Takdir Dua Pohon

EtIndonesia. Seorang petani menanam dua biji benih di ladangnya. Tak lama kemudian, keduanya tumbuh menjadi dua pohon muda dengan ukuran yang sama.

Pohon pertama sejak awal bertekad untuk tumbuh menjadi pohon besar yang menjulang tinggi. Karena itu, dia dengan sungguh-sungguh menyerap nutrisi dari dalam tanah.

Semua nutrisi itu disimpannya dengan baik untuk menyehatkan setiap batang dan cabangnya, sambil terus merencanakan bagaimana caranya tumbuh ke atas dan menyempurnakan dirinya.

Karena fokus tersebut, selama beberapa tahun pertama pohon itu belum juga berbuah. Hal ini membuat sang petani merasa resah dan khawatir.

Sebaliknya, pohon kedua juga berusaha keras menyerap nutrisi dari tanah, tetapi tujuannya berbeda—dia ingin secepat mungkin berbunga dan berbuah. Dan memang, dia berhasil melakukannya.

Hal itu membuat petani sangat menyukainya dan dia pun sering menyiram serta merawat pohon tersebut.

Waktu berlalu dengan cepat. Pohon yang lama tidak berbuah itu, karena tubuhnya kuat dan cadangan nutrisinya melimpah, akhirnya menghasilkan buah yang besar dan manis.

Sementara itu, pohon yang terlalu cepat berbunga dan berbuah justru karena belum matang sepenuhnya, sudah dipaksa memikul tanggung jawab berbuah. Akibatnya, buah yang dihasilkannya terasa pahit dan tidak enak.

Buahnya tidak disukai, dan beban yang terlalu berat bahkan membuat batangnya membungkuk ke tanah.

Petani tua itu menghela napas panjang dengan heran. Akhirnya, dia menebang pohon tersebut dengan kapak dan membakarnya.

Keinginan untuk meraih hasil secara tergesa-gesa pada akhirnya hanya akan membawa kegagalan.

Karena itu, ada baiknya kita memandang lebih jauh ke depan, memusatkan perhatian pada proses memperkaya diri dengan pengetahuan dan pengalaman. Dengan fondasi yang kuat dan persiapan yang matang, hasil besar akan datang dengan sendirinya—semuanya akan mengalir secara alami.

Hikmah Cerita

Setelah membaca kisah singkat ini, selain pesan utama tentang pentingnya menimbun pengetahuan dan mempersiapkan diri secara matang sebelum berkembang besar, kita juga bisa menangkap pelajaran lain yang tak kalah penting: selain berusaha keras mengembangkan diri dan menunggu saat bersinar, seseorang juga perlu bertemu dengan orang yang mampu mengenali dan menghargai potensi dirinya.

Sebab, baik sebuah pohon maupun seorang talenta tidak bisa tumbuh dan matang dalam semalam. Jika petani itu tidak cukup sabar, bukan tidak mungkin dia akan menebang pohon besar tersebut lebih awal hanya karena belum berbuah—entah untuk dijadikan perabot atau sekadar kayu bakar.

Maka selain terus mengasah kebijaksanaan dan kemampuan diri, kita juga perlu menemukan pemimpin atau lingkungan yang mampu menghargai potensi. Seperti pepatah lama: kuda seribu mil tetap membutuhkan Bole yang mampu mengenalinya. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine