Bocah  7 Tahun Masuk Rumah Sakit Karena Melahap Makanan Pedas, Publik Terbelah Soal Tuntutan Orangtuanya 

EtIndonesia. Seorang bocah laki-laki berusia 7 tahun di Tiongkok mencuri dan melahap makanan pesan antar milik tetangganya. Akibat menyantap hidangan yang “super pedas”, ia mengalami sakit parah hingga harus dirawat di rumah sakit. Orang tuanya kemudian menuntut tetangga tersebut untuk mengganti biaya pengobatan, sehingga memicu perdebatan luas.

Menurut laporan gabungan media  daratan Tiongkok, bocah tersebut sering mencuri makanan pesan antar milik tetangganya, yang membuat sang tetangga sangat terganggu. Untuk memberi pelajaran kepada pencuri tersebut, tetangga itu sengaja memesan makanan dengan tingkat kepedasan ekstrem, menunggu agar pencuri kembali beraksi.

Pada hari kejadian, bocah itu menemukan makanan pesan antar yang belum dibuka dan diletakkan tanpa pengawasan di depan pintu rumah tetangga. Seperti biasa, ia mengambil makanan tersebut dan membawanya pulang untuk dimakan. Karena terlalu pedas, tak lama setelah makan bocah itu mengalami ketidaknyamanan, berupa sakit perut hebat dan muntah berulang kali. Setelah dibawa ke rumah sakit dan diperiksa, ia didiagnosis radang lambung dan usus akut,  dan harus menjalani perawatan inap. Biaya medis dilaporkan melebihi 2.000 yuan.

Setelah kejadian tersebut, ibu bocah itu menuntut agar tetangga menanggung biaya pengobatan, dengan alasan bahwa makanan yang terlalu pedas itulah yang menyebabkan anaknya jatuh sakit.

Namun, tetangga tersebut bersikukuh bahwa makanan pesan antar itu adalah milik pribadinya yang dibeli secara sah, dan bocah tersebut mengambil serta memakannya tanpa izin, sehingga segala konsekuensi tidak seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

Menanggapi sengketa ini, sejumlah pengacara menilai bahwa memesan makanan adalah tindakan perdata yang wajar, tidak melanggar hukum maupun norma kesusilaan. Meski pemesanan makanan super pedas itu dilakukan dengan perkiraan bahwa makanan mungkin akan dicuri, tindakan tersebut tetap dianggap sebagai upaya melindungi hak milik yang sah, sehingga tidak ada kewajiban untuk memberikan ganti rugi.

Peristiwa ini memicu perdebatan sengit di dunia maya. Banyak warganet Tiongkok mengecam orang tua anak tersebut, menilai mereka tidak mampu membedakan benar dan salah serta gagal mendidik anak. 

Beberapa komentar warganet antara lain:
“Anak mungkin belum mengerti, tapi orang tuanya ke mana? Saya tidak percaya orang tua tidak tahu kalau anaknya sering mencuri makanan.”
“Dengan orang tua yang tidak masuk akal seperti ini, pantas saja anaknya jadi pencuri.”
“Anak yang tumbuh di keluarga seperti ini, entah itu berkah atau malah musibah.” (Hui)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine