Iblis dan Petani


EtIndonesia.
Saat pertama kali membaca kisah ini, mungkin orang hanya berniat melihatnya sekilas. Namun setelah selesai membacanya, getaran maknanya justru sangat dalam. Kisah ini layak dibagikan kepada siapa pun yang sedang berjuang mengejar mimpi—sebuah pengingat agar dalam mengejar impian, kita tidak kehilangan hati nurani dan tujuan awal.

Kisah ini berasal dari kumpulan fabel karya sastrawan besar Rusia, Leo Tolstoy, dalam bukunya Si Bodoh Ivan.

Suatu hari, iblis tua melihat kehidupan manusia yang terasa terlalu damai dan bahagia. 

Dia berkata: “Kalau manusia hidup terus begini, iblis akan kehilangan arti keberadaannya. Kita harus membuat kekacauan.”

Dia pun mengutus iblis kecil pertama untuk mengganggu seorang petani. Petani ini bekerja sangat keras setiap hari, hasilnya sedikit, tetapi dia tetap hidup bahagia dan merasa cukup.

Iblis kecil berpikir: Bagaimana caranya membuat petani ini menjadi buruk?

Dia lalu membuat tanah petani itu menjadi sangat keras, berharap petani akan menyerah. Petani mencangkul tanah itu lama sekali, tubuhnya lelah, tetapi dia hanya beristirahat sejenak lalu kembali bekerja tanpa mengeluh sedikit pun.

Rencananya gagal. Iblis kecil pun pulang dengan tangan kosong.

Iblis tua mengutus iblis kecil kedua.

Iblis ini berpikir, Kalau membuatnya lebih menderita tidak berhasil, maka ambil saja apa yang dia miliki.

Dia mencuri roti dan air minum petani itu. Dia yakin, setelah bekerja keras lalu mendapati makanan dan airnya hilang, petani pasti akan marah besar.

Petani yang kehausan dan kelaparan duduk berteduh di bawah pohon. 

Saat menyadari roti dan airnya lenyap, dia justru berkata :  “Mungkin ada orang lain yang lebih membutuhkan roti dan air itu daripadaku. Kalau dengan itu dia bisa kenyang, syukurlah.”

Rencana itu pun kembali gagal. Iblis kecil kedua melarikan diri dengan kecewa.

Iblis tua mulai heran: “Apakah benar-benar tidak ada cara membuat petani ini menjadi buruk?”

Saat itu, iblis kecil ketiga maju dan berkata : “Aku punya cara. Aku pasti bisa mengubahnya.”

Dia mendekati petani dan berteman dengannya. Petani pun dengan senang hati menerima persahabatan itu. Karena iblis memiliki kemampuan meramal, dia berkata kepada petani bahwa tahun depan akan terjadi kekeringan, dan menyarankan agar benih ditanam di tanah yang lembap.

Petani menuruti saran itu.

Tahun berikutnya, semua orang gagal panen—kecuali petani itu. Ladangnya penuh hasil. Dia pun mulai hidup berkecukupan. Tahun demi tahun, iblis terus memberi saran apa yang sebaiknya ditanam. Dalam tiga tahun, petani itu menjadi sangat kaya.

Iblis lalu mengajarinya mengolah padi menjadi arak dan menjualnya. Keuntungannya semakin besar.

Perlahan, petani berhenti bekerja sendiri. Dia hidup dari perdagangan dan uang terus mengalir.

Suatu hari, iblis tua datang. 

 Iblis kecil berkata dengan bangga: “Lihatlah hasilnya. Sekarang petani ini sudah memiliki darah babi.”

Petani mengadakan pesta besar. Semua orang kaya datang. Mereka minum arak terbaik, menyantap hidangan paling mewah, dilayani banyak pelayan. Mereka makan dan minum dengan berlebihan, pakaian berantakan, mabuk tak sadarkan diri—perlahan berubah rakus, gemuk, dan bodoh seperti babi.

Iblis kecil melanjutkan: “Sebentar lagi, Tuan akan melihat bahwa dia juga memiliki darah serigala.”

Seorang pelayan membawa anggur, tetapi terpeleset dan menjatuhkannya.

Petani langsung memaki: “Kamu ini ceroboh sekali!”

Pelayan menjawab dengan lemah: “Tuan… kami belum makan seharian. Kami sudah terlalu lapar.”

Petani membentak : “Pekerjaan belum selesai, bagaimana kalian berani makan?!”

Iblis tua tertawa puas dan berkata: “Kamu luar biasa! Bagaimana kamu melakukannya?”

Iblis kecil menjawab dengan tenang:  “Aku hanya memberinya lebih dari yang dia butuhkan. Dari situlah keserakahan manusia muncul dengan sendirinya.”

Ketika hati berubah, sikap pun berubah.
Sikap berubah, kebiasaan ikut berubah.
Kebiasaan berubah, watak pun berubah.
Watak berubah, maka hidup pun ikut berubah.

Kisah ini mengingatkan kita:  yang paling berbahaya bukanlah kekurangan, melainkan kelebihan tanpa kendali. Dan sering kali, bukan penderitaan yang merusak manusia—melainkan kelimpahan yang membuatnya lupa diri.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine