Jendela di Rumah Sakit

EtIndonesia. Ada dua orang yang sama-sama menderita penyakit serius dan dirawat di satu kamar rumah sakit.

Salah seorang di antaranya setiap sore diperbolehkan duduk di tempat tidur selama satu jam untuk membantu mengeluarkan cairan di paru-parunya. Tempat tidurnya berada tepat di samping satu-satunya jendela di kamar itu. Sementara temannya harus terbaring telentang sepanjang hari dan tidak bisa bangun sama sekali.

Setiap hari mereka mengobrol tanpa henti—tentang istri dan keluarga, tentang rumah dan pekerjaan, tentang masa dinas militer dan rencana liburan.

Setiap sore, saat pasien yang dekat jendela duduk, dia selalu menyapa temannya dan menggambarkan pemandangan di luar jendela dengan detail. Bagi pasien yang terbaring, satu jam itu menjadi waktu paling berharga—melalui cerita tentang aktivitas dan warna-warna di luar, dunianya terasa lebih luas dan hidup.

Dari jendela tampak sebuah taman. Di tengahnya ada danau yang indah. Bebek dan angsa berenang di permukaan air. Anak-anak memainkan perahu mainan. Pasangan muda saling bersandar di antara bunga-bunga yang berwarna-warni. Di kejauhan, terlihat garis langit kota yang menawan.

Saat pasien dekat jendela bercerita dengan rinci, temannya menutup mata dan membayangkan keindahan itu dalam benaknya.

Pada suatu sore yang hangat, sebuah iring-iringan pawai melintas. Pasien dekat jendela mulai menggambarkannya. Temannya memang tidak bisa mendengar musik orkestra, tetapi di mata batinnya, dia melihat semua yang diceritakan.

Hari demi hari berlalu.

Suatu pagi, perawat sif pagi masuk untuk menyiapkan air mandi dan mendapati bahwa pasien yang dekat jendela telah meninggal dunia dengan tenang di dalam tidurnya. Perawat sangat berduka, dan tak lama kemudian petugas rumah sakit memindahkan jenazahnya.

Beberapa waktu setelah semuanya kembali normal, pasien yang tersisa bertanya kepada perawat apakah ia boleh dipindahkan ke tempat tidur dekat jendela. Perawat dengan senang hati mengabulkan. Setelah memastikan pasien itu nyaman, perawat pun pergi.

Dengan menahan rasa sakit, pasien itu perlahan menopang tubuhnya dan berusaha melihat dunia luar yang sesungguhnya.

Dengan susah payah dia menoleh— yang dia lihat hanyalah sebuah dinding putih polos.

Dia bertanya kepada perawat mengapa teman sekamarnya yang telah meninggal menggambarkan pemandangan luar dengan begitu indah dan berwarna-warni.

Perawat menjawab lembut : “Mungkin dia hanya ingin memberimu semangat. Teman sekamarmu itu seorang tunanetra—dia tidak bisa melihat dinding itu.”

Renungan Redaksi

Kebahagiaan… bagi kedua pasien itu, melihat dunia di luar jendela adalah kebahagiaan. Bisa berjalan-jalan di luar adalah kebahagiaan yang mereka impikan. Dan kesehatan—itulah kebahagiaan yang tak ternilai.

Namun bagi kita, kebahagiaan-kebahagiaan itu sering terasa sederhana dan mudah didapat. Mampu menghargainya—bersyukur atas yang ada—itulah kebahagiaan sejati.

Pasien yang berada dekat jendela tampak sebagai sosok optimis dan cerah. Dia menghadirkan kebahagiaan dan harapan bagi orang lain, bahkan di saat dirinya berada dalam kesulitan paling berat. Ia tetap berpikir positif, berjuang melawan nasib, dan memberi semangat kepada orang-orang di sekitarnya.

Apa pun yang kita hadapi dalam hidup, semoga kita mampu bersikap seperti itu— menghadapi dengan hati yang positif, dan menjadi sumber semangat bagi sesama. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine