Tanggung Jawab

EtIndonesia. Suatu hari, seorang manajer yang sangat rendah hati datang kepadaku untuk menyerahkan surat pengunduran diri. Aku benar-benar terkejut. Dia adalah sosok pemimpin yang sepenuhnya mengutamakan bawahannya. Bahkan dalam pembagian bonus tahunan perusahaan, dia sering menyerahkan bagiannya kepada timnya. Kehilangan dirinya akan menjadi kerugian besar bagi perusahaan. Setiap tahun, hasil penilaian kinerja menunjukkan bahwa dia sangat didukung dan dicintai oleh para bawahannya.

Aku menanyakan alasannya. Setelah berbicara berputar-putar cukup lama, dia akhirnya menyampaikan alasan pengunduran dirinya dengan sangat halus.

Dia memiliki seorang wakil yang sangat cakap. Namun dalam beberapa usulan proyek, dia pernah menyampaikan pendapat yang berbeda. Sang wakil tidak sepenuhnya sependapat, dan sejak itu dia menangkap tanda-tanda bahwa wakilnya tampak murung dan kurang bersemangat.

Jelaslah bahwa manajer ini berniat mundur karena empati. Dia tidak tega melihat wakilnya merasa terhambat dan tidak bisa berkembang. Dia ingin mengosongkan posisinya agar sang wakil memiliki ruang untuk berkarya sepenuhnya, serta agar dirinya tidak menjadi penghalang bagi orang lain.

Setelah memahami hal itu, aku memanggil sang wakil dan memberitahukan bahwa atasannya berniat mengundurkan diri. Aku juga bertanya apakah dia mengetahui alasan di balik keputusan tersebut. Dia menjawab bahwa dia tidak tahu apa-apa.

Untuk menghindari kejutan yang terlalu langsung, aku lebih dulu membagikan sebuah kisah kepadanya.

Kisah tentang Tanggung Jawab

Dikisahkan, ada sebuah kuil yang berdiri di tengah sebuah danau besar yang luas tak bertepi. Di dalam kuil itu disimpan sebuah tasbih suci yang konon pernah dikenakan oleh seorang Bodhisattva. Kuil itu hanya memiliki satu perahu kecil yang digunakan para biksu untuk keluar mencari perbekalan. Orang luar hampir mustahil mendekat, sehingga keberadaan tasbih tersebut tampak semakin aman dan berharga.

Di kuil itu tinggal seorang guru tua bersama beberapa biksu muda yang sedang menempuh jalan spiritual. Mereka berharap, di tempat yang tenang dan suci itu, dengan perlindungan tasbih Bodhisattva, mereka dapat segera mencapai pencerahan.

Suatu hari, sang guru tua mengumpulkan para biksu dan berkata: “Kalung tasbih Bodhisattva telah hilang.”

Para biksu sangat terkejut. Satu-satunya pintu kuil dijaga bergiliran selama dua puluh empat jam. Orang luar tidak mungkin masuk. Mustahil tasbih itu lenyap begitu saja. Perbincangan pun merebak, dan tanpa disadari, setiap biksu berubah dari seorang praktisi menjadi tersangka.

Guru tua menenangkan mereka. Dia berkata bahwa dia tidak mempermasalahkan hilangnya tasbih itu. Selama orang yang mengambilnya mau mengakui kesalahan dan benar-benar menghargai tasbih tersebut, dia bahkan bersedia memberikannya kepada orang itu. Dia memberi waktu tujuh hari bagi mereka untuk bermeditasi dan merenung.

Hari pertama berlalu tanpa ada yang mengaku. Hari kedua pun sama. Namun, para biksu yang sebelumnya hidup rukun kini diliputi kecurigaan. Mereka berhenti berbicara satu sama lain. Suasana menjadi menyesakkan. Hingga hari ketujuh berlalu, tetap tak seorang pun mengaku.

Akhirnya, sang guru berkata : “Aku senang karena kalian semua yakin pada kemurnian diri masing-masing. Ini menunjukkan bahwa keteguhan batin kalian cukup kuat, dan tasbih itu tidak mampu menggoda siapa pun. Besok pagi, kalian boleh meninggalkan tempat ini. Perjalanan latihan kalian di sini telah selesai.”

Keesokan paginya, demi membuktikan bahwa mereka tidak bersalah, para biksu segera mengemas barang-barang mereka dan bersiap naik perahu untuk pergi. Hanya satu orang yang tersisa—seorang biksu buta—yang tetap duduk di depan altar Bodhisattva sambil melafalkan doa.

Para biksu lain menghela napas lega. Dalam hati mereka berpikir, akhirnya ada juga orang yang mengakui perbuatannya, sehingga semua tuduhan menjadi jelas.

Setelah berpamitan dengan para biksu yang pergi, sang guru berbalik dan bertanya kepada biksu buta :  “Mengapa kamu tidak pergi? Apakah tasbih itu kamu yang mengambilnya?”

Biksu buta menjawab : “Tasbih mungkin hilang, tetapi hati Bodhisattva tetap ada. Aku datang ke sini untuk memurnikan hati, bukan untuk tasbih.”

“Jika kamu tidak mengambilnya, mengapa kamu bersedia menanggung semua kecurigaan dan membiarkan orang lain salah paham?” tanya sang guru.

Biksu buta itu menjawab : “Dalam tujuh hari terakhir, kecurigaan telah melukai banyak hati—hatiku sendiri dan hati orang lain. Kecurigaan hanya bisa diredakan jika ada seseorang yang lebih dulu bersedia menanggungnya.”

Mendengar itu, sang guru mengeluarkan tasbih legendaris tersebut dari balik jubahnya dan mengalungkannya di leher sang biksu buta.

“Kalung itu tidak pernah hilang. Hanya kamu yang telah belajar arti menanggung tanggung jawab.”

Sampai di titik ini, aku pun menjelaskan kepada sang wakil alasan sebenarnya atas niat pengunduran diri atasannya, lalu mengingatkannya : “Kamu belum belajar menanggung. Karena di hati orang lain ada dirimu, tetapi di hatimu hanya ada dirimu sendiri.”

Renungan Redaksi

Yang jernih akan tetap jernih, yang keruh akan tetap keruh. Tidak perlu banyak penjelasan, tidak perlu sibuk membela diri. Jika kita tidak suka dicurigai, maka jangan mudah mencurigai orang lain.

Kecurigaan adalah pedang bermata dua—dia melukai orang lain, sekaligus melukai diri sendiri.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine