Mengosongkan Hati 

EtIndonesia. Pada zaman dahulu, ada seorang cendekiawan yang pergi menemui seorang biksu tua. Sang biksu, mengikuti alur sebab dan kondisi, menceritakan tentang keagungan Alam Sukhavati (Tanah Suci Barat) dan berharap cendekiawan itu bertekad untuk terlahir kembali di sana.

Namun cendekiawan itu menjawab:  “Dalam keseharian saya, saya paling suka minum sedikit arak ditemani kacang tanah. Saya ingin bertanya kepada Guru, apakah di Alam Sukhavati juga ada arak dan kacang tanah?”

Biksu tua itu merasa sangat sulit menjawab pertanyaan tersebut secara langsung, maka dia pun memilih untuk menceritakan sebuah kisah.

Biksu tua berkata :  “Aku sendiri belum pernah pergi ke Alam Sukhavati. Apakah di sana ada arak dan kacang tanah, aku juga tidak tahu. Namun izinkan aku menceritakan sebuah kisah terlebih dahulu.”

Dahulu kala, ada seekor anjing hitam dan seekor anjing putih. Di dunia para anjing, beredar sebuah legenda bahwa anjing putih akan bereinkarnasi menjadi manusia pada kehidupan berikutnya.

Karena itu, anjing hitam berkata kepada anjing putih: “Selamat! Di kehidupan berikutnya kamu bisa menjadi manusia—bisa mengenakan pakaian indah dan berjalan dengan dua kaki. Aku sungguh iri padamu.”

Namun anjing putih menjawab dengan nada muram : “Menjadi manusia tentu membahagiakan, tetapi aku mengkhawatirkan satu hal. Aku paling suka memakan sisa sayur dan remah daging. Jika kelak aku terlahir sebagai manusia, entah apakah aku masih bisa menikmati makanan lezat itu.”

Kisah ini mengingatkanku pada seseorang yang pernah bertanya : “Jika kelak sampai di Alam Sukhavati, apakah kita masih akan mengingat orangtua dan teman-teman di sekitar kita?”

Sering kali, kita justru terperdaya oleh apa yang tampak di depan mata tanpa menyadarinya. Seperti matahari—kapan sebenarnya matahari terbit dan terbenam? Yang ada hanyalah bumi berputar, lalu muncullah ilusi naik dan turun itu semata.

Hikmah Cerita 

Dalam kisah ini, kita melihat perbedaan antara manusia dan anjing. Manusia tidak benar-benar mengetahui seperti apa Alam Sukhavati, karena tempat itu hanya “didengar” dari cerita orang lain—belum pernah ada yang benar-benar kembali dari sana. Sementara anjing berbeda; mereka setiap hari “melihat” kehidupan manusia.

Namun mungkin justru karena anjing putih itu telah melihat begitu banyak perbedaan nasib manusia—ada manusia yang hidupnya lebih baik dari anjing, tetapi ada pula manusia yang hidupnya bahkan lebih buruk dari anjing. Jika benar-benar terlahir sebagai manusia namun hidupnya justru lebih menderita daripada seekor anjing, bukankah itu sungguh menyedihkan?

Dalam pandanganku sendiri, aku tidak terlalu iri pada kehidupan setelah kematian di Alam Sukhavati. Sejak dulu hingga kini, ada manusia yang iri pada para dewa, dan ada pula dewa yang iri pada manusia. Mungkin baik dewa maupun manusia hanyalah bentuk ilusi belaka.

Yang benar-benar nyata adalah menjalani setiap hari dengan hati yang lapang, pikiran yang jernih, dan kebahagiaan yang sederhana. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine