Penggaris Hitung Fermi

EtIndonesia. Peraih Hadiah Nobel, Li Zhengdao (Tsung-Dao Lee), ketika masih menjadi mahasiswa pascasarjana, dibimbing oleh seorang tokoh besar dalam fisika teoretis dan eksperimental—Enrico Fermi, perancang reaktor nuklir pertama di Amerika Serikat.

Setiap minggu, Fermi selalu meluangkan setengah hari penuh untuk berdiskusi secara tatap muka dengan Li Zhengdao. Dalam setiap diskusi, Fermi menuntut satu hal: semua persoalan fisika harus dipikirkan sendiri, dan mahasiswa harus berani mengemukakan pandangannya sendiri.

Li Zhengdao pernah mengenang sebuah peristiwa yang sangat membekas dalam hidupnya.

Suatu hari, Fermi bertanya kepadanya: “Berapa suhu di pusat matahari?”

Li Zhengdao menjawab:  “Sekitar sepuluh juta derajat.”

Fermi lalu bertanya lagi : “Dari mana kamu tahu?”

Li menjawab: “Saya membacanya di literatur ilmiah.”

Fermi kembali bertanya: “Apakah kamu sudah menghitungnya sendiri?”

Li Zhengdao menjawab jujur :  “Belum.”

Fermi langsung berkata tegas:  “Itu tidak bisa. Kamu harus memikirkannya dan menghitungnya sendiri, bukan sekadar menerima kesimpulan orang lain.”

Demi itu, Fermi bahkan menghabiskan dua hari untuk membuatkan sebuah penggaris hitung berukuran besar yang khusus. Dengan penggaris itu, cukup dengan sekali geser, seseorang dapat dengan mudah menghitung perkiraan suhu pusat matahari, yang hasilnya memang sekitar sepuluh juta derajat.

Penggaris tersebut mungkin adalah satu-satunya alat di dunia yang secara khusus dibuat untuk menghitung suhu matahari.

Li Zhengdao kemudian menyadari bahwa saat itu Fermi sebenarnya sedang meneliti eksperimen elektron dan neutron, yang sama sekali tidak berkaitan langsung dengan suhu matahari. Dia pun bukan ahli khusus di bidang tersebut.

Namun, demi menanamkan satu prinsip penting—jangan pernah menerima kesimpulan orang lain secara membabi buta—Fermi rela turun tangan sendiri, membuat alat itu, dan memberi teladan nyata tentang sikap ilmiah yang membumi dan jujur pada proses.

Pelajaran itu membuat Li Zhengdao mendapat manfaat seumur hidup yang sangat mendalam.

Renungan

“Terlalu percaya pada buku, lebih buruk daripada tidak membaca buku sama sekali.”

Terhadap pengetahuan dari para pendahulu, kita perlu berani menguji dan memverifikasi, bukan sekadar mengikuti tanpa berpikir.

Semangat belajar para pendahulu patut diteladani, namun metode dan kesimpulan mereka harus dipahami secara kritis.

Pengalaman tidak langsung tetap penting, tetapi harus disikapi dengan nalar dan pemikiran yang seimbang.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Chemistry Tumbuh dari Kedekatan: Mengapa Kencan Tatap Muka Masih Tak Tergantikan di Era Digital

Di era ketika lebih dari setengah lajang berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi kencan, berbagai bukti menunjukkan bahwa pendekatan digital terhadap percintaan mungkin...

Mengapa Introvert dan Ekstrovert Sama-Sama Berperan Penting dengan Kekuatan Mereka yang Unik

Cara sistem saraf kita merespons lingkungan sosial mencerminkan lebih dari sekadar kepribadian. Oleh Sarah Campise Hallier Dua orang teman memasuki sebuah bar karaoke. Yang satu langsung...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine