Pelaku Penembakan Massal di Pantai Bondi Australia Terinspirasi Ideologi ISIS

Australian Federal Polic (AFP) dan Kepolisian NSW mengonfirmasi para pelaku menyimpan materi ekstremis serta bahan peledak rakitan (IED), seiring penyelidikan terorisme yang semakin mendalam

EtIndonesia. Otoritas kontra-terorisme Australia menyatakan bahwa penembakan massal yang menyasar perayaan Yahudi di Bondi Beach, Sydney, terinspirasi ideologi Negara Islam (IS).

Serangan yang menargetkan perayaan Hanukkah di lokasi ikonik Sydney itu segera diklasifikasikan sebagai aksi terorisme.

Pada 14 Desember malam, duo ayah–anak tersebut melepaskan tembakan ke arah sekitar 1.000 orang yang tengah merayakan malam pertama Hanukkah. Sedikitnya 15 orang tewas hingga kini dan lebih dari 40 lainnya luka-luka. Salah satu penembak tewas di lokasi, sementara pelaku lainnya berada dalam kondisi kritis.

Komisioner Kepolisian Federal Australia, Krissy Barrett, mengatakan temuan awal mengarah pada inspirasi ISIS, namun menegaskan bahwa penyelidikan masih berada pada tahap awal.

“Tidak ada bukti yang menunjukkan keterlibatan pihak lain dalam serangan ini. Namun, kami memperingatkan bahwa hal itu bisa berubah seiring berjalannya penyelidikan,” ujar Barrett kepada wartawan pada 16 Desember.

Ia menekankan pemisahan tegas antara ideologi radikal dan agama secara luas.

“Ini adalah dugaan tindakan individu yang berpihak pada organisasi teroris, bukan sebuah agama,” katanya.

Perdana Menteri Anthony Albanese menggemakan pernyataan tersebut, menegaskan bahwa serangan ini tampak bermotif ideologis.

“Tampaknya serangan ini dimotivasi oleh ideologi Negara Islam,” kata Albanese dalam wawancara radio.

 “Ideologi kebencian yang telah berkembang lebih dari satu dekade ini, dan dalam kasus ini memicu kesiapan melakukan pembunuhan massal. Kami bekerja sekeras mungkin.”


Bendera ISIS dan Bahan Peledak

Komisioner Polisi NSW Mal Lanyon mengonfirmasi penyidik menemukan materi ekstremis dan perangkat peledak yang terkait dengan para tersangka.

“Saya juga mengonfirmasi bahwa kendaraan yang terdaftar atas nama pelaku yang lebih muda berisi IED, dan juga dua bendera ISIS buatan sendiri,” kata Lanyon.

Polisi belum mengungkap rincian lebih lanjut mengenai jenis bahan peledak tersebut atau apakah direncanakan untuk digunakan.

“Kami terus menelusuri motif di balik tragedi ini,” ujar Lanyon.
“Ini penyelidikan yang sangat kompleks dan harus dilakukan secara menyeluruh.”

Albanese menegaskan bahwa ideologi ISIS tetap menjadi ancaman global.

“Penyimpangan radikal terhadap Islam adalah masalah serius,” katanya.
“ISIS menciptakan ideologi kejahatan yang telah dikecam, bukan hanya oleh pemerintah Australia, tetapi oleh dunia.”


Jejak ASIO Terungkap

Penyelidikan ini juga memicu sorotan tajam terhadap penilaian intelijen, setelah terungkap bahwa pelaku yang lebih muda pernah diselidiki terkait ekstremisme.

Naveed Akram (24) sempat menarik perhatian ASIO pada 2019 karena dugaan keterkaitan dengan radikalisme. Namun setelah diwawancarai, ia dibebaskan dan tidak dimasukkan ke dalam daftar pantauan teror.

Albanese mengatakan penyelidikan ASIO kala itu tidak mengidentifikasi Akram sebagai ancaman berkelanjutan.


Perjalanan ke Luar Negeri Diselidiki

Polisi juga mengonfirmasi bahwa para tersangka melakukan perjalanan ke luar negeri tak lama sebelum penembakan.

“Saya dapat mengonfirmasi bahwa mereka bepergian ke Filipina,” kata Lanyon.
“Alasan dan tujuan perjalanan tersebut, serta lokasi yang mereka datangi, masih dalam penyelidikan.”

Hingga kini, otoritas belum memastikan apakah perjalanan tersebut berkaitan langsung dengan serangan.


Penyelidikan Satuan Anti-Teror

Kasus ini ditangani oleh NSW Joint Counter Terrorism Team, yang melibatkan Polisi Federal Australia, Polisi NSW, ASIO, dan Komisi Kejahatan NSW.

Barrett mengatakan satuan tugas tengah menelaah sejumlah besar barang bukti yang disita, namun belum akan merilis rincian tambahan.

“Kami memahami pentingnya informasi bagi publik, tetapi fokus utama kami adalah tindakan nyata—melakukan penyelidikan menyeluruh.”


Koreksi Soal Izin Senjata

Polisi juga mengeluarkan klarifikasi terkait informasi izin senjata api yang sebelumnya dirilis.

Lanyon menegaskan bahwa Naveed Akram tidak memiliki izin senjata sejak 2015, bertentangan dengan pernyataan awal.

“Saya ingin meluruskan catatan,” katanya.

Sajid Akram mengajukan izin senjata pada Oktober 2015, namun permohonan itu kedaluwarsa pada 2016 karena persyaratan tidak dipenuhi.

Permohonan izin kategori AB kembali diajukan pada 2020, direkomendasikan, dan resmi diterbitkan pada 2023.

Polisi kemudian mengonfirmasi bahwa pria berusia 50 tahun tersebut memegang izin senjata yang masih berlaku selama sekitar dua tahun sebelum serangan, dan senjata yang disita terdaftar secara legal di bawah izin tersebut.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine