Plagiarisme & Pengulangan

EtIndonesia. Di Amerika Serikat, untuk menjadi pendeta seseorang harus lulus ujian kependetaannya. Salah satu tahap penting dalam ujian tersebut adalah pidato terbuka di depan umum.

Pemuda ini datang ke kota tempat ujian setengah bulan lebih awal. Dia menyewa sebuah kamar hotel dan menetap di sana khusus untuk menyiapkan naskah pidatonya.

Setelah pidato selesai ditulis, setiap hari dia membacanya dengan suara keras di dalam kamar, berulang-ulang, hingga dia bisa menghafalnya di luar kepala.

Hari ujian pun tiba. Dengan penuh percaya diri, dia datang ke lokasi ujian. Setelah mengambil nomor undian, dia duduk di bawah panggung untuk mendengarkan pidato para peserta yang tampil sebelum dirinya.

Tinggal satu orang lagi sebelum gilirannya tiba, ketika tiba-tiba dia terkejut luar biasa: Isi pidato peserta yang sedang berbicara di atas panggung persis sama dengan pidatonya sendiri!

Dia memperhatikan lebih saksama dan baru menyadari bahwa peserta tersebut adalah orang yang menginap di kamar sebelahnya.

Tak perlu diragukan lagi—orang itu telah mendengar dia berlatih membaca pidato di kamar, lalu menjiplak seluruh isi pidatonya.

Sebentar lagi gilirannya tiba.

Dia menahan amarah dan kepanikan yang membuncah di dalam hati, berusaha keras mencari jalan keluar.

Tiba-tiba, sebuah ide cemerlang muncul di benaknya…

Kini tiba gilirannya berbicara.

Pemuda itu melangkah ke atas panggung dan dengan tenang berkata:

“……”

Pidatonya justru disambut dengan tepuk tangan meriah, dan pada akhirnya dia berhasil lulus ujian.

Lalu, apa yang sebenarnya dia lakukan?

Ingin tahu caranya?

Begini kisah aslinya:

Pemuda itu berdiri di atas panggung dan berkata dengan santai: “Untuk menjadi seorang pendeta, seseorang harus memiliki kesabaran, kemampuan mendengarkan, dan daya ingat yang baik. Sekarang, saya akan memperagakannya—saya akan mengulangi pidato peserta sebelumnya.”

Setelah itu, dia mulai membacakan pidato yang telah dia persiapkan dengan sangat matang, bahkan menyampaikannya dengan lebih baik dan lebih hidup dibanding peserta sebelumnya.

Tepuk tangan pun kembali menggema di seluruh ruangan.

Hikmah Cerita

Ini adalah kisah yang ringan namun penuh kecerdikan dan inspirasi. 

Hal pertama yang terlintas di benak kami setelah membaca cerita ini adalah pepatah:  “Dinding pun bisa punya telinga—kerahasiaan itu penting.”

Yang lebih patut dikagumi adalah kebijaksanaan dan kecerdasan emosional sang pemuda. Naskah pidatonya dicuri, tetapi dia mampu menahan amarah, menenangkan diri, dan menemukan solusi yang elegan.

Di sisi lain, meskipun caranya keliru, daya ingat peserta yang menjiplak pidato itu pun luar biasa—dia mampu menghafal isi pidato hanya dari mendengarkan latihan orang lain.

Cerita ini mengajarkan kita bahwa dalam hidup, kecerdikan, ketenangan, dan sikap dewasa sering kali jauh lebih menentukan hasil daripada kemarahan dan kepanikan. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine