Jendela

EtIndonesia. Dalam kehidupan, setiap dari kita akan berjumpa dengan bermacam-macam jendela. Ada jendela kayu berukir khas tradisional, ada pula jendela kaca aluminium bergaya modern. Rumah memiliki jendela, mobil memiliki jendela, pesawat memiliki jendela kecil di sisi badan. Ada jendela yang penuh ornamen, ada yang sederhana. Ada jendela besar dan jendela kecil. Ada jendela terang, ada pula jendela yang redup dan sunyi.

Saat membeli tiket, ada loket jendela pelayanan. Saat mengurus keperluan, ada jendela layanan publik.

Rumah tempat kita tinggal tak pernah lepas dari jendela— di depan dan di belakang, di selatan dan di utara, di timur dan di barat, bahkan ada jendela atap di atas dan jendela tanah di bawah.

Begitu pula hidup kita hari ini, selalu dikelilingi jendela. Layar ponsel dan komputer adalah jendela kita melihat dunia.  Buku adalah jendela yang memperluas pemahaman kita tentang kehidupan.

Langit adalah jendela kita mengenal semesta. Bumi adalah jendela kita memahami segala makhluk. Jendela adalah sepotong langit, tempat awan berarak perlahan; jendela juga sepetak bumi, tempat rerumputan tumbuh sunyi.

“Jendela memuat salju abadi Pegunungan Barat, di depan pintu berlabuh kapal dari Wu Timur sejauh ribuan li.” Itulah jendela dalam puisi.

“Dari mana engkau datang, wahai sahabatku? Seperti seekor kupu-kupu yang terbang masuk ke jendelaku.” Itulah jendela dalam imajinasi penyair.

“Di jendela berhias esok hari, apakah bunga prem musim dingin telah mekar?” Itulah jendela musim.

Pada hari cerah, kita membuka jendela menyambut cahaya pagi. Pada hari hujan, kita menutup jendela, mendengarkan tetes hujan mengetuk sunyi. Pada hari bersalju, kita menikmati kepingan putih berjatuhan, menyaksikan setangkai prem dingin tetap mekar dengan anggun.

Berdiri di depan jendela, kita bisa menikmati pemandangan, atau meluapkan perasaan.

“Di sisi jendela sunyi, lampu dipadamkan menjelang fajar, memeluk bayangan sendiri, tak mampu terlelap.” Itu jendela insomnia.

“Semalam penuh rindu bermimpi di depan jendela, sayang jarak terbentang, air dan langit memisahkan.” Itu jendela kerinduan.

“Tirai belum tersingkap, baru terjaga dari tidur, sendiri menatap dedaunan tertiup angin.” Itu jendela kesepian.

“Jangan bilang tak menyayat hati, tirai tersingkap angin barat, tubuh lebih kurus dari bunga krisan.” Itu jendela kepedihan.

“Jangan buka tirai, takut melihat bunga beterbangan, takut mendengar burung cuckoo meratap.” Itu jendela duka musim semi.

“Tirai bersulam terbuka, bulan mengintip lembut, orang belum tidur, bersandar pada bantal, rambut dan hiasan berserakan.” Itu jendela keindahan musim panas.

“Anggur hijau baru dicicipi, mudah memabukkan, bersandar di jendela kecil, tidur lelap penuh rasa.” Itu jendela kegelisahan senja musim gugur.

“Paling menawan, tirai kecil berkilau perak, digantung di dingin musim gugur, membawa harapan.” Itu jendela cahaya.

“Di luar jendela, cahaya bulan membeku seperti embun, mendengar lantunan ‘Bunga Prem’ hingga habis.” Itu jendela kepedihan yang sulit terurai.

Ruang memiliki jendela, waktu pun memiliki jendela. Peluncuran satelit dan wahana antariksa pun harus menunggu jendela waktu yang tepat.

Musim semi adalah jendela kelahiran.
Musim panas adalah jendela pertumbuhan.
Musim gugur adalah jendela panen.
Musim dingin adalah jendela penyimpanan.

Masa muda adalah jendela belajar dan menempa diri. Usia dewasa adalah jendela bekerja keras dan berjuang. Usia lanjut adalah jendela berbagi pengalaman dan memberi cahaya sisa kehidupan.

Kita tidak boleh sembarangan membuka jendela, hingga keliru urutan waktu.
Saat belajar, jangan membuka jendela asmara terlalu dini.
Saat bekerja, jangan membuka jendela kemalasan.
Saat mencinta, jangan membuka jendela ketidaksetiaan.
Saat membangun rumah tangga, jangan membuka jendela orang ketiga.

Jendela adalah sepasang mata yang jernih, dan juga sebuah hati yang indah.

Terhadap penyimpangan sosial, jangan menutup jendela pengawasan.
Terhadap kerusakan lingkungan, jangan menutup jendela kepedulian.
Terhadap orang tua, jangan menutup jendela bakti.
Terhadap saudara, jangan menutup jendela kasih dan persaudaraan.
Terhadap anak, jangan menutup jendela cinta.
Terhadap pasangan, jangan menutup jendela kasih sayang.
Terhadap orang bijak dan tua, jangan menutup jendela hormat.

Sebagai manusia, jangan menutup jendela kejujuran. Dalam berbuat, jangan menutup jendela nurani.

Namun, jendela bukan semakin banyak semakin baik. Terhadap urusan sekitar, tutuplah jendela “bukan urusanku”. Terhadap dunia, tutuplah jendela “bersikap acuh”.

Perbesarlah jendela kebahagiaan, perkecil jendela nama dan keuntungan. Bentangkan jendela kegembiraan hingga penuh layar, sembunyikan jendela keluh kesah dan keresahan. Tutuplah jendela yang tak perlu, singkirkan jendela yang tak berguna.

Setiap orang perlu menemukan jendela yang paling sesuai bagi dirinya.

Seperti kata bijak: “Ketika Tuhan menutup satu pintu, Dia pasti membuka jendela yang lain.”

Dan sungguh, kata-kata itu benar adanya.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine