EtIndonesia. Di atas jalan aspal itu, seorang remaja laki-laki berlari sambil menundukkan kepala. Jelas terlihat bahwa tubuhnya sudah sangat kelelahan. Sambil berlari, dia terus menggumamkan kata-kata yang sama berulang kali:
“Kamu pasti bisa…
Kamu pasti bisa…
Kamu pasti bisa…”
Ucapan itu hanya didengar oleh hatinya sendiri. Dia memang ingin membuktikan sesuatu, tetapi lebih dari itu, dia sedang menyemangati dirinya sendiri.
Dengan penuh kehati-hatian dan tekad, dia terus melangkah maju. Kakinya terangkat lalu menapak, menapak lalu terangkat kembali—berulang kali, tanpa henti. Pandangannya tertuju pada sepasang kaki yang mengenakan sepatu olahraga baru, melangkah satu demi satu dengan irama teratur di atas aspal. Dia melihat jalan yang basah oleh tetesan keringat perlahan-lahan tertinggal di belakangnya.
Bunyi “tap… tap…” dari telapak kakinya yang menyentuh aspal menandakan betapa lelahnya dia. Dia mengangkat kepala, mengusap keringat di dahinya, lalu menatap ke depan, mencoba melihat seberapa jauh lagi garis akhir.
“Pasti sudah tidak jauh lagi,” katanya lirih pada dirinya sendiri.
Namun kenyataannya, garis akhir masih berada cukup jauh di depan. Meski begitu, Chris Burke telah mengambil keputusan bulat: dia harus terus berlari sampai garis akhir.
Setelah perjuangan yang sangat melelahkan, akhirnya dia mencapai garis finis. Ketika dia melintasinya, para kameramen dan wartawan sudah lebih dulu mengerumuni atlet yang meraih juara pertama. Kamera-kamera besar berputar ke sana kemari, kilatan lampu kamera berkelap-kelip tanpa henti, sementara para wartawan berebut mengulurkan mikrofon, berharap bisa merekam sebanyak mungkin ucapan sang juara.
Melihat pemandangan itu, Chris justru tersenyum lebar dengan penuh kebahagiaan. Dia berlari menghampiri peraih juara pertama, berdiri bangga di sampingnya, lalu merentangkan tangan dan memeluk atlet muda yang seusia dengannya—meskipun sebelum perlombaan itu mereka belum pernah saling mengenal.
Ketika wawancara terhadap sang juara selesai dan reporter hendak menutup siaran, Chris segera melangkah maju dan berjabat tangan dengan seorang penonton yang mengulurkan tangan memberi ucapan selamat.
“Wah! Ini benar-benar luar biasa!” seru Chris dengan penuh semangat, nyaris tak bisa menahan kegembiraannya.
“Aku hanya ingin bilang betapa bahagianya aku sekarang. Bisa meraih juara ketiga, aku benar-benar senang!”
Saat itulah sang wartawan merasakan pesona unik yang dimiliki Chris. Tiba-tiba saja muncul keinginan kuat untuk mewawancarainya.
“Oh, tentu!” kata Chris ceria. “Pertama-tama, terima kasih sudah mau mewawancaraiku. Ini luar biasa! Benar-benar luar biasa! Aku sangat senang bisa datang dan ikut bertanding di sini. Ini sebuah kehormatan besar! Dan ya, aku dapat juara ketiga. Juara ketiga—cukup bagus, kan? Benar-benar bagus, bukan?”
Pertanyaan itu sebenarnya tidak dia tujukan untuk dijawab siapa pun.
Lalu dia menoleh ke arah kamera televisi nasional dan berkata dengan wajah berseri-seri: “Terima kasih sudah berbagi momen spesial ini bersamaku. Sekarang saatnya kita merayakan!”
Setelah itu, Chris berlari kembali berdiri di samping juara pertama, dengan hangat berjabat tangan dengan banyak orang dan menerima pelukan penuh keakraban.
Saat itu, Chris baru berusia 14 tahun. Ajang olahraga yang dia ikuti adalah Olimpiade Khusus, dan dalam nomor lari tersebut, hanya ada tiga peserta.
Sebagai catatan tambahan, Chris Burke lahir di New York pada 26 Agustus 1965. Dia adalah seorang penyandang Down Sindrom , namun juga merupakan aktor televisi berbakat. Namanya dikenal luas setelah membintangi serial televisi Life Goes On sebagai tokoh Corky Thatcher. (jhn/yn)


