Sumpah Sang Nelayan

EtIndonesia. Pada zaman dahulu, hiduplah seorang nelayan yang terkenal sebagai pemancing handal. Namun dia memiliki satu kebiasaan unik: setiap kali melaut, dia selalu membuat sumpah tertentu.

Suatu musim semi, dia mendengar bahwa harga ikan sotong sedang paling mahal di pasar. Maka dia pun bersumpah : “Kali ini aku hanya akan menangkap sotong!”

Namun ketika dia melaut, yang dia dapat hanya kepiting. Tidak ada sotong sama sekali. Karena terikat oleh sumpahnya, dia pulang dengan tangan kosong.

Sesampainya di darat, dia baru tahu bahwa harga kepiting jauh lebih mahal daripada sotong.

Dia menyesal setengah mati dan segera bersumpah :  “Lain kali aku hanya akan menangkap kepiting!”

Pada pelayaran kedua, seluruh perhatiannya tertuju pada kepiting. Namun anehnya, hari itu ia justru bertemu banyak sotong, dan tidak ada kepiting sama sekali. Karena sumpahnya melarang dia menangkap selain kepiting, dia pun kembali pulang tanpa hasil.

Dia sangat menyesal dan akhirnya bersumpah lagi :  “Baiklah! Lain kali apa pun yang kutemui—sotong atau kepiting—akan kutangkap semuanya!”

Pada pelayaran ketiga, dia memegang sumpahnya teguh. Namun nasib berkata lain.
Hari itu dia tidak menemukan sotong maupun kepiting. Yang ada hanya beberapa ikan tenggiri — namun karena tak masuk dalam “sumpah”-nya, dia tetap tidak menangkap apa pun.

Untuk ketiga kalinya, dia pulang dengan tangan kosong.

Sayangnya, dia tidak pernah sempat melakukan pelayaran keempat. Nelayan itu akhirnya mati kelaparan dan kedinginan.

Pesan moral:

Ketika seseorang menetapkan tujuan hidup atau cita-cita, tujuan itu harus sesuai:

  • dengan kemampuan dirinya,
  • dan dengan kebutuhan masyarakat yang terus berubah.

Kebutuhan masyarakat tidak pernah statis—selalu berkembang. Karena itu, bila seseorang tetap memegang teguh satu pandangan tanpa menyesuaikannya dengan kenyataan baru, maka cita-cita itu akan berubah menjadi khayalan belaka, meskipun dia memiliki potensi yang besar.

Hanya mereka yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, yang dapat mengubah impian menjadi kenyataan.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine