Reaksi Para Biarawati

EtIndonesia. Ada dua orang biarawati—yang satu adalah Biarawati Matematika, dan yang lain Biarawati Logika. Hari sudah hampir gelap, sementara jarak mereka ke biara masih cukup jauh.

Matematika: “Apakah kamu menyadari bahwa ada seorang pria di belakang kita yang sudah mengikuti kita selama tiga puluh delapan menit tiga puluh detik? Aku tidak tahu apa yang ingin dia lakukan.”

Logika: “Kesimpulan yang masuk akal: dia berniat menyerang kita.”

Matematika: “Ya Tuhan! Dengan kecepatan seperti ini, dia akan menangkap kita dalam lima belas menit. Apa yang harus kita lakukan?”

Logika: “Satu-satunya cara yang masuk akal tentu saja berjalan lebih cepat.”

Matematika: “Tapi dengan kecepatan sekarang, dia bahkan bisa menangkap kita dalam satu menit!”

Logika: “Kalau begitu, satu-satunya cara yang masuk akal adalah kita berpisah. Kamu lari ke arah sana, aku ke arah sini. Dia tidak mungkin menangkap kita berdua.”

Akhirnya, pria itu memilih untuk terus mengikuti Biarawati Logika…

Biarawati Matematika tiba dengan selamat di biara, namun sangat khawatir dengan keadaan Biarawati Logika. Tak lama kemudian, dia melihat Biarawati Logika masuk ke gerbang biara.

Matematika: “Puji Tuhan! Kamu akhirnya kembali! Cepat ceritakan, apa yang terjadi?”

Logika: “Setelah dia terus mengikutiku, terjadilah satu-satunya hal yang masuk akal.”

Matematika:“Apa hal yang masuk akal itu?”

Logika: “Dia berhasil menangkapku.”

Matematika: “Ya Tuhan! Lalu apa yang kamu lakukan?”

Logika: “Aku melakukan satu-satunya hal yang masuk akal—aku mengangkat rokku.”

Matematika: “Ya Tuhan… lalu pria itu?”

Logika: “Dia juga melakukan satu-satunya hal yang masuk akal—menurunkan celananya.”

Matematika: “Ya ampun! Lalu bagaimana akhirnya?”

Logika: “Hasilnya tentu sangat masuk akal. Seorang biarawati yang mengangkat roknya pasti bisa berlari jauh lebih cepat daripada seorang pria yang menurunkan celananya, bukan begitu?”

Kamu yang tadi sempat berpikir ke mana-mana… cepat ucapkan dua kali: “Amin!”

Hikmah Cerita 

Ternyata, yang dimaksud Biarawati Logika sejak awal hanyalah: saat tertangkap, mengangkat rok panjang agar lebih mudah berlari dan melarikan diri. Amin… Amin… aku akui, tadi sempat salah paham sedikit.

Logika membantu segala sesuatu berjalan sesuai alur yang wajar. Namun, imajinasi yang “melompat-lompat” tanpa logika juga sering menjadi bahan bakar kreativitas dan kemajuan. Justru dari pergantian antara logika dan non-logika, manusia belajar, berpikir, dan berkembang. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine