Karena Adanya Lawan

EtIndonesia. Di Jepang, wilayah Hokkaido menghasilkan sejenis belut dengan cita rasa yang sangat istimewa. Banyak nelayan di desa-desa pesisir menggantungkan hidup mereka dengan menangkap belut ini.

Namun, belut memiliki sifat hidup yang sangat rapuh. Begitu diangkat dari wilayah laut dalam, tak sampai setengah hari, belut-belut itu akan mati.

Anehnya, ada seorang nelayan tua yang setiap hari pergi melaut menangkap belut. Saat kembali ke darat, belut-belut hasil tangkapannya selalu tampak segar, hidup, dan bergerak lincah.

Sebaliknya, para nelayan lain yang juga menangkap belut—tak peduli bagaimana pun cara mereka menangani hasil tangkapan—setibanya di pelabuhan, belut-belut itu selalu mati.

Karena harga belut hidup hampir dua kali lipat lebih mahal dibanding belut mati, hanya dalam beberapa tahun saja keluarga nelayan tua itu pun berubah menjadi orang kaya yang terkenal di daerah tersebut.

Sementara itu, para nelayan lain yang menjalani usaha yang sama hanya mampu bertahan hidup sekadar cukup makan.

Menjelang ajalnya, nelayan tua itu akhirnya mewariskan rahasia keberhasilannya kepada  anaknya.

Ternyata, rahasia agar belut-belutnya tetap hidup adalah dengan memasukkan beberapa ekor ikan lain yang disebut ikan anjing ke dalam satu kotak penuh belut.

Belut dan ikan anjing bukan hanya berbeda jenis, tetapi juga dikenal sebagai musuh alami.

Beberapa ekor ikan anjing yang lemah dan jumlahnya sedikit, ketika berada di tengah kotak penuh belut yang menjadi “lawan” mereka, akan panik dan berenang ke sana kemari tanpa henti. Justru gerakan inilah yang membuat seluruh belut di dalam kapal yang semula lesu dan hampir mati menjadi kembali hidup dan aktif.

Majalah “Animal Protection” dari California juga pernah mengangkat kisah serupa.

Di sebuah taman hutan nasional di Peru, hiduplah seekor jaguar Amerika yang masih muda.

Karena jaguar Amerika adalah hewan langka yang terancam punah—konon di seluruh dunia hanya tersisa sekitar 17 ekor—pemerintah Peru berupaya melindunginya dengan sangat serius.

Mereka menyediakan kawasan hutan khusus seluas hampir 20 kilometer persegi sebagai taman jaguar, lengkap dengan kandang mewah yang dirancang secara khusus agar sang jaguar dapat hidup bebas dan nyaman.

Di dalam taman itu, hutan lebat terbentang luas, rerumputan subur tumbuh di mana-mana, lembah dan aliran air mengalir alami. Bahkan, tersedia pula sapi, kambing, rusa, dan kelinci yang sengaja dipelihara sebagai “makanan hidup” bagi jaguar.

Setiap pengunjung yang datang berkomentar bahwa tempat itu benar-benar surga bagi kehidupan jaguar Amerika.

Namun, hal yang mengherankan adalah tak seorang pun pernah melihat jaguar itu berburu hewan-hewan hidup yang telah disiapkan.

Tak pernah terlihat dia berlari gagah di pegunungan, mengaum penuh wibawa di rimba belantara, atau menunjukkan aura sang raja hutan. Bahkan raungan khasnya pun hampir tak pernah terdengar.

Yang sering terlihat justru sebaliknya: dia menghabiskan hari-harinya di kandang ber-AC—kadang tidur, kadang makan, lalu tidur lagi—dengan kepala tertunduk dan tubuh lemas, tampak kehilangan semangat.

Ada yang menduga dia terlalu kesepian. Maka pemerintah pun, melalui jalur diplomatik, menyewa seekor jaguar betina dari Kolombia untuk menemaninya. Namun hasilnya tetap sama—tidak ada perubahan.

Suatu hari, seorang ahli perilaku hewan berkunjung ke taman tersebut. 

Melihat kondisi jaguar yang lesu, dia berkata kepada para pengelola: “Harimau—atau jaguar—adalah raja hutan. Di lingkungan hidupnya, tidak boleh hanya ada hewan-hewan jinak yang sepanjang hari hanya makan rumput dan tidak tahu berburu. Taman sebesar ini, jika tidak memungkinkan memasukkan beberapa serigala, setidaknya harus ada dua ekor macan tutul. Tanpa lawan, jaguar ini tidak akan pernah bersemangat.”

Para pengelola pun mengikuti saran tersebut dan segera mendatangkan beberapa ekor macan tutul dari kebun binatang lain ke taman jaguar.

Hasilnya sungguh nyata.

Sejak hari macan tutul itu masuk ke taman, jaguar Amerika tersebut tak pernah lagi bisa berdiam diri.

Setiap hari, dia berdiri di puncak bukit sambil mengaum marah, melesat turun seperti badai, atau berpatroli dengan waspada di tepi hutan.

Renungan

Kehidupan yang terlalu nyaman dan tanpa tantangan dapat membuat semangat juang seseorang merosot, hingga akhirnya kehilangan daya hidup dan dorongan untuk berkembang. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine