EtIndonesia. Ketegangan politik di Iran kembali meningkat tajam setelah para aktivis oposisi dilaporkan berhasil meretas sistem satelit penyiaran nasional Iran dan untuk sementara mengambil alih siaran televisi serta radio pemerintah pada Minggu malam waktu setempat.
Peretasan Siaran Nasional: Seruan Terbuka untuk Bangkit
Menurut laporan yang beredar luas di media sosial dan dikonfirmasi oleh berbagai sumber oposisi, gangguan siaran terjadi sekitar pukul 21.30 waktu Teheran, ketika sejumlah saluran televisi dan radio nasional tiba-tiba terputus dari siaran normal.
🇮🇷 | URGENTE — Acaban de hackear todos los canales de la emisora estatal de Irán y están transmitiendo el discurso del príncipe heredero Reza Pahlavi a nivel nacional, convocando a levantarse contra el régimen.
— Agustín Antonetti (@agusantonetti) January 18, 2026
pic.twitter.com/JYX8tkjr6t
Dalam jeda siaran tersebut, pemirsa di berbagai wilayah Iran menyaksikan:
- Video protes nasional
- Slogan monarki “Javid Shah” (Hidup Raja)
- Serta pidato dari Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi
Dalam pidatonya, Reza Pahlavi secara tegas:
- Menyerukan rakyat Iran untuk bangkit melawan rezim yang ia sebut brutal
- Mendesak aparat keamanan dan militer agar berpihak kepada rakyat
- Menyatakan bahwa rezim Teheran telah kehilangan legitimasi moral dan politik
Sekitar 10 menit kemudian, siaran televisi dan radio kembali normal.
Internet Diputus, Sensor Ditembus
Peristiwa ini dinilai sangat signifikan, mengingat sejak 8 Januari 2026, pemerintah Iran telah memutus akses internet nasional sebagai bagian dari upaya menekan arus informasi dan koordinasi demonstrasi.
Tim Reza Pahlavi menyatakan bahwa:
- Rekaman pidato tersebut diambil langsung dari sistem penyiaran internal Iran
- Video berhasil didistribusikan ke seluruh negeri, meski di tengah sensor ketat
- Keberhasilan ini menunjukkan bahwa barikade informasi rezim mulai jebol
Sejumlah tokoh oposisi menyebut peretasan ini sebagai pukulan telak terhadap kendali informasi pemerintah dan simbol bahwa demonstran mulai menembus sistem pertahanan digital rezim.
Reaksi Resmi Pemerintah Iran
Pada 18 Januari 2026, kantor berita AFP melaporkan bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian menulis di platform X bahwa: “Serangan terhadap pemimpin agung negara kami sama artinya dengan deklarasi perang total terhadap bangsa Iran.”
Sementara itu, pada hari Minggu yang sama, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menyampaikan pidato nasional, menuding bahwa:
- Musuh asing berada di balik eskalasi kerusuhan
- Tujuan mereka adalah menghancurkan Republik Islam Iran dari dalam
Tekanan dari Washington: Trump Serukan Perubahan Kepemimpinan
Di sisi lain, tekanan internasional terhadap Teheran terus meningkat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya secara terbuka menyatakan bahwa Iran sudah saatnya mencari pemimpin baru.
Dalam wawancara eksklusif dengan Politico, Trump:
- Menyebut Ali Khamenei sebagai “orang sakit yang menghancurkan negaranya sendiri”
- Menunjukkan sikap permusuhan terbuka terhadap kepemimpinan Teheran
- Menandai retaknya hubungan AS–Iran ke titik paling ekstrem dalam beberapa dekade terakhir
Tuduhan Pelanggaran HAM: Korban Tewas hingga Puluhan Ribu?
Lembaga hak asasi manusia Iran mengungkapkan bahwa berdasarkan sumber internal eksklusif, jumlah korban tewas akibat penindasan demonstrasi diperkirakan mencapai:
- Sekitar 12.000 orang,
- Bahkan hingga 16.300 jiwa menurut sejumlah estimasi nonresmi.
Namun demikian, angka ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh organisasi HAM internasional, termasuk Amnesty International.
Lebih mengkhawatirkan lagi, beredar laporan bahwa:
- Pasukan keamanan Iran diduga menggunakan senjata kimia beracun
- Beberapa korban meninggal beberapa hari setelah terpapar zat kimia
- Dugaan ini masih dalam tahap investigasi dan belum dikonfirmasi secara internasional
Ancaman Hukuman Mati Kembali Menguat
Sebelumnya, pemerintah Iran sempat menunda rencana eksekusi terhadap sekitar 800 tahanan. Namun pada Minggu yang sama, juru bicara kehakiman Iran, Jahangir, menyatakan dalam konferensi pers bahwa:
- Sejumlah tindakan kini dikategorikan sebagai “permusuhan terhadap Tuhan”
- Dakwaan ini merupakan salah satu pasal terberat dalam hukum Islam Iran
- Hukuman maksimalnya adalah hukuman mati
Pengamat menilai pernyataan ini sebagai sinyal kuat bahwa eksekusi massal masih berpotensi dilanjutkan.
Pengerahan Militer AS dan Sinyal Perang
Pada hari yang sama, mantan Duta Besar AS untuk Israel, Dan Shapiro, menghebohkan publik dengan prediksi bahwa:
- Trump mungkin memerintahkan operasi “pemenggalan kepala” terhadap Khamenei dalam beberapa hari ke depan
Namun para analis memperingatkan bahwa:
- Meski Khamenei (86 tahun) disingkirkan, rezim Iran tidak serta-merta runtuh
- Justru berpotensi diambil alih sepenuhnya oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)
- Yang dapat berujung pada pemerintahan militer penuh
Sementara itu, militer AS telah mengerahkan:
- Kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln
- Kapal perusak USS Spruance dan USS Michael Murphy
- Dari Laut Tiongkok Selatan menuju Laut Arab, diperkirakan tiba pada 25 Januari 2026
Selain itu:
- 12 jet tempur F-15E Strike Eagle dari Pangkalan Udara Lakenheath (Inggris)
- Telah dikerahkan ke Yordania, didukung pesawat pengisian bahan bakar dan transportasi
Pejabat AS menegaskan bahwa langkah ini bersifat pencegahan, untuk melindungi kepentingan sekutu, terutama Israel, dan belum ada otorisasi resmi serangan.
Dua–Tiga Pekan Penentuan
Menurut laporan Axios, keputusan Trump untuk sementara menunda serangan kemungkinan dipengaruhi oleh peringatan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menilai Israel belum siap menghadapi serangan balasan Iran.
Analis Axios Mario Nawfal menyoroti bahwa kemunculan jet F-15E di situs pelacakan publik sangat jarang dan terkesan disengaja sebagai sinyal kekuatan terbuka.
Secara umum, para pengamat menilai bahwa:
- 2–3 minggu ke depan akan menjadi fase krusial
- Setelah seluruh aset militer AS siap penuh
- Trump akan dihadapkan pada keputusan strategis terbesar: menyerang Iran atau menahan diri
- Komando Pusat AS telah diminta menyiapkan dukungan operasi 24 jam selama satu bulan ke depan (***)


