Rasa Sakit dan Kehidupan

EtIndonesia. Aku mengenal seorang wanita yang nyaris mengalami seluruh kemalangan yang mungkin dialami seorang wanita biasa. 

Sejak kecil, orangtuanya meninggal dunia satu per satu karena sakit. Setelah bersusah payah mendapatkan pekerjaan, dia justru dipaksa keluar dari pabrik karena menolak dijodohkan sebagai menantu seorang pejabat di tempat kerjanya. Dia kemudian menikah dengan seorang tentara, namun mertuanya sangat kejam dan menindas. Setelah sang mertua meninggal, suaminya malah meninggalkannya karena berselingkuh.

Kini, dia hidup berdua dengan putrinya. Kehidupan mereka tampak sederhana dan tenang, seolah badai-badai masa lalu telah reda.

Suatu hari yang cerah, aku berkunjung ke rumahnya. Putrinya bermain di samping kami. Kami berbincang santai sambil sesekali mengajak si kecil bercanda. Tanpa terasa, pembicaraan menyentuh masa lalu. Aku mengagumi ketegaran dan ketenangannya setelah melewati begitu banyak cobaan. Dia tersenyum, lalu menceritakan sebuah kisah kepadaku.

Dua orang penjahit tua pergi berburu ke Afrika. Di tengah perjalanan, mereka berhadapan dengan seekor singa. Salah satu penjahit diserang dan terluka, sementara yang lain selamat.

Penjahit yang tidak terluka bertanya: “Apakah sakit?”

Penjahit yang terluka menjawab: “Ketika aku tersenyum, barulah aku merasa sakit.”

Tiba-tiba, putrinya berseru: “Ibu, jariku terluka!”

Dia mengangkat jarinya untuk kami lihat. Ternyata jarinya tergores potongan besi, sedikit berdarah.

“Apakah sakit?” tanyaku.

“Sakit,” jawab si kecil.

“Bohong,” sang ibu tersenyum. “Kalau kamu tidak menggerakkannya, sebenarnya tidak terlalu sakit, bukan?”

“Lalu apakah aku harus terus tidak menggerakkannya?” tanya anak itu polos.

“Tentu tidak,” jawab sang ibu lembut. “Justru ketika digerakkan, darah bisa mengalir. Dengan begitu, luka lama akan lebih cepat berlalu dan tubuhmu bisa segera pulih.”

Anak itu tersenyum dan kembali bermain dengan patuh.

“Itulah caraku menjalani hidup,” kata wanita itu sambil menatapku. “Aku telah digigit singa berkali-kali. Namun prinsip hidup manusia adalah ini: menahan rasa sakit, tetap bergerak. Entah tersenyum atau menangis, selama masih memiliki jiwa dan kehidupan, maka hidup tetap memiliki makna, harapan, dan kebahagiaan.”

Aku terdiam memandang wajahnya yang telah ditempa oleh begitu banyak pengalaman pahit. Wajah itu terasa seperti sebuah jendela langit yang terbuka luas—membiarkan pandangan menembus jauh melampaui penderitaan.

Renungan / Hikmah Cerita

Tragedi di dunia ini hadir dalam berbagai bentuk dan rupa. Tak ada satu pun yang jauh dari air mata. Namun hanya mereka yang kuatlah yang mampu menanggapinya dengan senyuman.

Sesungguhnya, tragedi pun akan menjadi masa lalu—ketika orang yang kuat memilih untuk menatapnya dengan senyum dan terus melangkah maju.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine