EtIndonesia. Seorang lulusan doktor ditempatkan di sebuah lembaga penelitian. Di sana, dia menjadi orang dengan tingkat pendidikan tertinggi.
Suatu hari, dia pergi memancing di kolam kecil di belakang kantor. Kebetulan, kepala lembaga dan wakil kepala lembaga juga sedang memancing di sisi kiri dan kanannya.
Dia hanya mengangguk singkat.
Dua orang sarjana saja, apa yang perlu dibicarakan? pikirnya.
Tak lama kemudian, kepala lembaga meletakkan pancingnya, meregangkan badan, lalu plak-plak-plak berjalan cepat di atas permukaan air menuju seberang kolam untuk ke toilet.
Mata sang doktor hampir terbelalak keluar.
Berjalan di atas air? Tidak mungkin! Ini kolam, bukan jalan!
Setelah selesai, kepala lembaga kembali dengan cara yang sama—melangkah ringan di atas permukaan air.
Ada apa ini?
Namun sang doktor merasa sungkan untuk bertanya. Bagaimanapun, dia bergelar doktor!
Beberapa saat kemudian, wakil kepala lembaga juga berdiri, melangkah beberapa kali, dan plak-plak-plak melayang di atas air menuju toilet. Kali ini, sang doktor hampir pingsan.
Jangan-jangan aku masuk ke tempat berkumpulnya para pendekar sakti?
Tak lama, sang doktor sendiri merasa ingin buang air kecil. Di kedua sisi kolam terdapat tembok. Untuk ke toilet di seberang, dia harus memutar jalan sekitar sepuluh menit, sedangkan kembali ke kantor terlalu jauh.
Apa yang harus dilakukan?
Dia tetap enggan bertanya pada kedua pimpinan itu. Setelah menahan cukup lama, dia pun berdiri dan melangkah ke air sambil berpikir: “Tidak mungkin sarjana bisa berjalan di atas air sementara aku, seorang doktor, tidak bisa.”
“Byur!”
Dia pun tercebur ke dalam kolam.
Kedua pimpinan itu segera menolongnya keluar dan bertanya mengapa dia nekat masuk ke air.
Sang doktor dengan heran balik bertanya: “Kenapa kalian bisa berjalan menyeberang?”
Keduanya saling berpandangan lalu tersenyum :“Di dalam kolam ini ada dua baris tiang kayu. Karena hujan beberapa hari terakhir, air naik dan menutupi tiang-tiang itu tepat di bawah permukaan air. Kami tahu posisi tiang-tiang tersebut, jadi bisa melangkah di atasnya. Kenapa kamu tidak bertanya terlebih dahulu?”
Renungan / Hikmah Cerita
Pendidikan formal hanya mewakili masa lalu, sedangkan kemampuan belajar menentukan masa depan. Orang yang menghargai pengalaman akan terhindar dari banyak kesalahan yang tidak perlu.
Begitu pula sebuah tim yang baik—bukan sekadar tim yang pintar, melainkan tim yang mau terus belajar dan saling berbagi pengetahuan.(jhn/yn)


