Iran Dilanda Gelombang Protes Nasional, Rezim Merespons dengan Brutal, AS Turun Tangan

Iran pada pekan ini dilanda gelombang protes rakyat terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Aksi mogok kerja buruh dan demonstrasi mahasiswa yang meneriakkan slogan “Hancurkan diktator” terus meluas ke seluruh negeri. Krisis ekonomi yang semakin memburuk menjadi salah satu pemicu utama gelombang protes ini.

EtIndonesia. Rezim Iran mengerahkan polisi antihuru-hara dan pasukan keamanan untuk menindak demonstran, yang dilaporkan telah menyebabkan beberapa pengunjuk rasa tewas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengunggah peringatan kepada otoritas Iran agar tidak membunuh demonstran damai, serta menyatakan bahwa AS “akan turun tangan membantu”. Dunia internasional kini mencermati apakah gejolak ini akan mengguncang fondasi rezim Islam Iran.

Di bawah sanksi berkelanjutan Amerika Serikat, perekonomian Iran berada dalam kondisi sulit.

Nilai mata uang Iran, rial, telah lama terdepresiasi tajam. Pada 28 Desember, nilai tukarnya anjlok hingga 1,42 juta rial per dolar AS, sebelum naik kembali menjadi 1,38 juta rial per dolar AS pada 29 Desember.

Menurut statistik resmi, tingkat inflasi pada Desember melonjak lebih dari 42% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Harga pangan naik lebih dari 70%, sementara harga obat-obatan melonjak hingga 50%.

Penyesuaian harga bensin yang baru diberlakukan semakin memperberat beban hidup masyarakat yang sudah tertekan.

Di bawah bayang-bayang krisis ekonomi, gelombang besar demonstrasi dan mogok kerja menyapu seluruh Iran, termasuk Teheran, Shiraz, Isfahan, Karaj, Mashhad, Ahvaz, dan kota-kota lainnya.

Rekaman dari dekat pasar pusat kota Teheran menunjukkan para demonstran terlibat aksi dorong-mendorong dengan polisi dan pasukan keamanan, serta melempar batu.

Saat pasukan keamanan mundur, mahasiswa Universitas Teheran meneriakkan “Hancurkan diktator” dan massa bergerak menuju gerbang utama kampus. Polisi menembakkan gas air mata ke sejumlah area yang dipenuhi demonstran.

Pada 30 Desember, aksi protes telah meluas ke banyak universitas di seluruh negeri.

Pada hari yang sama, di kota Fasa, Iran selatan, bentrokan terjadi antara demonstran dan polisi. Para pengunjuk rasa mencoba menerobos masuk ke kantor gubernur provinsi, dan terdengar suara tembakan di jalanan. Polisi setempat menyatakan telah menangkap empat demonstran.

Pada hari itu pula, Departemen Luar Negeri AS menulis di media sosial X bahwa mereka sangat prihatin terhadap warga Iran yang menghadapi “intimidasi, kekerasan, dan penangkapan”, serta mendesak otoritas Iran untuk menghentikan tindakan represif.

Pada 1 Januari 2026 pagi, di kota Lordegan, Iran barat daya, bentrokan sengit antara polisi dan demonstran menyebabkan dua warga tewas.

Pada 2 Januari, aksi protes memasuki hari keenam.

Seorang warga merekam adegan di lokasi: seorang demonstran duduk sendirian di tengah jalan, di belakangnya berkumpul banyak massa, sementara di depannya berdiri puluhan aparat keamanan bermotor yang tertahan oleh satu orang tersebut.

Video ini dengan cepat menyebar di internet, dan banyak netizen mengaitkannya dengan peristiwa “Tank Man” pada tragedi Tiananmen 4 Juni 1989, ketika seseorang menghadang tank dengan tubuhnya.

Menurut media Iran dan organisasi hak asasi manusia, setidaknya tujuh orang telah tewas sejauh ini.

Dalam beberapa dekade terakhir, Iran telah berulang kali mengalami gejolak besar. Pemerintah biasanya merespons dengan langkah-langkah keamanan yang keras dan penangkapan massal untuk menekan protes, serta menyalahkan Amerika Serikat—dan kali ini pun tidak berbeda.

Namun, untuk meredakan ketegangan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 1 Januari secara langka mengakui bahwa kelalaian pemerintah merupakan akar penyebab krisis Iran saat ini.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian berkata: “Ketidakpuasan rakyat adalah kesalahan kami, kesalahan kalian. Jangan terus menyalahkan Amerika; dan jangan pula melempar tanggung jawab kepada pihak lain yang tidak jelas.”

Kali ini, otoritas Teheran secara tidak biasa menyatakan akan membangun “mekanisme dialog” dengan para pemimpin aksi protes.

Pada 2 Januari dini hari, Presiden AS Donald Trump kembali mengunggah peringatan di media sosial, memperingatkan otoritas Iran agar tidak membunuh demonstran damai, dan menyatakan bahwa Washington “siap turun tangan”.

Dalam unggahannya tertulis: “Jika Iran, seperti biasanya, menembaki dan secara brutal membunuh demonstran damai, Amerika Serikat akan datang untuk menyelamatkan. Kami sepenuhnya siap dan dapat bertindak kapan saja.”

Ini merupakan aksi protes rakyat terbesar di Iran sejak tahun 2022. Saat itu, seorang perempuan berusia 22 tahun, Mahsa Amini, ditangkap oleh polisi moral Iran karena dianggap tidak mengenakan jilbab dengan benar, dan kemudian meninggal dalam tahanan, memicu gelombang demonstrasi nasional.

Protes kali ini juga mendapat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat. Pelaku usaha ritel, klinik, dealer mobil, kafe, dan restoran menyatakan melalui media sosial bahwa mereka akan menutup usaha sebagai bentuk solidaritas.

Aksi protes besar yang dipicu oleh runtuhnya nilai mata uang ini dengan cepat meluas dari persoalan ekonomi menjadi penolakan terhadap pemerintahan otoriter saat ini.

Dalam sebuah video, para demonstran secara terbuka memuji Dinasti Pahlavi Iran di masa lalu sambil meneriakkan:

“Reza Pahlavi, semoga beristirahat dengan tenang!”

Para pedagang pasar pernah memainkan peran kunci dalam Revolusi Islam 1979 yang mengantarkan kaum mullah berkuasa di Iran. Oleh karena itu, bergabungnya para pedagang pasar dalam gelombang mogok kali ini menarik perhatian luas, dan memunculkan pertanyaan apakah gejolak ini akan mengguncang fondasi rezim Iran. (Hui)

Laporan gabungan New Tang Dynasty News Weekly oleh Liang Dong dan Chen Li.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine