EtIndonesia. Pada zaman Tibet kuno, hiduplah seorang pria bernama Aidiba. Setiap kali dia marah atau terlibat pertengkaran dengan orang lain, dia akan berlari pulang dengan cepat, lalu mengelilingi rumah dan tanahnya sebanyak tiga putaran, setelah itu duduk di tepi ladang sambil terengah-engah.
Aidiba adalah orang yang sangat rajin dan pekerja keras. Seiring waktu, rumahnya semakin besar dan tanahnya semakin luas. Namun, tak peduli sebesar apa rumah dan tanahnya, setiap kali dia bertengkar dan marah, dia tetap mengelilingi rumah dan tanahnya tiga kali.
Mengapa Aidiba selalu melakukan hal itu saat marah?
Semua orang yang mengenalnya merasa heran. Namun, tak peduli bagaimana mereka bertanya, Aidiba tidak pernah mau menjelaskan alasannya.
Hingga suatu hari, Aidiba telah menjadi sangat tua, dan tanah serta rumahnya sudah terlalu luas. Suatu kali dia kembali marah. Dengan bertopang tongkat, dia bersusah payah mengelilingi rumah dan tanahnya. Ketika akhirnya selesai tiga putaran, matahari pun sudah terbenam.
Aidiba duduk sendirian di tepi ladang, terengah-engah.
Cucu laki-lakinya mendekat dan memohon : “Kakek, usia Kakek sudah lanjut. Di daerah ini tidak ada seorang pun yang memiliki tanah lebih luas dari Kakek. Kakek tidak bisa lagi seperti dulu—setiap marah harus mengelilingi tanah. Tolong ceritakan rahasianya, mengapa setiap marah Kakek selalu berjalan mengelilingi rumah dan tanah sebanyak tiga kali?”
Tak sanggup menolak permohonan cucunya, Aidiba akhirnya mengungkapkan rahasia yang dia simpan bertahun-tahun.
Dia berkata: “Saat masih muda, setiap kali aku bertengkar, berdebat, atau marah, aku akan berlari mengelilingi rumah dan tanahku tiga kali. Sambil berlari, aku berpikir: rumahku sekecil ini, tanahku juga sekecil ini—dari mana aku punya waktu dan kelayakan untuk marah kepada orang lain? Begitu memikirkannya, amarahku pun mereda. Setelah itu, aku menggunakan seluruh waktuku untuk bekerja keras.”
Cucunya bertanya lagi : “Kalau begitu, Kakek sekarang sudah tua dan menjadi orang terkaya. Mengapa Kakek masih tetap mengelilingi rumah dan tanah saat marah?”
Aidiba tersenyum dan menjawab : “Sekarang pun aku masih bisa marah. Saat marah, aku berjalan mengelilingi rumah dan tanahku tiga kali, sambil berpikir: rumahku sudah sebesar ini, tanahku sudah sebanyak ini—mengapa aku masih harus mempermasalahkan hal-hal kecil dengan orang lain? Begitu memikirkannya, amarahku pun hilang.”
Setiap mawar memiliki duri; sebagaimana setiap orang memiliki sisi kepribadian yang mungkin tidak bisa kita terima.
Mencintai sekuntum mawar bukan berarti harus mencabut semua durinya, melainkan belajar bagaimana agar tidak terluka olehnya—dan juga belajar bagaimana agar duri kita sendiri tidak melukai orang yang kita cintai.
Hikmah Cerita
Saat manusia bertengkar, sering kali kata-kata kasar justru memperkeruh keadaan dan merusak hubungan. Cara Aidiba menghadapi amarah—menghentikan percakapan, menjauh sejenak dari situasi, dan memberi waktu bagi diri sendiri untuk menenangkan hati—adalah sebuah kebijaksanaan.
Dengan menenangkan diri terlebih dahulu, kita terhindar dari kemarahan yang membutakan akal dan ucapan yang melukai. Setelah hati kembali tenang, barulah masalah bisa dihadapi dengan kepala dingin—dan hubungan antarmanusia pun menjadi lebih damai dan harmonis.(jhn/yn)


