EtIndonesia. Sebuah kota kecil di Eropa kembali menjadi ramai. Di sana sedang berlangsung lomba e-bike tahunan, dan para pembalap terbaik dari seluruh dunia berdatangan ke kota itu.
Banyak peserta datang dua hingga tiga minggu lebih awal untuk berlatih, agar terbiasa dengan kondisi geografis dan lintasan setempat.
Di antara para pembalap hebat itu, terdapat tiga pemuda keturunan Tionghoa dengan keyakinan hidup yang berbeda-beda.
Pemuda pertama percaya pada takdir.
Suatu kali, dalam sebuah perlombaan, dia pernah terpeleset dan terjatuh. Seberapa keras pun dia berjuang setelah itu, dia tetap gagal. Sejak saat itu, setiap kali dalam perlombaan dia terjatuh, dia langsung mengundurkan diri, karena dia yakin kegagalan tersebut sudah ditentukan oleh nasib dan tidak mungkin diubah. Dia menyerahkan sepenuhnya hasil lomba pada “takdir” yang tak terlihat.
Pemuda kedua sejak kecil mengikuti orangtuanya memuja “Guan Gong” dari Zaman Tiga Kerajaan.
Setiap menjelang lomba, dia pasti bersama orangtuanya pergi ke sebuah kelenteng di Chinatown terdekat untuk membakar dupa dan menanyakan “hasil” kepada penjaga kuil. Jika penjaga kuil mengizinkannya ikut lomba, barulah dia merasa percaya diri untuk bertanding; jika tidak, dia akan memilih mundur. Untuk perlombaan kali ini, orangtuanya telah pergi lebih dulu ke kelenteng. Dewa Guan diyakini mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa putra mereka pasti akan menjadi juara dan mendapat pertolongan ilahi.
Pemuda ketiga adalah peserta baru yang pertama kali mengikuti lomba ini.
Tujuannya pun sama: merebut juara pertama demi hadiah 100.000 dolar AS, agar dia bisa membawa ibunya yang sakit parah berobat ke luar negeri. Dia berlatih dengan sangat tekun setiap hari.
Terjatuh—dia bangkit lagi. Sambil menahan rasa sakit, dia terus menyemangati diri sendiri: “Aku harus menjadi juara!”
Dia menempatkan kemenangan lomba ini sepenuhnya di tangannya sendiri.
Tak lama kemudian, perlombaan pun dimulai.
Begitu pistol tanda start ditembakkan, ratusan pembalap melesat ke depan.
Sekarang, mari kita fokus pada ketiga pemuda tersebut.
Tak lama setelah lomba dimulai, pemuda pertama terpeleset karena jalan licin. Dia mendorong sepedanya ke pinggir lintasan dan dengan pasrah melihat para pesaing melaju melewatinya.
“Ah, ini sudah kehendak-Nya. Apa lagi yang bisa kulakukan?” katanya putus asa.
Pemuda kedua, karena merasa mendapat “pertolongan dewa”, memacu sepedanya sekuat tenaga. Namun tiba-tiba, di sebuah tikungan, dia lengah dan mengalami kecelakaan hebat—orang dan sepeda terpelanting, dia pun pingsan.
Ketika orangtuanya melihat kejadian itu di televisi, mereka sangat marah dan segera mendatangi kelenteng untuk menuntut penjaga kuil. Penjaga itu sedang tidur siang dan terbangun karena keributan.
“Dewa Guan! Bukankah engkau mengatakan akan melindungi anak kami dan menjamin dia menjadi juara? Lihat sekarang, dia malah celaka. Di mana perlindunganmu?”
Dengan mata setengah terpejam, “Dewa Guan” menjawab: “Aku sudah berusaha menolongnya. Saat dia hampir jatuh, aku pun bergegas membantunya. Tapi dia mengendarai sepeda listrik, sedangkan aku menunggang kuda tua—bagaimana mungkin aku bisa mengejarnya?”
Sementara itu, pemuda ketiga juga melaju dengan segenap tenaga.
Setiap kali terjatuh, dia segera bangkit, menahan rasa sakit, lalu terus melaju. Debu beterbangan, matahari membakar, tetapi semua itu tak mampu memadamkan api semangat di dalam hatinya. Karena dia menempatkan hasil perlombaan sepenuhnya di tangannya sendiri, akhirnya—dia berhasil meraih juara pertama.
Hikmah cerita:
Banyak orang mengaitkan keberhasilan dan kegagalan dengan takdir.
Berhasil—dianggap karena restu dewa.
Gagal—dianggap sudah ditentukan nasib.
Namun orang-orang yang benar-benar memiliki sikap hidup positif memahami satu hal: daripada menggantungkan diri pada kekuatan lain, lebih baik mengandalkan diri sendiri, karena hanya diri sendirilah yang mampu menentukan dan mengendalikan nasibnya sendiri.


