EtIndonesia. Suatu hari, seorang guru mengajak murid-muridnya naik perahu. Ketika perahu sampai di tengah danau, ia bertanya kepada para murid:
“Ada sesuatu yang kecepatannya melebihi cahaya, dalam sekejap bisa menembus galaksi dan mencapai tempat yang sangat jauh. Apakah itu?”
Para murid berebut menjawab : “Aku tahu! Aku tahu! Itu adalah pikiran!”
Sang guru mengangguk puas, lalu melanjutkan : “Kalau begitu, ada satu hal lagi. Dia bergerak lebih lambat dari kura-kura. Ketika bunga-bunga musim semi bermekaran, dia masih tertinggal di musim dingin. Saat rambut sudah memutih, dia tetap seperti anak kecil. Apakah itu?”
Para murid tampak bingung dan tak mampu menjawab.
Guru kembali bertanya : “Dan ada satu lagi—tidak maju, tidak mundur; belum benar-benar hidup, tetapi sudah mati; selamanya melayang di satu titik yang sama. Ada yang tahu ini apa?”
Para murid terdiam, saling berpandangan tanpa jawaban.
Guru pun berkata : “Jawabannya tetap sama: pikiran. Itu adalah tiga wujud dari pikiran. Jika dilihat dari sudut pandang lain, itu juga bisa diibaratkan sebagai tiga jenis kehidupan.”
Melihat para murid yang menyimak dengan serius, guru melanjutkan penjelasannya:
“Jenis pertama adalah kehidupan yang penuh semangat dan perjuangan. Seseorang yang terus berusaha maju, yang selalu menyimpan harapan dan keyakinan akan hari esok. Jiwa orang seperti ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dia bagaikan anak panah yang dilepaskan—suatu hari akan melampaui kecepatan cahaya dan berdiri di atas segalanya.”
“Jenis kedua adalah kehidupan yang malas. Dia selalu tertinggal di belakang orang lain, hanya memungut sisa-sisa yang ditinggalkan. Orang seperti ini ditakdirkan untuk dilupakan.”
“Jenis ketiga adalah kehidupan yang terlena dan mati rasa. Ketika seseorang menyerah pada usaha dan memilih hidup seadanya, nasibnya membeku. Tidak ada kesempatan yang mengetuk pintunya. Ia tidak benar-benar bahagia, tetapi juga tak peduli pada penderitaan. Ini adalah kehidupan yang ditakdirkan untuk muram—seperti cangkang ubur-ubur yang kosong, mengapung di dasar laut; tidak benar-benar hidup di dunia nyata, juga tidak hadir dalam mimpi….”
Renungan
Hakikat kehidupan setiap manusia sebenarnya sama. Namun, karena cara masing-masing orang menggunakan hidupnya berbeda, maka cahaya yang dipancarkan pun menjadi berbeda.(jhn/yn)


