Tentang Menjadi Manusia

EtIndonesia. Dalam hidup, ada hal-hal tertentu yang jika terlewat sesaat, bisa berarti kehilangan selamanya.

Berikut ini adalah sebuah kisah renungan kehidupan yang mengajak kita merenung tentang cara menjadi manusia yang utuh.

Tentang Menjadi Pribadi yang Dewasa

Seseorang pernah bertanya kepada saya :  “Untuk anakmu kelak, kamu berharap dia menjadi orang seperti apa?”

Selain jujur, satu hal yang sangat saya harapkan adalah agar dia menjadi pribadi yang mandiri.

Belajar mandiri berarti belajar memperlakukan diri sendiri dengan baik, mampu berhubungan dengan orang lain secara setara, dan benar-benar bisa melindungi diri sendiri.

Saya menganggap diri saya sebagai orang yang cukup mandiri. Latar belakang keluarga berperan besar, begitu pula sepuluh tahun hidup di asrama, yang melatih saya menjalani hidup secara independen. Namun kepribadian mandiri saya benar-benar terbentuk setelah bekerja—berpindah dari satu kota ke kota lain. Tanpa kemandirian, mungkin saya tidak akan mampu bertahan sampai hari ini.

Setiap orang sibuk dengan hidupnya masing-masing. Pada akhirnya, orang yang paling bisa menolong kita adalah diri kita sendiri.

Tentu kita boleh bergantung pada orang lain—pada seseorang yang kita percaya. Namun jika kita menyerahkan hidup sepenuhnya kepada orang lain dan kehilangan kemandirian, lalu ketika orang itu pergi… apa yang tersisa untuk kita?

Mandiri bukan berarti tidak membutuhkan siapa pun. Seorang yang paling mandiri sekalipun tetap membutuhkan sahabat dan keluarga. Namun orang yang mandiri tidak akan menjadi beban, dan dalam hubungan dengan siapa pun, dia berdiri setara secara batin.

Tentang Menerima Realitas dan Belajar Berkompromi

Dunia ini sesungguhnya tidak sempurna.

Ketika masih kecil, saya pernah berpikir bahwa dengan menangis, saya bisa mendapatkan apa pun yang saya inginkan.
Atau dengan memejamkan mata, berpura-pura tidak melihat masalah, maka masalah itu seolah tidak pernah ada.

Namun dalam kehidupan nyata, tidak semua yang kita inginkan akan terwujud, dan hal-hal yang kita pura-pura tidak lihat, tetap terjadi—tak bisa dihindari.

Ketika kita menerima kenyataan ini, kita akan memahami bahwa hidup sering kali menuntut kompromi.

Ada hal-hal yang kita yakini benar, dan memang benar, tetapi dalam kondisi tertentu, dia tidak bisa diterapkan, atau tidak mendapat dukungan mayoritas. Pada saat seperti itu, kita perlu mengalah.

Saat pertama kali terjun ke dunia kerja, ketika pendapat saya tidak diterima, saya merasa sangat tidak adil dan tidak dipahami. Berulang kali seperti itu, ada orang yang akhirnya menjadi sinis, merasa dunia selalu tidak berpihak padanya.

Namun jika kita mau berkompromi, kita akan menyadari: jalan menuju solusi tidak hanya satu. Cara lain mungkin lebih lambat, tetapi setidaknya dia tetap membawa kita bergerak maju.

Tentang Prinsip dan Batasan

Menjadi jurnalis adalah profesi yang penuh kompromi. Hampir setiap jurnalis pernah mengalami tulisannya berubah total setelah sampai ke meja editor.

Perdebatan sengit, adu argumen, wajah memerah—namun sering kali tetap tidak ada yang menang. Karena sistem memang seperti itu: editor memegang keputusan akhir.

Pada akhirnya, kita belajar mengalah dan mencoba memahami sudut pandang editor.

Namun kompromi bukan berarti kehilangan prinsip.

Saya bisa menerima perubahan sudut pandang atau pilihan kata.

Tetapi prinsip saya jelas: saya tidak akan memutarbalikkan kebenaran, tidak akan mengatakan A sebagai B demi kepentingan tertentu.

Jika prinsip tidak bisa dipertahankan, saya lebih memilih melepaskan daripada berkompromi.

Tentang Menghormati Orang Lain

Akhir-akhir ini, saya sering bertanya dalam hati: mengapa begitu banyak anak muda sulit menempatkan diri di posisi orang lain?

Banyak orang merasa selalu benar. Ketika terjadi kesalahan, mereka tidak pernah bercermin, melainkan menyalahkan orang lain karena “tidak mendukung”.

Mungkin karena hidup mereka terlalu mulus— tanpa banyak kesulitan, tanpa tekanan hidup— sehingga merasa dunia berputar untuk mereka saja.

Namun orang seperti ini, cepat atau lambat, akan bertemu kritik dan kegagalan.

Jika tidak cukup kuat, hidupnya akan dipenuhi keluhan: “Mengapa dunia memperlakukan saya seperti ini?”

Saya melihat terlalu banyak contoh orang yang tidak tahu cara menghormati sesama. Ada orang yang di restoran berteriak-teriak pada pelayan, seolah pelayan dilahirkan untuk melayani mereka. Mereka jarang, bahkan tidak pernah, mengucapkan terima kasih.

Saya selalu merasa malu berada di dekat orang seperti itu. Saya hanya bisa menatap para pelayan dengan rasa bersalah, berharap ucapan “terima kasih” saya bisa sedikit menebus ketidakadilan itu.

Ironisnya, masyarakat seakan sudah terbiasa diperlakukan tidak sopan. Terlalu sering, hingga akhirnya menjadi sesuatu yang dianggap wajar.

Tentang Lingkungan dan Teladan

Suatu hari, saya turun dari taksi di depan hotel bintang lima. Seorang petugas pintu berbicara kasar kepada sopir taksi, menyuruhnya cepat pergi.

Saya tidak tahan dan menegurnya agar berbicara dengan lebih sopan.

Namun hasilnya? Sopir dan petugas itu sama-sama menatap saya dengan tatapan heran— seolah ingin mengatakan bahwa yang aneh adalah saya.

Saya pun sadar: lingkungan sosial sangat menentukan seperti apa manusia dibentuk.

Ketika berwisata di beberapa tempat di Shenzhen bersama anak-anak, saya melihat orang-orang berebut tanpa antre, berdesakan hingga menyenggol orang lain tanpa merasa perlu meminta maaf.

Anak perempuan saya menatap dengan mata membesar—bingung dan sedikit takut. Saya justru khawatir: jika orang dewasa bersikap seperti ini di depan anak-anak, akan menjadi apa generasi berikutnya?

Seorang teman pernah berkata: “Seperti di desa, meludah di tanah terasa biasa saja, karena semua orang melakukannya. Orang yang mencari tempat sampah justru dianggap aneh.”

Tanpa sadar, kita pun perlahan menjadi sama dengan lingkungan kita.

Penutup: Makna Menghormati Sesama

Menghormati orang lain bukan sekadar mengucapkan “terima kasih” atau “maaf”.

Penghormatan sejati lahir dari rasa hormat terhadap martabat manusia itu sendiri — sesuatu yang muncul dari dalam hati.

Dia menuntut kedewasaan, pengalaman hidup, dan kepekaan batin. Hanya dengan itulah seseorang benar-benar memahami bahwa setiap manusia dilahirkan setara, dan menghormati orang lain pada hakikatnya adalah menghormati diri sendiri. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine