Aksi protes warga Iran masih terus berlangsung, sementara tindakan penindasan semakin meningkat dan telah menyebabkan banyak demonstran tewas. Seorang tentara Iran mengunggah sebuah video di media sosial yang ditujukan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dengan mengatakan: “Tentara dan rakyat berharap Anda datang untuk menyelamatkan kami.”
EtIndonesia. Sebuah video yang beredar di platform X memperlihatkan seorang tentara Iran berseragam militer dan mengenakan ban lengan, berbicara langsung ke kamera dan menyampaikan pesan kepada Presiden AS Donald Trump:
“Kami—anggota militer dan seluruh rakyat Iran—berharap Anda dapat datang menyelamatkan kami, membebaskan kami dari rezim tirani ini, agar kami dapat membangun kembali Iran. Seperti yang Anda katakan tentang Amerika, kami juga ingin berkata: ‘Make Iran Great Again!’”
Di akhir video, tentara tersebut terlihat mencium foto Trump.
Sejumlah warganet berkomentar: “Sebagian besar tentara dan rakyat Iran telah sadar. Kediktatoran jahat akan segera dihancurkan! Kami percaya Presiden Trump akan dicintai oleh rakyat dunia! Semangat!”
令人难以置信:一名身着制服、佩戴官方臂章的伊朗🇮🇷士兵向美国🇺🇸特朗普总统发出信息:
— 文北 (@wenbei2022) January 11, 2026
“我们,军队成员和全体伊朗人民,都希望您能来拯救我们,将我们从这个暴政政权中解放出来,这样我们才能重建伊朗。就像您谈到美国一样,我们也想说:‘让伊朗再次伟大!’”
演讲结束时,这名士兵亲吻了特朗普的照片 https://t.co/x8JxUkkRzK pic.twitter.com/8SL6h8AYyP
Sejak pecahnya aksi protes nasional menentang pemerintahan diktator di Iran, tidak sedikit tentara dan polisi yang memilih mendukung para demonstran dan bergabung dalam perlawanan. Namun belakangan ini, rezim Iran memutus jaringan internet dan mulai melakukan penindasan brutal terhadap para pengunjuk rasa.
Sebuah video menunjukkan bahwa pada malam tanggal 10 Januari, di kota Mashhad—kota terbesar kedua di Iran—seorang demonstran merekam momen ketika militer Iran menembaki para pengunjuk rasa.
Dalam video tersebut terdengar suara tembakan tanpa henti, sementara sekelompok demonstran berlarian menyelamatkan diri. Pria yang merekam video itu berteriak dalam bahasa Inggris kepada dunia: “Lihat, mereka menembaki kami! Mereka menembaki kami! Tolong bantu kami!”
在伊朗第二大城市马赫萨德,一名反政府示威者拍摄到政权部队枪击示威者的画面。
— Inty News (@__Inty__) January 11, 2026
他用英语向全世界呐喊:“看,他们在向我们开枪!他们在向我们开枪!请帮帮我们”pic.twitter.com/5pKf9M4dap
Banyak warganet menanggapi:
“Peristiwa Tiananmen versi Iran telah dimulai. Amerika dan Israel, sudah saatnya kalian menghunus pedang keadilan.”
“Tragedi Tiananmen sedang terjadi di negara lain.”
Sekitar 10 Januari pukul 01.00 dini hari , menanggapi situasi Iran yang semakin memanas, Trump menulis di media sosial: “Iran sedang menunjukkan kerinduan akan ‘kebebasan’—mungkin yang belum pernah terlihat sebelumnya. Amerika Serikat siap memberikan bantuan kapan saja!!!”
Sebelumnya, Presiden Trump juga telah mengeluarkan peringatan tegas dari Gedung Putih, menekankan bahwa AS memantau situasi dengan sangat cermat:
“Jika mereka (rezim Iran) mulai membunuh rakyatnya, kami akan bertindak. Ini tidak berarti kami akan mengirim pasukan, tetapi kami akan menghantam titik vital mereka dengan keras.”
Video lain yang beredar di internet menunjukkan bahwa pada malam 9 Januari, jalan-jalan kota Amol di Iran dipenuhi massa yang marah. Para demonstran menyalakan api unggun di tengah malam, dan seluruh kota menggema dengan teriakan “Matilah diktator!”. Gas air mata dari aparat keamanan pun gagal membubarkan kerumunan besar tersebut.
Pada malam 10 Januari, slogan anti-pemerintah kembali menggema di jalan-jalan Teheran, sementara pihak berwenang melakukan penindasan mematikan terhadap para demonstran.
ALL EYES ON IRAN 🦁 pic.twitter.com/eBWlkgSE1S
— Nima Yamini (@NimaYamini) January 11, 2026
Lembaga Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat menyatakan bahwa aksi protes ini telah menyebabkan setidaknya 72 orang tewas, dan lebih dari 2.300 orang ditahan.
Selain itu, staf dari tiga rumah sakit di Iran mengatakan kepada BBC bahwa penindasan brutal oleh pemerintah membuat rumah sakit dipenuhi korban luka dan korban tewas.
Seorang tenaga medis di sebuah rumah sakit di Teheran mengatakan: “Kepala dan jantung anak-anak muda ditembak secara langsung.”
Dokter lain menyebutkan bahwa sebuah rumah sakit mata di Teheran telah memasuki mode krisis.
Sebagian besar korban luka berusia 20 hingga 25 tahun. Ada yang tertembak di mata, ada yang peluru menembus bagian belakang kepala, dan ada pula yang tertembak di kepala sekaligus di jantung. Beberapa korban bahkan meninggal sebelum sempat dibawa ke rumah sakit. Di kamar jenazah, mayat ditumpuk satu di atas yang lain, bahkan dipindahkan ke ruang doa untuk disimpan.
Saat ini, pemerintah Iran telah memutus akses internet. Sebagian warga mencoba mempertahankan komunikasi yang sangat terbatas dengan dunia luar melalui terminal Starlink milik Elon Musk. (Hui)
HuiLaporan gabungan oleh reporter Luo Tingting / Editor Hui)


