Setengah Potong Steak

EtIndonesia. Suatu hari pada tahun 1975, Konosuke Matsushita—Presiden Matsushita Electric (kini Panasonic)—bersama seorang rekan kerjanya, Tuan Ogawa, menjamu tamu di sebuah restoran di Osaka. Enam orang sepakat bertemu tepat tengah hari. Setelah saling berkenalan dan berbincang ringan, semua memesan steak.

Konosuke Matsushita minum dua gelas bir sambil bercerita tentang perjalanan usaha dan sejarah perusahaan.

Setelah keenam orang selesai menyantap hidangan utama, Matsushita mendekat ke Ogawa dan berbisik pelan, memintanya memanggil koki yang memasak steak—dengan penekanan khusus :  “Jangan manajer. Panggil kokinya.”

Ogawa segera menyadari bahwa steak Matsushita baru dimakan setengahnya. Dia pun bersiap, membayangkan suasana yang mungkin akan menjadi canggung.

Ketika koki datang ke meja, dia tampak tegang—dia tahu tamu yang memanggilnya adalah sosok penting.

“Apakah ada masalah?” tanya sang koki dengan gugup.

Matsushita berkata dengan tenang : “Bagi Anda, memasak steak tentu bukan masalah. Namun saya hanya mampu memakan setengahnya. Alasannya bukan karena masakan Anda—steaknya sangat lezat. Hanya saja usia saya sudah delapan puluh tahun, selera makan saya tidak seperti dulu.”

Sang koki dan lima tamu lainnya saling berpandangan, bingung. Butuh beberapa saat bagi mereka untuk memahami maksudnya.

Matsushita melanjutkan : “Saya ingin berbicara dengan Anda karena saya khawatir—ketika melihat steak yang hanya dimakan setengah kembali ke dapur—Anda akan merasa sedih.”

Jika Anda berada di posisi sang koki, apa yang akan Anda rasakan setelah mendengar penjelasan seperti itu?
– Merasa dihormati?
– Dihargai dan didukung?
– Atau dipahami dengan penuh empati dan perhatian?

Bayangkan jika hubungan Matsushita dan sang koki itu adalah hubungan atasan–bawahan. Sosok atasan seperti ini akan dikenang sebagai pemimpin yang punya empati, tulus peduli pada orang lain, serta pandai mengakui dan membangkitkan semangat.

Sebaliknya, sejauh mana Anda memahami orang lain? Faktor apa yang membuat karyawan atau rekan kerja bersedia mengikuti Anda?

Apakah semata demi penghidupan? Demi gaji? Atau karena ada kegembiraan dan rasa pencapaian dalam bekerja?

Lewat kisah ini, kita belajar bagaimana memenangkan hati lebih banyak orang.

Hikmah Cerita

“Setengah potong steak” dengan sederhana menegaskan satu makna penting: memimpin orang, harus dengan hati. Kita juga diajak belajar untuk tidak menghakimi atau berasumsi lebih dulu, karena kenyataan sering kali jauh dari dugaan.

Kesuksesan Konosuke Matsushita sangat mungkin berakar pada kemampuannya menyentuh hati karyawan, sehingga mereka bekerja dengan sukarela dan sepenuh hati. Kita pun diingatkan bahwa dorongan dan pengakuan sering kali lebih ampuh daripada kritik—bahkan mampu memunculkan kemampuan yang melampaui kebiasaan.

Karena pada akhirnya, manusia adalah makhluk yang tumbuh dengan pengakuan dan dorongan. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine