Jejak Ciuman Malaikat

EtIndonesia. Ada seorang pemuda yang di wajahnya terdapat sebuah tanda lahir yang besar dan tampak sangat mencolok. Tanda berwarna ungu kemerahan itu membentang lurus di wajahnya seperti bekas sayatan pisau. Wajah yang sebenarnya tampan pun berubah terlihat menyeramkan karena tanda lahir tersebut.

Namun, kekurangan pada penampilannya sama sekali tidak mampu menutupi kepribadiannya yang ramah, humoris, dan penuh semangat hidup. Siapa pun yang pernah berinteraksi dengannya, hampir pasti akan menyukainya tanpa sadar.

Dia sering tampil dalam berbagai acara pidato. Pada awalnya, ekspresi para penonton selalu dipenuhi rasa terkejut dan sedikit ketakutan. Namun setelah dia selesai berbicara, semua orang justru tersentuh dan meyakini setiap kata yang dia sampaikan. Tepuk tangan pun bergemuruh di seluruh ruangan. 

Setiap kali menyaksikan hal itu, aku diam-diam mengagumi keberaniannya. Tanda lahir itu pasti pernah membuatnya merasa sangat rendah diri. Tidak semua orang mampu menembus penghalang psikologis sebesar itu dan tetap berbicara dengan tenang di tengah tatapan penuh keheranan dari banyak orang.

Suatu hari, seseorang akhirnya memberanikan diri mengajukan pertanyaan yang selama ini terpendam di hati:  “Bagaimana caramu menghadapi tanda lahir itu?”

Yang dimaksud sebenarnya adalah: bagaimana dia mengatasi rasa canggung dan rendah diri akibat tanda lahir tersebut.

Dia tersenyum dan menjawab, “Menghadapi? Justru aku bangga memilikinya!”

Lalu dia melanjutkan, “Sejak kecil, ayahku selalu mengatakan kepadaku: ‘Nak, sebelum kamu lahir, Ayah berdoa kepada Tuhan agar diberi seorang anak yang istimewa. Maka Tuhan memberimu bakat khusus, dan Tuhan meminta malaikat untuk memberimu sebuah tanda. Tanda di wajahmu adalah bekas ciuman malaikat. Malaikat melakukannya agar Ayah bisa langsung mengenalimu di tengah kerumunan. Saat aku melihatmu tidur bersama bayi-bayi lain di ruang bayi, aku langsung tahu—kamulah anakku.’”

Dia meneruskan kisahnya :  “Sejak kecil, setiap ada kesempatan, ayah selalu menceritakan kisah ini kepadaku. Karena itu, aku benar-benar percaya bahwa aku adalah anak yang beruntung. Bahkan, aku sempat merasa kasihan pada anak-anak lain yang wajahnya tidak memiliki ‘bekas ciuman’ berwarna merah seperti milikku. Saat itu, aku mengira tatapan heran orang-orang adalah bentuk rasa iri. Maka aku pun semakin giat dan berusaha keras, takut jika sampai menyia-nyiakan bakat istimewa yang Tuhan berikan kepadaku.

Ketika aku dewasa, aku tetap merasa ayahku tidak pernah berbohong. Setiap orang pasti menerima bakat khusus dari Tuhan, dan setiap anak selalu menjadi pribadi yang istimewa di mata ayahnya. Justru karena tanda lahir inilah aku terus berjuang, hingga bisa mencapai apa yang kucapai hari ini. Bukankah tanda itu juga bisa disebut sebagai ciuman malaikat—sebuah tanda kebahagiaan?”

Hikmah Cerita / Renungan

Ayah dari pemuda ini, tanpa diragukan lagi, adalah sosok ayah yang luar biasa dan sangat berhasil. Ia pantas menjadi teladan utama dalam pendidikan berbasis apresiasi yang kini semakin ditekankan.

Semua guru dan orangtua seharusnya belajar darinya. Dia memahami satu hal penting: sikap mental yang positif akan melahirkan kehidupan yang positif pula. Terhadap kekurangan yang kita miliki, ketika kita mampu menerimanya dengan lapang dan memandangnya dari sudut yang positif, maka sesungguhnya kitalah pemenangnya.

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine