Kesuksesan Adalah Melakukan Hal Sederhana Secara Berulang

EtIndonesia. Seorang maestro penjualan yang sangat terkenal akan segera mengakhiri karier panjangnya di dunia pemasaran. Atas undangan asosiasi industri dan berbagai kalangan masyarakat, dia dijadwalkan menyampaikan pidato perpisahan kariernya di stadion terbesar di kota tersebut.

Hari itu, gedung dipenuhi penonton hingga tidak ada satu kursi pun yang tersisa. Semua orang menunggu dengan penuh antusias dan rasa penasaran—menantikan pidato dari salah satu tenaga penjualan terbesar di zaman ini.

Ketika tirai perlahan dibuka, tampak di tengah panggung sebuah bola besi raksasa yang digantung. Demi menopang bola besi itu, dibangunlah rangka besi yang tinggi dan kokoh.

Di tengah tepuk tangan meriah, seorang pria tua berjalan keluar ke panggung. Dia berdiri di sisi rangka besi, mengenakan pakaian olahraga berwarna merah dan sepatu kanvas putih.

Para penonton memandangnya dengan heran. Tak seorang pun tahu apa yang akan dia lakukan.

Tak lama kemudian, dua orang staf membawa sebuah palu besi besar dan meletakkannya di depan pria tua itu. 

Pembawa acara lalu berkata kepada penonton: “Silakan dua orang yang bertubuh kuat naik ke atas panggung.”

Banyak anak muda langsung berdiri. Dalam sekejap, dua orang tercepat sudah berada di atas panggung.

Pria tua itu lalu menjelaskan aturan singkat kepada mereka: mereka diminta menggunakan palu besar tersebut untuk memukul bola besi yang tergantung, sampai bola itu bisa berayun.

Seorang pemuda segera mengambil palu besar itu. Dia mengambil ancang-ancang, mengangkat palu dengan seluruh tenaga, lalu menghantam bola besi tersebut sekuat mungkin.

“Braaak!”

Suara benturan terdengar sangat keras, tetapi bola besi itu sama sekali tidak bergerak. Pemuda itu terus memukul—bertubi-tubi—hingga akhirnya terengah-engah kelelahan.

Pemuda kedua pun tidak mau kalah. Dia mengambil palu besar itu dan memukul bola besi hingga berbunyi nyaring berkali-kali. Namun hasilnya sama: bola besi tetap tak bergeming.

Sorak-sorai penonton perlahan mereda. Orang-orang mulai yakin bahwa usaha itu sia-sia. Mereka menunggu penjelasan dari pria tua itu.

Suasana stadion kembali tenang.

Saat itulah pria tua itu mengeluarkan sebuah palu kecil dari saku jasnya. Dengan sangat serius, dia menghadap bola besi raksasa itu, lalu memukulnya pelan: “Ting.”

Dia berhenti sejenak.

Lalu memukul lagi: “Ting.”

Ia terus melakukan hal yang sama—satu pukulan kecil, lalu berhenti sejenak—berulang-ulang.

Sepuluh menit berlalu.

Dua puluh menit berlalu.

Stadion mulai gaduh. Penonton meluapkan ketidaksabaran mereka dengan teriakan, gerakan, bahkan ada yang mulai mencaci. Namun pria tua itu tetap bekerja dengan ritmenya sendiri—satu ketukan kecil, lalu berhenti. Seolah-olah dia sama sekali tidak mendengar keributan di sekitarnya.

Sebagian penonton mulai meninggalkan stadion dengan kesal. Kursi-kursi kosong pun bermunculan. Mereka yang tersisa pun akhirnya kelelahan berteriak, dan suasana perlahan menjadi hening kembali.

Sekitar menit keempat puluh, seorang perempuan yang duduk di barisan depan tiba-tiba berteriak: “Bola itu bergerak!”

Sekejap, seluruh stadion terdiam. Semua mata tertuju pada bola besi itu. Benar saja—bola tersebut mulai berayun, sangat kecil, nyaris tak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama.

Pria tua itu tetap memukul dengan palu kecilnya—satu demi satu. Kini semua orang seakan bisa mendengar jelas bunyi ketukan kecil itu.

Sedikit demi sedikit, ayunan bola besi semakin besar, semakin tinggi. Kekuatan dahsyat dari bola raksasa yang bergerak itu mengguncang batin setiap orang yang hadir.

Akhirnya, stadion pun meledak oleh tepuk tangan yang gemuruh.

Di tengah tepuk tangan itu, pria tua berbalik badan, perlahan memasukkan palu kecil tersebut kembali ke dalam sakunya.

Lalu dia berbicara—hanya satu kalimat: “Jika di jalan menuju kesuksesan kamu tidak sabar menunggu keberhasilan datang, maka seumur hidupmu kamu harus bersabar menghadapi kegagalan.”

Hikmah cerita

Kesuksesan sejati lahir dari proses: mengulang — mencipta — meningkatkan — mengulang kembali — mencipta lagi — lalu terus mengulang.

Hal-hal besar tidak selalu tercipta dari tindakan besar. Sering kali, justru ketekunan melakukan hal sederhana secara konsisten yang pada akhirnya mengguncang dunia.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine