Anak Panah yang Patah

EtIndonesia. Pada zaman Musim Semi dan Gugur serta Negara-negara Berperang, hiduplah seorang ayah dan anak yang bersama-sama turun ke medan perang. Sang ayah telah menjadi seorang jenderal, sementara sang anak masih sebatas prajurit biasa yang bertugas di barisan depan.

Ketika terompet perang kembali ditiup dan genderang perang bergemuruh, sang ayah dengan penuh wibawa mengangkat sebuah kantong anak panah. Di dalamnya tertancap satu anak panah.

Dengan nada serius, dia berkata kepada putranya: “Ini adalah anak panah pusaka keluarga. Bawalah selalu di sisimu, kekuatannya tak terhingga. Tetapi ingat, jangan sekali-kali menariknya keluar.”

Kantong anak panah itu terlihat sangat indah—terbuat dari kulit sapi tebal, dihiasi tepian tembaga yang berkilau redup. Ujung ekor anak panah yang tampak keluar jelas dibuat dari bulu merak pilihan. Melihatnya, sang anak langsung diliputi kegembiraan. Dalam benaknya, dia membayangkan betapa sempurnanya batang dan mata anak panah itu. Di telinganya seakan terdengar suara “swoosh” anak panah melesat, dan dia membayangkan panglima musuh jatuh tersungkur dari kudanya.

Benar saja, sejak membawa anak panah pusaka itu, sang anak bertempur dengan sangat gagah berani. Dia maju tanpa gentar dan tak terkalahkan di medan laga.

Namun, ketika terompet tanda mundur ditiup, rasa bangga karena kemenangan membuatnya tak lagi mampu menahan diri. Dia melupakan pesan ayahnya. Dorongan rasa ingin tahu yang kuat membuatnya berseru pelan dan menarik keluar anak panah pusaka itu, ingin melihatnya dengan jelas.

Sekejap dia tertegun.

Di dalam kantong itu… ternyata hanya ada sebuah anak panah yang patah.

“Aku selama ini bertempur hanya dengan sebuah anak panah patah?”

Keringat dingin langsung membasahi tubuhnya. Seperti rumah yang tiba-tiba kehilangan tiangnya, tekadnya runtuh seketika. Keberanian yang selama ini menopangnya pun ambruk total.

Akhirnya, tanpa perlu dijelaskan lebih jauh, sang anak tewas di tengah kekacauan perang.

Setelah asap pertempuran perlahan menghilang, sang ayah memungut anak panah patah itu, meludah dengan getir, lalu berkata: “Orang yang tidak percaya pada tekadnya sendiri, selamanya tidak akan pernah menjadi seorang jenderal.”

Menggantungkan kemenangan dan kekalahan pada sebuah “anak panah pusaka” betapa bodohnya. Dan ketika seseorang menyerahkan inti kehidupannya, kendali nasibnya, kepada pihak lain—betapa berbahayanya itu.

Misalnya:

  • Menggantungkan harapan sepenuhnya pada anak,
  • Menggantungkan kebahagiaan pada pasangan,
  • Menggantungkan rasa aman hidup pada pekerjaan atau institusi.

Renungan

Sesungguhnya, kitalah anak panah itu sendiri. Jika ingin kuat, jika ingin tajam, jika ingin melesat tepat sasaran dan selalu mengenai target, maka yang dapat menempa, mengasah, dan menyelamatkan anak panah itu hanyalah diri kita sendiri. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine