Latar Belakang, Tetap Bisa Menang dengan Indah

EtIndonesia. Latar keluarga: Ayahnya kehilangan kaki akibat cedera perang dan meninggal ketika dia berusia 21 tahun. Ibunya menghidupi keluarga besar terdiri dari tujuh orang dengan bekerja sebagai kasir di arena seluncur es.

Pencapaian sekarang: Jurnalis senior majalah dengan oplah terbesar di Prancis, Paris Match, dan sosok yang dijuluki “calon ibu negara Prancis”.

Valérie Trierweiler tentu tak pernah membayangkan bahwa di paruh kedua hidupnya, jumlah wawancara yang dia terima akan jauh lebih banyak daripada jumlah wawancara yang pernah dia lakukan. Valérie—yang berpenampilan mirip bintang Hollywood era klasik Katharine Hepburn—menjadi pusat perhatian dunia ketika kekasihnya, François Hollande, terpilih sebagai Presiden Prancis.

Hollande sendiri dijuluki rakyat Prancis sebagai “presiden tiga tanpa”: tanpa pengalaman, tanpa ciri khas, tanpa istri. Dan Valérie pun disebut “pacar tiga tanpa”: tanpa latar belakang keluarga, tanpa status sosial, tanpa pelindung. 

Namun Valérie menegaskan kepada media: “Saya bukan Cinderella.”

Dia bahkan berkata ingin menjadikan Hillary Clinton sebagai teladan untuk memperbarui citra ibu negara Prancis.

Anak Miskin yang Cepat Dewasa

Valérie yang kini berusia 47 tahun dibesarkan di Lembah Loire. Ayahnya yang mengalami amputasi akibat perang meninggal saat Valérie berusia 21 tahun. Ibunya—seorang ibu rumah tangga yang tiba-tiba harus menafkahi enam anak—mulai bekerja sebagai kasir di arena seluncur es.

Situasi keluarga yang berat membuat Valérie muda sadar: jika ingin mengubah nasib, dia harus menjadi kuat.

Setelah lulus dari jurusan sejarah dan politik, tanpa koneksi apa pun dia nekat masuk ke dunia jurnalistik Paris yang sangat kompetitif. Dari bawah, dia merangkak pelan, hingga akhirnya menjadi jurnalis senior Paris Match, bertugas meliput aktivitas Partai Sosialis. Sejak 2005, dia juga mulai tampil di televisi sebagai pembawa acara politik dan program talkshow.

Sesungguhnya, dia dan Hollande pertama kali bertemu bertahun-tahun sebelumnya, saat pemilu legislatif Prancis. Hollande yang kala itu berusia 34 tahun terpilih menjadi anggota parlemen dan disebut-sebut sebagai bintang baru Partai Sosialis—meski belum mampu menaklukkan hati Valérie. Baru ketika mereka bertemu lagi pada 2005, sesuatu berubah.

“Saya langsung jatuh cinta pada pria sosial-demokrat yang gemuk dan berkacamata itu,” kenang Valérie.

Saat itu Valérie telah mengalami dua kegagalan pernikahan dan membesarkan tiga anak sendirian. Namun hal itu tidak menghentikan hubungan mereka. Mereka berpacaran diam-diam selama lima tahun, sampai akhirnya pada 2010, Valérie mengumumkan secara terbuka bahwa dia adalah pasangan resmi Hollande.

Tidak Mau Jadi Sorotan

Setelah kemenangan Hollande dalam pemilu, Valérie menulis di Twitter: “Saya merasa terhormat mendampingi Presiden Prancis berikutnya, dan bahagia bisa berbagi hidup dengan François.”

Di tengah memanasnya atmosfer kampanye, media justru semakin penasaran karena statusnya sebagai jurnalis politik membuatnya berbeda dibanding Carla Bruni, mantan model papan atas yang menjadi ibu negara sebelumnya.

Namun Valérie sama sekali tidak ingin menjadi pusat perhatian. Dia menolak wawancara eksklusif, karena tidak ingin mengalihkan fokus publik dari pemilu.

Dia sering tampil dengan kacamata hitam besar—memberikan kesan dingin dan sulit didekati. Banyak yang menyebutnya “diva”, “duchess”, bahkan “putri”. Dua program komedi radio bahkan menggambarkannya sebagai anjing Rottweiler. 

Dia hanya tertawa: “Saya justru suka panggilan itu.”

Meski begitu, dia mengakui bahwa sikapnya yang tampak angkuh sebenarnya hanya bentuk rasa malu.

 “Tapi orang salah paham dan mengkritik saya. Tentu saya cemas. Tapi jika saya akan menjadi pasangan presiden, saya harus siap menghadapi semuanya,”katanya.

Bahkan terhadap Paris Match, tempatnya bekerja, dia tetap tegas. Ketika fotonya muncul di halaman depan dengan judul “Valérie—Kartu Truf Hollande yang Memikat”, dia marah besar.

 “Melihat wajah saya di koran tempat saya bekerja tanpa izin dan tanpa pemberitahuan… sungguh mengejutkan. Saya marah,” tulisnya di Twitter.

Pilar Kuat di Belakang Presiden

“Saya adalah pengamat yang terlibat. Saya ingin tetap berada di balik layar, mengamati apa yang terjadi,” ujarnya.

Dengan naluri jurnalistik yang tajam dan pemikiran independen, Valérie menjadi kekuatan paling elegan sekaligus paling tegas di belakang Hollande. 

Hollande tak jarang berkata kepada media: “Valérie adalah wanita dalam hidup saya.”

 Di ponselnya, dia bahkan menyimpan kontak Valérie dengan nama: “My Love.”

Tim kampanye Hollande tahu bahwa meminta pendapat Valérie sebelum mengambil keputusan besar adalah langkah bijak.

Dia adalah penasihat yang paling menjaga Hollande. Dia meneleponnya beberapa kali sehari, dan apa pun aktivitas Hollande, dia selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan Valérie.

Atas saran Valérie:

  • Hollande menurunkan berat badan
  • Dia mengganti kaca mata lamanya
  • Dia memperbaiki gaya berpakaian
  • Dia dilatih berbicara hingga intonasinya mengingatkan publik pada mantan Presiden Mitterrand

Popularitas Hollande pun melonjak.

Menjelang pemilu, Valérie menggambarkan Hollande sebagai sosok yang bersahaja dan dekat dengan rakyat: membeli pakaian di pasar, mencari kaus kaki anak-anak di bawah tempat tidur, memasak sendiri, dan memiliki kebiasaan buruk tidak pernah menutup pintu lemari maupun pintu ruangan—kebiasaan yang menurutnya menandakan Hollande adalah orang yang “tidak punya apa pun untuk disembunyikan.”

Semua itu berhasil dia kemas tanpa memanfaatkan acara televisinya sendiri. Pengalaman panjangnya di media telah mengasah kemampuannya membaca psikologi publik dengan sangat tepat.

Tak Akan Pernah Meninggalkan Dunia Jurnalistik

Valérie pernah menjadi sorotan besar ketika menampar seorang rekan kerja yang membuat komentar seksis. Sebagai seorang feminis dan ibu tunggal dari tiga anak, keberaniannya membuat media Prancis menyebutnya sebagai “penerus Iron Lady”.

Hollande pernah menyatakan bahwa sekalipun dia memenangkan pemilu, dia tidak berniat menikah. Artinya, Prancis bisa saja memiliki presiden yang tidak menikah, dan Valérie mungkin tidak akan menyandang gelar “Ibu Negara”.

Namun Valérie sudah lama menegaskan: “Meski François terpilih menjadi presiden, saya tidak akan meninggalkan profesi jurnalistik. Saya hanya tidak akan lagi meliput politik.”

Ketegasannya, kepribadian yang lugas, serta perannya dalam membentuk citra Hollande membuat masyarakat Prancis sangat menghormatinya.

Seorang staf Hollande berkata : “Ketika berbicara dengannya, kita tidak pernah tahu reaksinya. Itu menakutkan. Saya sebisa mungkin menghindari konfrontasi.”

Dia menyebut Valérie sebagai “macan betina.”

Namun justru itulah kekuatannya. Untuk mempertahankan jati diri dan sekaligus memenangkan hati seorang presiden—tanpa latar belakang, tanpa koneksi, tanpa privilese—seorang wanita biasa memang harus memiliki keberanian seekor “macan betina”. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine