Di Balik Rasa Amarah

EtIndonesia. Mampu memikirkan perasaan orang lain adalah sebuah pembinaan diri, sebuah kebijaksanaan, dan juga sebuah berkah.

Di Balik Rasa Amarah : Serangan sebagai Reaksi Setelah Terluka

Baru-baru ini saya mendengar sebuah kisah seperti ini.

Seorang pria memelihara seekor anjing Chihuahua yang jinak dan penurut. Suatu hari, anjing kecil itu digigit oleh anjing besar milik tetangga. Tetangga tersebut segera menggendongnya dan mengembalikannya kepada sang pemilik.

Saat pemiliknya dengan penuh rasa sayang mengulurkan tangan untuk menerima anjing itu, tak disangka—anjing tersebut tiba-tiba menyerang dan menggigit tangan tuannya dengan kuat.

Namun sang pemilik tidak marah sama sekali. 

Dia justru berkata kepada tetangganya: “Dia menggigit saya karena dia sedang terluka.”

Itu adalah reaksi naluriah seekor anjing yang sedang kesakitan. Bukan karena dia membenci tuannya, melainkan sebagai bentuk perlindungan diri agar tidak kembali terluka.

Jika sang pemilik salah paham dan mengira anjing itu sengaja menyerangnya, dia pasti akan marah, dan keadaan justru akan menjadi semakin buruk.

Pelampiasan Amarah: Sisa Emosi yang Belum Reda

Ada seorang ayah yang pulang kerja. Begitu masuk rumah, dia melihat putrinya yang berusia belasan tahun sedang menggunakan peralatannya untuk memperbaiki sesuatu. Alat-alat itu berserakan di mana-mana dan ruang tamu tampak berantakan.

Tanpa sadar, sang ayah langsung memarahi putrinya dengan keras.

Putri yang cerdas itu, setelah merapikan semuanya, mendekati ayahnya, memeluknya, lalu berkata: “Ayah, hari ini pasti ada hal yang tidak menyenangkan terjadi di kantor, ya?”

Gadis itu memahami bahwa kemarahan ayahnya tidak sepenuhnya ditujukan kepadanya. Sang ayah mungkin sedang terluka oleh hal lain. Karena itu, dia tidak bereaksi dengan emosi, justru menenangkan ayahnya. Ini adalah bentuk kebijaksanaan yang luar biasa.

Bukankah kita sering menjumpai situasi serupa dalam kehidupan sehari-hari?

Misalnya:

  • Anak pulang sekolah dan membanting tasnya. Saat ditanya ada apa, dia malah menjawab ketus: “Ih, cerewet banget sih!”
  • Istri bertanya kepada suami ingin makan apa malam ini, tetapi suami menjawab dengan tidak sopan: “Sudah menikah sekian lama, masa kamu belum tahu aku suka makan apa?”
  • Suami pulang kerja dan melihat istrinya duduk lesu sambil menggendong anak. Saat dia bertanya dengan penuh perhatian: “Lagi nggak enak hati ya?”
    Istrinya malah menjawab dengan marah: “Kenapa baru pulang sekarang?”

Kepedulian: Obat Terbaik bagi Luka Batin

Dalam situasi seperti ini, jika masing-masing merasa bahwa kemarahan lawan bicara ditujukan kepada dirinya, maka dia pun akan ikut marah. Entah membalas dengan kata-kata tajam, atau memilih bersikap dingin dan menjauh.

Karena kita sendiri juga terluka, dan secara naluriah ingin melindungi diri.

Namun jika kita bisa melihatnya dengan cara lain—dia bersikap kasar karena dia sedang terluka—maka persoalan akan jauh lebih mudah diselesaikan.

Lalu bagaimana seharusnya kita menghadapi seseorang yang hatinya sedang terluka?

Pertama, dia perlu dipahami dan diterima.

Seorang ibu bisa berkata kepada anaknya:“Kamu pasti merasa disakiti di sekolah hari ini. Sini, ceritakan pada Ibu apa yang terjadi.”

Seorang istri bisa berkata kepada suaminya yang sedang marah: “Kamu kelihatan sedang tidak enak hati. Selain aku, siapa lagi yang membuatmu kesal hari ini?”

Dan seorang suami bisa berkata kepada istrinya yang sedang terpuruk: “Seharian mengurus anak di rumah pasti melelahkan. Apa yang bisa aku lakukan sekarang untuk membantumu?”

Dengan cara seperti ini, emosi lawan bicara biasanya akan cepat mereda. Saat dia merasa dipahami dan diterima, bahkan mungkin dia akan merasa bersalah atas sikap kasarnya tadi.

Perjalanan Batin: Awal dari Terobosan

Dalam Roma 12:20 tertulis: “Jika musuhmu lapar, berilah dia makan; jika haus, berilah dia minum. Dengan berbuat demikian, engkau menumpukkan bara api di atas kepalanya.”

Apalagi terhadap orang-orang terdekat kita—mereka jelas bukan musuh. Bukankah kita seharusnya lebih memperlakukan mereka dengan kebaikan?

Dari sudut pandang lain, ketika kitalah yang menjadi pribadi sensitif, mudah marah, tidak rasional, dan kehilangan kendali emosi, kita juga perlu menyadari bahwa kemungkinan besar kita sendiri pernah terluka, dan luka itu belum sepenuhnya sembuh.

Saya pernah mengalami cedera di jari kaki. Suatu hari, anggota keluarga tidak sengaja menyentuhnya saat lewat. Saya langsung berteriak kesakitan:“Kenapa sih diinjak! Sakit banget!”

Orang itu terkejut. Apakah dia sengaja menyakiti saya? Tentu tidak.

Dia hanya menyentuh sedikit, dan sama sekali tidak berniat melukai. Jika tidak ada luka, meskipun benar-benar terinjak, saya pun tidak akan marah.

Saya berteriak karena ada luka yang belum sembuh. Setiap kali tersentuh—oleh orang lain atau karena kelalaian sendiri—rasa sakit itu muncul, disertai kemarahan, dan membuat orang lain enggan mendekat.

Luka batin pun demikian.

Seorang perempuan pernah menelepon saya sambil menangis: “Saya merasa hampir menghancurkan anak-anak saya. Kesalahan kecil saja membuat saya berteriak marah kepada mereka. Saya tahu saya tidak seharusnya berkata kasar, tapi saya tidak bisa mengendalikan diri…”

Saya berkata kepadanya : “Itu karena di dalam dirimu ada luka yang sangat dalam dan belum sembuh sepenuhnya. Anak-anakmu tanpa sengaja menyentuh luka itu.”

Luka perempuan itu adalah rasa rendah diri—ketidakpastian akan nilai dirinya sendiri. Ketika anak-anaknya tidak tampil baik, ia merasa dirinya ditolak. Kemarahan hanyalah reaksi naluriah setelah merasa tidak berharga.

Jika kita mampu mengenali luka batin yang masih perlu disembuhkan, lalu mengobatinya dengan cara yang tepat, kita akan menjadi pribadi yang emosinya stabil dan disukai banyak orang.

Kita pun akan menyadari bahwa banyak ketidakbahagiaan sebenarnya bukan disebabkan oleh orang lain, melainkan oleh ego dan harga diri kita sendiri.

Renungan

“Mampu memikirkan perasaan orang lain adalah sebuah pembinaan diri, sebuah kebijaksanaan, dan juga sebuah berkah.”

Kalimat ini sangat saya sukai.

Saya percaya, siapa pun yang menjadikannya sebagai prinsip hidup pasti memiliki hati yang luas dan hubungan sosial yang baik. Saya pun berharap bisa menjadi pribadi yang semakin pengertian.

Saya akan menyimpan kalimat ini di dalam hati, dan menggunakannya sebagai pengingat setiap kali terjadi gesekan dengan orang lain—dengan harapan, suatu hari nanti saya benar-benar bisa menjadi seseorang yang berhati lapang dan penuh empati. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine