EtIndonesia. Bertahun-tahun yang lalu, aku pernah mengenal seorang pria tua yang membuka sebuah kedai makanan kecil di pinggir jalan raya.
Saat itu, kondisi ekonomi sedang sangat lesu.
Orangtua ini sebenarnya bisa dibilang “beruntung”. Penglihatannya sudah tidak begitu baik, dan pendengarannya pun hampir tuli.
Aku menyebutnya beruntung karena penglihatannya yang buruk membuatnya tidak bisa membaca koran atau buku.
Pendengarannya yang kurang baik juga membuatnya jarang berbincang-bincang dengan teman-temannya. Akibatnya, dia tidak terlalu mengetahui apa yang sedang terjadi di luar sana.
Karena dia tidak tahu seberapa parah kondisi ekonomi sedang memburuk, dia tetap bekerja seperti biasa, dengan penuh semangat.
Dia mengecat tampilan tokonya dengan rapi dan menarik, memasang papan reklame di pinggir jalan sehingga orang-orang bisa mencium aroma makanannya dari kejauhan dan berhenti untuk mampir. Makanan yang dia jual bermutu baik, harganya terjangkau, rasanya pun lezat—bahkan orang yang hampir tak punya uang sekalipun tak tahan untuk berhenti dan makan sedikit di kedainya.
Pria tua itu bekerja dengan sangat rajin. Dari hasil jerih payahnya, dia menyekolahkan anaknya hingga masuk universitas.
Anaknya memilih jurusan ekonomi, dan dia sangat memahami betapa buruknya kondisi perekonomian Amerika saat itu.
Ketika liburan Natal tiba, sang anak pulang ke rumah.
Melihat usaha ayahnya masih sangat ramai, dia berkata : “Ayah, ada yang tidak beres di sini.”
“Seharusnya Ayah tidak mendapatkan bisnis sebagus ini. Ayah terlihat begitu bersemangat, seolah-olah di luar sana tidak sedang terjadi krisis ekonomi.”
Lalu, sang anak menjelaskan dengan panjang lebar tentang penyebab dan dampak resesi ekonomi, serta mengatakan bahwa seluruh Amerika sedang mati-matian berhemat dan mengencangkan ikat pinggang.
Sejak saat itu, sang ayah mulai terpengaruh oleh pemikiran yang negatif.
Dia berkata dalam hati: “Kalau begitu, tahun ini aku sebaiknya tidak perlu mengecat toko lagi.”
“Ekonomi sedang kacau, lebih baik aku menghemat sedikit uang.”
“Potongan daging dalam sandwich seharusnya diperkecil.”
“Lagipula, kalau semua orang tidak punya uang, untuk apa aku memasang papan reklame di jalan?”
Akhirnya, dia menghentikan semua upaya positif yang selama ini dia lakukan.
Apa hasilnya?
Benar saja, bisnisnya langsung merosot tajam.
Ketika sang anak pulang lagi saat liburan Paskah, ayahnya berkata: “Anakku, aku harus berterima kasih padamu karena sudah memberitahuku tentang krisis ekonomi. Ternyata itu benar-benar nyata. Bahkan kedai kecilku pun ikut merasakannya. Nak, pendidikan universitas memang luar biasa bermanfaat. Para ahli benar-benar pantas disebut ahli!” (jhn/yn)


