EtIndonesia. Dia adalah seorang pemburu muda. Sebelumnya, dia bekerja di proyek bangunan di kota. Setelah istrinya melahirkan putri mereka, Niu Niu, dia pun pulang kampung dan berhenti bekerja. Demi menyambung hidup, setiap musim senggang dari bertani, dia akan memanggul senapan berburu peninggalan ayahnya dan masuk ke hutan.
Sudah bertahun-tahun tak ada orang berburu, sehingga hewan liar di gunung cukup melimpah. Hampir setiap kali masuk hutan, dia selalu pulang dengan hasil. Paling tidak, dia masih bisa membawa pulang seekor ayam hutan.
Suatu hari, tanpa sadar dia melangkah semakin jauh hingga ke pedalaman gunung. Saat sedang mengamati sekeliling, tiba-tiba dia melihat semak-semak di dekat tebing bergoyang tanpa henti, disertai suara “ciit-ciit” yang sangat pelan. Dia terkejut sekaligus gembira. Dengan senapan terangkat sejajar dada, dia melangkah perlahan mendekat.
Ketika sudah berdiri di atas batu, dia baru melihat dengan jelas: ternyata ada dua anak serigala—tampaknya baru berusia sekitar satu bulan. Tanpa ragu, dia membidik dua anak serigala yang sedang bermain itu dan menarik pelatuk. Karena peluru yang digunakan adalah butiran besi, satu tembakan itu langsung menjatuhkan kedua anak serigala tersebut.
Malam itu, tepat tengah malam, seekor serigala dewasa datang. Dia mengelilingi rumah sambil melolong panjang dan pilu. Mengintip dari celah pintu, dia melihat bahwa itu adalah seekor serigala betina. Dia segera mengerti—itulah induk dari dua anak serigala yang dia bunuh, datang untuk menuntut balas.
Dia menambah palang kayu di pintu, mengisi senapan dengan peluru, lalu berjaga kaku di dekat jendela. Istrinya, sambil menggendong Niu Niu yang menangis keras, mondar-mandir di dalam rumah. Hingga menjelang fajar, serigala betina itu baru pergi sambil terus melolong lirih.
Istrinya mengusap mata yang memerah dan berkata dengan cemas: “Bagaimana ini? Serigala itu sangat pendendam. Dia pasti akan datang lagi.”
Dia mengangguk pelan : “Aku harus masuk hutan lagi dan membunuh serigala betina itu.”
Keesokan harinya, dia kembali memanggul senapan dan masuk ke gunung. Selama beberapa hari berturut-turut, dia tak menemukan jejak sang serigala. Namun setiap malam, serigala betina itu selalu datang ke depan rumahnya dan melolong. Dia beberapa kali mencoba menembaknya, tetapi tembakannya selalu meleset.
Pada suatu malam, akhirnya dia berhasil melukai kaki serigala itu. Serigala betina tersebut tertatih-tatih melarikan diri. Sejak saat itu, dia tak pernah datang lagi ke rumah. Namun si pemburu tetap tidak berhenti mencarinya. Dia tahu betul, sifat serigala kejam dan tidak akan berhenti begitu saja.
Musim panen tiba. Dia tak lagi masuk hutan. Suatu hari, setelah istrinya menyusui Niu Niu hingga tertidur, dia pun pergi ke ladang menemani suaminya memanen jagung. Belum setengah jam berlalu, seorang tetangga berlari tergopoh-gopoh memberi kabar mengerikan:
Niu Niu telah dibawa pergi oleh serigala pincang itu!
Berita itu bagai petir di siang bolong. Mereka berdua terpaku, seakan kehilangan kesadaran. Butuh waktu lama sebelum dia tersadar, lalu berlari pulang dengan langkah terhuyung.
Niu Niu sudah tidak ada di atas ranjang. Rumah dipenuhi warga desa yang datang setelah mendengar kabar itu. Dia memeriksa lantai dengan saksama—tak ada bercak darah. Hatinya sedikit lega. Namun ketika teringat bahwa Niu Niu dibawa oleh serigala betina pincang itu, harapan kembali mencekik dadanya.
Dia memanggul senapan, mengajak belasan warga desa, lalu masuk ke gunung. Mereka menyusuri bukit demi bukit, lembah demi lembah, punggung gunung, dan aliran sungai, hingga hari gelap. Namun tak satu pun menemukan jejak serigala pincang atau Niu Niu.
Pulang ke rumah, dia melihat istrinya menangis hingga suaranya serak. Dia menelan sepotong mantou keras, meneguk setengah mangkuk air, lalu kembali mengajak beberapa kerabat masuk ke hutan.
“Sekalipun Niu Niu sudah dibunuh oleh serigala itu, aku tetap harus menemukannya dan membunuhnya!”
Namun hingga fajar menyingsing, mereka tetap tidak menemukan apa-apa.
Hari itu, dia sendirian naik ke gunung. Di bawah sebuah batu besar yang tersembunyi, dia melihat serigala betina pincang itu terbaring membelakanginya, seolah sedang tidur. Detak jantungnya yang berdebar hebat, dia mengendap-endap mendekat, membidik, lalu menarik pelatuk.
Butiran besi menyebar seperti kipas. Serigala betina itu roboh tanpa sempat mengerang.
Namun pada saat yang sama, dia terpaku membatu.
Di samping serigala betina itu, terbaring Niu Niu. Tubuh kecilnya masih hangat—dan dia juga tertembak mati.
Dia berdiri kaku lama sekali. Lalu tiba-tiba dia menjerit keras, mengangkat senapannya, dan menghantamkannya dengan penuh amarah ke jurang di bawah tebing.(jhn/yn)


