EtIndonesia.Pada akhir abad ke-19, lahir seorang anak laki-laki yang malang di London, Inggris. Ketika dia baru berusia satu tahun, kedua orangtuanya bercerai, dan dia diasuh oleh ibunya. Namun, saat dia berusia enam tahun, ibunya mengalami gangguan jiwa dan harus dirawat di rumah sakit jiwa. Dia pun kemudian dimasukkan ke panti asuhan.
Sejak kecil, dia sudah bekerja serabutan demi bertahan hidup: menjadi pembantu di apotek, pelayan di hotel, penjaga toko buku, buruh di pabrik kaca, hingga magang di percetakan. Masa kecilnya penuh dengan penderitaan, tanpa kebahagiaan yang seharusnya dimiliki seorang anak.
Namun, kemudian dia menemukan cara yang ampuh untuk menghadapi penderitaan itu: dia menguasai rahasia dan kekuatan tertawa.
Dia menjadikan tawa sebagai senjatanya. Dia merekam tawanya dalam film, dan setiap film yang dia buat ditonton oleh lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia. Dia menaklukkan penonton, menaklukkan dunia. Anak malang itu kelak menjadi sosok legendaris yang kita kenal sebagai Charlie Chaplin.
Pesan moral:
Dalam dialektika materialisme, setiap kontradiksi dalam kondisi tertentu dapat berubah menjadi kebalikannya. Penyakit, penderitaan, dan kegagalan memang merupakan sisi tragis dalam hidup, tetapi bila kita mampu menghadapinya dengan sikap positif dan tindakan yang optimis, semua itu dapat berubah menjadi harta berharga.
Chaplin menggunakan kekuatan tawa untuk menghadapi pahitnya kehidupan. Dia menaklukkan dunia, dan sekaligus mengangkat derajat hidupnya sendiri ke tingkat yang lebih tinggi.(jhn/yn)


