EtIndonesia. Pada zaman dahulu, hiduplah seorang pria yang sangat miskin. Melihat keadaannya yang memprihatinkan, seseorang yang kaya merasa iba dan tergerak hatinya untuk menolongnya agar bisa keluar dari kemiskinan.
Orang kaya itu kemudian memberikan seekor sapi kepadanya, sambil berpesan agar dia membuka lahan dengan sungguh-sungguh. Katanya, ketika musim semi tiba, tanamlah benih, dan saat musim gugur datang, dia pun bisa menjauh dari kata “miskin”.
Orang miskin itu pun dipenuhi harapan dan mulai berjuang.
Namun belum beberapa hari berlalu, masalah mulai muncul. Sapi butuh makan rumput, manusia butuh makan nasi. Kehidupan justru terasa lebih berat dibanding sebelumnya.
Lalu dia berpikir: “Lebih baik sapi ini aku jual. Dengan uangnya aku bisa membeli beberapa ekor kambing. Satu ekor bisa langsung disembelih untuk dimakan, sisanya bisa berkembang biak. Jika anak kambing lahir dan tumbuh besar, aku bisa menjualnya dan mendapatkan lebih banyak uang.”
Rencananya memang terwujud. Namun setelah memakan satu ekor kambing, anak kambing yang ditunggu-tunggu tak kunjung lahir. Hidup kembali terasa sulit, dan tanpa sadar dia pun menyembelih seekor kambing lagi.
Dia lalu berpikir: “Kalau begini terus tidak akan berhasil. Lebih baik kambing-kambing ini dijual, lalu uangnya dipakai membeli ayam. Ayam bertelur lebih cepat, telurnya bisa langsung dijual, dan hidupku bisa segera membaik.”
Sekali lagi, rencananya berjalan sesuai harapan. Namun kehidupan tetap tidak berubah. Kesulitan datang lagi, dan dia kembali tak mampu menahan diri untuk menyembelih ayam-ayamnya. Hingga akhirnya, hanya tersisa satu ekor ayam saja, dan seluruh impiannya runtuh.
Dia pun berpikir putus asa: “Menjadi kaya sudah tidak mungkin. Lebih baik ayam ini dijual saja, uangnya kupakai membeli arak. Tiga cawan diminum, maka semua masalah terasa tak ada.”
Tak lama kemudian, musim semi tiba. Orang kaya yang dulu bermurah hati datang dengan penuh semangat membawa benih. Namun yang dia temukan sungguh mengejutkan: si orang miskin sedang minum arak ditemani lauk ikan asin. Sapi sudah tidak ada, dan rumah itu tetap melarat seperti sebelumnya.
Orang kaya itu pun berbalik pergi.
Dan orang miskin itu tetap miskin selamanya.
Banyak orang miskin sebenarnya pernah memiliki mimpi. Bahkan pernah mendapat kesempatan, dan pernah pula mulai bertindak. Namun, bertahan sampai akhir adalah hal yang paling sulit.
Seorang investor pernah berkata bahwa rahasia kesuksesannya adalah ini: Saat tidak punya uang, seberat apa pun keadaannya, jangan pernah menyentuh modal investasi dan tabungan. Tekanan justru akan memaksamu menemukan cara baru untuk menghasilkan uang dan melunasi utang. Itu adalah kebiasaan yang baik.
Kepribadian membentuk kebiasaan. Kebiasaan menentukan keberhasilan.
Hikmah Cerita
Kebiasaan baik membawa seseorang menuju kesuksesan, sementara kebiasaan buruk menyeret seseorang menuju kegagalan. Sebuah kesempatan untuk bangkit yang sebenarnya tidak membutuhkan modal apa pun, justru terbuang sia-sia—sungguh disayangkan.
Pernah ada sebuah kalimat yang mengatakan: “Saat sebelum fajar adalah saat tergelap, dan detik sebelum sukses adalah saat paling melelahkan. Jika mampu bertahan, fajar akan menyingsing, dan kesuksesan sudah di depan mata.”
Perbedaan terbesar antara orang sukses dan orang gagal adalah ini: Orang sukses, setelah menetapkan tujuan, akan melangkah maju tanpa ragu. Saat menghadapi kesulitan, dia mengubah cara, bukan tujuannya, lalu terus berjuang. Sedangkan orang gagal, ketika baru menghadapi kesulitan, justru mengubah tujuan dan rencana. Akibatnya, rencana selalu kalah oleh perubahan, dan tak pernah benar-benar terwujud.(yn)


