EtIndonesia. Suatu ketika, sekelompok murid hendak berangkat melakukan ziarah suci.
Sang guru mengambil sebuah pare, lalu berkata kepada para muridnya: “Bawalah pare ini bersama kalian. Ingat, rendamkan pare ini di setiap sungai suci yang kalian lewati. Bawalah pula ke setiap kuil yang kalian datangi, letakkan di atas altar persembahan, dan sembahlah pare ini.”
Para murid pun berangkat. Mereka melewati banyak sungai suci dan kuil, dan semuanya dilakukan persis seperti yang diperintahkan dan diajarkan oleh sang guru. Setelah ziarah selesai, mereka kembali dan menyerahkan pare itu kepada sang guru.
Sang guru lalu meminta mereka memasak pare tersebut untuk dijadikan hidangan makan malam.
Saat makan malam, sang guru mengambil satu suapan, lalu berkata dengan nada penuh makna: “Aneh sekali. Pare ini sudah direndam di begitu banyak air suci, masuk ke begitu banyak kuil, namun ternyata tetap saja tidak menjadi manis.”
Mendengar itu, beberapa murid seketika mencapai pencerahan. Sungguh sebuah ajaran yang menyentuh hati.
Hakikat pare adalah pahit. Dia tidak akan berubah hanya karena direndam air suci atau dibawa ke kuil.
Hidup itu pahit. Cinta juga pahit. Bahkan kehidupan yang lahir dari cinta pun pada hakikatnya tetap pahit. Kenyataan ini bahkan tidak bisa diubah oleh seorang pertapa, apalagi oleh manusia biasa.
Mereka yang telah mencicipi pahitnya kehidupan dan cinta, tidak mungkin mengatakan kepada orang lain bahwa patah hati adalah sesuatu yang patut disyukuri—karena memang rasanya pahit. Pada tingkat ini, hakikatnya tidak akan pernah berubah.
Namun, orang yang tidak pernah memakan pare, tidak akan pernah tahu bahwa pare itu pahit.
Kebanyakan orang, asalkan sudah siap menerima rasa pahit, saat pare itu dimasak dan dimakan, suapan pertama memang terasa pahit, tetapi suapan kedua dan ketiga tidak lagi sepahit sebelumnya.
Begitu pula seharusnya sikap kita terhadap hidup dan cinta—selalu bersiap menghadapi penderitaan.
Bukan dengan berharap pare itu berubah menjadi manis, melainkan dengan benar-benar mengenali dan memahami rasa pahitnya. Itulah sikap yang bijaksana.
Bukan berharap pare menjadi manis, tetapi dengan jujur mengalami dan menyadari bahwa pare memang pahit sejak awal, bahkan pahit sampai ke akarnya.
Itulah realitas dan kebenaran sejati dari pare. Menjadi manis? Itu hanyalah harapan semu kita sendiri.
Hanya dengan menghadapi kebenaran apa adanya, kita baru bisa memahami bahwa segala persoalan harus dihadapi dan diselesaikan saat ini juga, tanpa menggantungkan diri pada harapan masa depan. Dengan begitu, barulah masalah benar-benar bisa ditangani dan dilepaskan.
Hidup yang utuh dan sempurna bukanlah hidup yang tidak pernah merasakan pahitnya perjuangan atau sakitnya patah hati, melainkan hidup yang telah mengalami, merasakan, dan berani menghadapi kepahitan serta makna cinta sejati. Itulah kehidupan yang benar-benar paripurna.
Hikmah Cerita
Pare memang pahit saat dimakan, tetapi setelah rasa pahit itu berlalu, akan muncul sensasi manis yang lembut. Menggunakan pare sebagai perumpamaan hidup terasa sangat tepat. Hidup memang pahit, tetapi setelah melalui kerja keras dan perjuangan, rasa yang tertinggal justru manis dan berharga. Dan hanya mereka yang pernah bersusah payahlah yang benar-benar mampu menghargai manisnya rasa “setelah pahit” itu.


