EtIndonesia. Seorang remaja berusia enam belas tahun datang mengunjungi seorang bijak yang telah lanjut usia.
Dia bertanya: “Bagaimana caranya agar aku bisa menjadi orang yang bahagia, sekaligus mampu membawa kebahagiaan bagi orang lain?”
Sang bijak tersenyum memandangnya dan berkata : “Nak, di usiamu yang masih sangat muda, memiliki keinginan seperti ini saja sudah sangat berharga. Banyak orang yang jauh lebih tua darimu—dari cara mereka bertanya saja sudah terlihat bahwa, sebanyak apa pun penjelasan diberikan, mereka tetap tak akan memahami kebenaran yang paling penting. Maka, biarlah mereka tetap seperti itu.”
Remaja itu mendengarkan dengan penuh ketulusan. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bangga diri.
Sang bijak melanjutkan: “Aku akan memberimu empat kalimat.”
Kalimat pertama: “Anggaplah dirimu sebagai orang lain.”
“Bisakah kamu menjelaskan makna kalimat ini?” tanya sang bijak.
Remaja itu menjawab: “Apakah maksudnya, ketika aku sedang merasa sakit dan sedih, aku mencoba memandang diriku sebagai orang lain, sehingga rasa sakit itu akan berkurang? Dan ketika aku terlalu gembira, dengan menganggap diriku sebagai orang lain, kegembiraan itu akan menjadi lebih tenang dan seimbang?”
Sang bijak mengangguk pelan.
Kalimat kedua: “Anggaplah orang lain sebagai dirimu sendiri.”
Remaja itu termenung sejenak, lalu berkata: “Dengan begitu, aku bisa benar-benar merasakan penderitaan orang lain, memahami kebutuhan mereka, dan ketika mereka membutuhkan pertolongan, aku bisa memberikan bantuan yang tepat?”
Mata sang bijak berbinar. Dia melanjutkan.
Kalimat ketiga:“Anggaplah orang lain sebagai orang lain.”
Remaja itu berkata: “Apakah maksudnya kita harus sepenuhnya menghormati kemandirian setiap orang, dan dalam keadaan apa pun tidak boleh melanggar batas inti kehidupan orang lain?”
Sang bijak tertawa lepas: “Bagus! Sangat bagus! Anak ini bisa diajar.”
Kalimat keempat: “Anggaplah dirimu sebagai dirimu sendiri.”
Sang bijak tersenyum dan berkata: “Kalimat ini terlalu sulit untuk dipahami sekarang. Simpanlah dulu, kelak kamu akan memahaminya perlahan.”
Remaja itu berkata : “Makna kalimat ini memang belum bisa langsung aku pahami. Namun keempat kalimat ini tampak saling bertentangan satu sama lain. Dengan apa aku bisa menyatukannya?”
Sang bijak menjawab dengan tenang: “Sederhana saja—dengan seumur hidupmu, dan dengan seluruh pengalaman hidupmu.”
Remaja itu terdiam lama. Lalu dia bersujud memberi hormat dan berpamitan.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja itu tumbuh menjadi pria dewasa, lalu menjadi seorang tua.
Dan lama setelah dia meninggalkan dunia ini, orang-orang masih sering menyebut namanya.
Mereka berkata, dia adalah seorang bijak, karena dia adalah orang yang bahagia, dan juga membawa kebahagiaan bagi setiap orang yang pernah berjumpa dengannya.
Hikmah Cerita
Menganggap diri sebagai orang lain, menganggap orang lain sebagai diri sendiri, menganggap orang lain sebagai orang lain, dan menganggap diri sebagai diri sendiri—empat kalimat ini terdengar seperti permainan kata yang membingungkan.
Namun ketika direnungkan dengan sungguh-sungguh, kita belajar bahwa:
- Ada saatnya kita harus menempatkan diri pada posisi orang lain.
- Jika kita menuntut orang lain dengan keras, kita pun harus menuntut diri sendiri dengan standar yang sama.
- Jika kita bisa memaafkan diri sendiri, kita juga harus mampu memaafkan orang lain.
- Hormatilah bahwa setiap orang memiliki cara berpikir dan sudut pandang yang berbeda.
- Jangan memaksakan pola pikir sendiri kepada orang lain.
- Setiap orang unik, tak perlu membandingkan diri secara berlebihan.
- Kenali kebutuhan diri, dan hiduplah sebagai diri sendiri.
Inilah pemahaman kami atas empat petuah sang bijak. Lalu, bagaimana denganmu? Empat kalimat ini—pelajaran apa yang kamu temukan di dalamnya? (jhn/yn)


