EtIndonesia. Ada seorang pria yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dia bekerja keras bertahun-tahun, tetapi hidupnya tetap miskin, tertekan, dan tanpa secercah harapan. Suatu malam, ketika beban hidup terasa begitu berat hingga dia kehilangan keberanian untuk melanjutkan hidup, dia pergi ke tepi sebuah tebing. Dia berniat mengakhiri segalanya dengan melompat.
Sebelum melompat, dia menangis sejadi-jadinya. Dia mencurahkan seluruh kesedihan, luka, dan kegagalannya. Tepat di tepi tebing itu, tumbuh sebuah pohon kecil yang rendah dan tampak rapuh. Mendengar keluh kesahnya, pohon itu ikut meneteskan air mata.
Melihat itu, sang pria terkejut. Dia bertanya : “Kenapa kamu menangis? Apa kamu juga mengalami nasib buruk seperti diriku?”
Pohon itu menjawab : “Aku mungkin adalah pohon yang paling malang di dunia. Lihatlah tempatku tumbuh—di sela-sela batu karang yang keras. Tanpa tanah yang cukup, tanpa air yang layak, aku kekurangan nutrisi sepanjang hidupku. Lingkungan di sini kejam; aku tak bisa tumbuh tinggi, batangku bengkok, rupaku buruk, dan akarku dangkal. Setiap hembusan angin hampir merobohkanku, setiap musim dingin hampir membekukanku. Orang melihatku seolah kuat, padahal hidupku sebenarnya jauh lebih menderita daripada mati.”
Mendengar itu, pria itu merasa kasihan dan berkata : “Kalau begitu, mengapa kamu masih bertahan? Mengapa tidak ikut mati bersamaku saja?”
Pohon itu berkata dengan lembut: “Aku mati itu mudah. Tapi kalau aku mati… di tebing ini tidak akan ada lagi pohon lainnya. Karena itu aku tidak boleh mati.”
Pria itu terdiam, tidak mengerti.
Pohon itu melanjutkan: “Lihatlah di atas kepalaku. Ada sebuah sarang burung, bukan? Sarang itu milik sepasang burung jalak yang sudah lama hidup di sini. Mereka berteduh di sini, membesarkan anak-anak mereka di sini. Jika aku tidak ada… mereka harus bagaimana?”
Mendengar itu, sang pria tertegun. Sebuah kesadaran seketika menyinari hatinya. Perlahan dia mundur dari tepi jurang, menyerahkan kembali nyawanya pada kehidupan.
Pesan moral:
Nilai sejati kehidupan bukan hanya tentang apa yang kita capai untuk diri sendiri, tetapi tentang apa yang bisa kita berikan kepada orang lain.
Setiap orang—betapa kecil, lemah, atau tak berartinya ia memandang dirinya—pasti berarti bagi seseorang di dunia ini.
Bagi orang lain, kita adalah sebuah pohon: tempat bersandar, tempat berteduh, tempat yang mereka butuhkan untuk melanjutkan hidup. (jhn/yn)


