Kisah Membagi Apel

EtIndonesia. Pendidikan paling awal yang diterima seseorang dalam hidup berasal dari keluarga—terutama dari ibu, melalui pendidikan yang dia berikan sejak masa kanak-kanak.

Seorang psikolog terkenal di Amerika pernah melakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana pengaruh ibu terhadap kehidupan seseorang. Dia memilih 50 orang sukses dari berbagai bidang yang telah mencapai prestasi luar biasa, dan 50 orang lain yang memiliki catatan kriminal. 

Kepada mereka semua, dia mengirimkan surat dengan satu pertanyaan sederhana: bagaimana pengaruh ibu mereka dalam hidup mereka?

Dari semua balasan yang diterima, ada dua surat yang paling membekas di benaknya. Satu surat berasal dari seorang tokoh terkenal di Gedung Putih, dan satu lagi dari seorang narapidana di penjara. Yang mengejutkan, keduanya menceritakan pengalaman yang sama: kenangan masa kecil tentang ibu yang membagi apel.

Surat dari Penjara

Seorang narapidana menulis begini:

“Saat kecil, suatu hari ibu membawa beberapa apel—merah dan hijau, besar dan kecil. Seketika itu juga, mataku tertuju pada sebuah apel di tengah: besar dan merah. Aku sangat menyukainya dan benar-benar ingin memilikinya.”

Ibu meletakkan apel-apel itu di atas meja dan bertanya kepada aku dan adikku : “Apel yang mana yang ingin kalian ambil?”

Aku hampir saja mengatakan ingin apel terbesar dan paling merah itu, tetapi adikku lebih dulu mengatakannya.

Ibu mendengarnya, lalu melotot ke arah adikku dan menegurnya:  “Anak harus belajar mengalah dan berbagi hal baik dengan orang lain. Tidak boleh selalu memikirkan diri sendiri.”

Mendengar itu, aku segera berpikir cepat dan berkata : “Ibu, aku ingin yang paling kecil saja. Yang besar biar adik yang ambil.”

Ibu sangat senang. Dia mencium pipiku dan memberikan apel terbesar dan paling merah itu kepadaku.

“Aku mendapatkan apa yang kuinginkan. Sejak saat itu, aku belajar berbohong.”

Selanjutnya, aku belajar berkelahi, mencuri, merampas—melakukan apa pun demi mendapatkan apa yang kuinginkan.

Hingga akhirnya, aku dikirim ke penjara.

Surat dari Gedung Putih

Tokoh terkenal dari Gedung Putih menulis kisahnya seperti ini: “Saat kecil, suatu hari ibu membawa beberapa apel—merah dan hijau, besar dan kecil. Aku dan saudara-saudaraku berebut ingin mengambil yang paling besar.”

Ibu mengangkat apel terbesar dan paling merah, lalu berkata kepada kami : “Apel ini paling besar, paling merah, dan pasti paling enak. Semua orang pasti ingin memilikinya.”

“Baik,sekarang kita adakan lomba. Ibu akan membagi halaman rumput di depan rumah menjadi tiga bagian. Kalian masing-masing bertanggung jawab atas satu bagian. Siapa yang membersihkan paling cepat dan paling rapi, dialah yang berhak mendapatkan apel ini, “lanjutnya.

Kami bertiga pun berlomba mencabut rumput. Akhirnya, aku menang dan mendapatkan apel terbesar itu.

“Aku sangat berterima kasih kepada ibuku. Ia mengajarkanku satu prinsip paling sederhana namun paling penting: jika ingin mendapatkan yang terbaik, kita harus berusaha dan berani menjadi yang terdepan.”

Sejak kecil, ibu selalu mendidik kami dengan cara seperti itu. Di rumah kami, siapa pun yang menginginkan sesuatu yang baik harus memperolehnya lewat usaha yang adil. Kamu ingin apa, dan ingin sebanyak apa—kamu harus membayar dengan usaha dan kerja keras yang sepadan.

Renungan

Tangan yang mengayun buaian, adalah tangan yang menggerakkan dunia.

Ibu adalah guru pertama bagi seorang anak. Ia bisa mengajarkan anaknya berbohong dengan satu peristiwa kecil, atau mengajarkan anaknya menjadi pribadi yang jujur, berusaha keras, dan pantang menyerah.

Jika kamu seorang anak, ceritakan kisah ini kepada ibumu. Jika kamu seorang ibu…

Catatan Reflektif

Apa itu pendidikan?

Ibu yang kedua benar-benar memahami arti pendidikan. Peristiwa yang sama—membagi apel—melahirkan hasil yang sama sekali berbeda.

Ibu pertama menumbuhkan anak yang belajar berbohong dan menipu. Ibu kedua menumbuhkan anak yang memahami bahwa hasil hanya datang dari usaha.

Mendidik anak tidak cukup dengan kata-kata. Pendidikan sejati adalah memberi teladan dan mengajak anak terlibat langsung.

Misalnya, mengajarkan anak untuk peduli pada orang lain bukan hanya dengan nasihat, tetapi dengan mengajak anak benar-benar melakukannya, agar ia merasakan sendiri maknanya.

Jika hanya pandai berbicara tanpa praktik, anak yang cerdas bisa saja hanya berpura-pura patuh—bersikap baik saat orang tua ada, lalu kembali ke kebiasaan lama saat tidak diawasi. Akhirnya, kecerdasan justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine