EtIndonesia. Kemarin, kota kami menggelar sebuah ajang besar sehingga diberlakukan pembatasan lalu lintas. Kami telah menerima pemberitahuan sebelumnya: setelah jam kerja, kendaraan pribadi tidak boleh beroperasi dan baru diizinkan kembali pada malam hari.
Jika dilihat dari sudut pandang perencanaan pemerintah, pembatasan ini memang diperlukan.
Selama penyelenggaraan acara, banyak orang dari luar kota datang sehingga volume kendaraan meningkat drastis. Pengaturan lalu lintas sementara membantu memastikan kelancaran mobilitas pihak terkait acara, sekaligus mengurangi kemacetan dan risiko kecelakaan.
Namun dari sisi kehidupan warga, pembatasan ini terasa merepotkan. Jika memilih transportasi umum, kereta dan bus penuh sesak. Jika tetap ingin menggunakan mobil pribadi, kami harus menyesuaikan waktu agar tidak melanggar aturan. Setelah seharian bekerja, yang diinginkan tentu cepat pulang untuk beristirahat. Akibatnya, karena mobil tak bisa dipakai, kami hanya bisa menunggu di kantor—dan kelelahan pun terasa bertambah.
Setelah mempertimbangkan semuanya, kami memutuskan tetap menggunakan mobil. Sepulang kerja, kami menjemput anak, lalu mencari tempat untuk makan malam lebih dulu. Restoran di sekitar tidak banyak, dan semuanya ramai. Butuh waktu cukup lama hingga akhirnya kami mendapatkan tempat.
Usai makan, waktu masih cukup. Kami pun memutuskan kembali ke kantor untuk bekerja sebentar.
Saya menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan, sementara anak mengerjakan PR. Ketika semua selesai, waktu pembatasan lalu lintas pun hampir berakhir. Kami menuju parkiran dan bersiap pulang. Saat membuka aplikasi navigasi untuk mengecek kondisi jalan, ternyata lalu lintas sangat lancar—bahkan jauh lebih baik dari hari biasa.
Mungkin karena pembatasan tersebut, banyak pemilik kendaraan memilih tidak keluar, sehingga jalanan menjadi lebih lengang.
Akhirnya, waktu tempuh kami lebih singkat sekitar belasan menit dibandingkan biasanya.
Biasanya, setibanya di rumah kami masih harus memasak, membereskan pekerjaan rumah, dan kadang menyelesaikan urusan kantor. Namun kali ini, kami sudah makan malam di luar, tak perlu lagi mengurus dapur. Pekerjaan sudah diselesaikan di kantor, tak perlu memikirkannya lagi. Anak pun telah menuntaskan PR-nya, tanpa perlu diingatkan.
Sisa malam sepenuhnya bisa kami gunakan untuk bersantai. Perasaan pun langsung terasa ringan. Kami menonton film, bermain gim bersama—sebuah waktu berkualitas yang jarang terjadi.
Padahal, secara harfiah kami pulang lebih lambat dari biasanya. Namun justru mendapatkan pengalaman yang lebih menyenangkan—sesuatu yang sama sekali tidak kami duga.
Awalnya, karena pembatasan lalu lintas, hati dipenuhi keluhan. Namun setelah benar-benar dijalani, ternyata ada begitu banyak sisi positif.
Saya pun tak bisa menahan rasa haru: ternyata, banyak hal yang kita bayangkan sebelumnya tidak selalu akurat. Antara baik dan buruk, sering kali hanya dipisahkan oleh satu sudut pandang—dan bisa saling bertukar tempat.
Di perjalanan bertumbuh, jika kita belajar tidak tergesa-gesa menyimpulkan, melainkan menerima setiap perubahan dengan tenang, barangkali kita akan menemukan wajah lain dari kehidupan— yang selama ini luput kita lihat.(jhn/yn)


