Tahukah Anda Cara Berkomunikasi?

EtIndonesia. Ada seorang ibu mertua yang sangat pandai bersikap dan berinteraksi dengan orang lain. Setelah menikah, anak dan menantunya pergi ke Amerika untuk melanjutkan studi. Suatu hari, sang ibu mertua datang berkunjung ke Amerika untuk menjenguk mereka. Dia mendapati putranya terlihat gemuk, sementara menantunya justru tampak kurus. 

Hatinya pun terasa perih melihat menantunya, lalu dia berkata penuh keprihatinan: “Kenapa kamu bisa kurus sampai seperti ini?”

Menantu yang masih muda itu tak kuasa menahan perasaan. Dia pun mencurahkan keluh kesahnya kepada sang ibu mertua, mengeluhkan suaminya yang malas mengurus pekerjaan rumah, tidak cekatan dalam urusan sehari-hari, bahkan saat di luar rumah pun sering tersesat. Apa pun yang dikerjakannya selalu saja salah.

Padahal, di dunia ini hampir tidak ada ibu mertua yang ingin mendengar menantunya mengeluhkan anaknya sendiri.

Sebagian besar ibu mertua biasanya akan langsung membela sang anak. Namun ibu mertua modern ini sangat cerdas. 

Setelah mendengarkan keluhan menantunya, dia hanya tersenyum dan berkata pelan : “Tapi ada satu hal yang dia lakukan dengan sangat benar.”

“Apa itu?” tanya sang menantu.

 “Yaitu menikah denganmu.”

 Mendengar itu, sang menantu pun terdiam, tak mampu berkata apa-apa.

Ada pula seorang suami yang sangat tahu cara bersikap. Dia bekerja dengan sepenuh tenaga. Setelah menikah, karena perusahaan menerapkan pembekuan perekrutan karyawan—posisi kosong tidak diisi—beban kerjanya pun semakin berat. Setiap hari dia harus lembur.

Sang istri yang baru menikah memahami bahwa suaminya bekerja keras, tetapi tetap saja muncul keraguan di dalam hatinya:  “Benarkah pekerjaannya sebanyak itu? Selalu pulang larut, bahkan setelah sampai rumah masih harus rapat daring sampai tengah malam. Hidup seperti ini sama sekali tidak berkualitas.”

Suatu hari, sang suami sudah berjanji akan makan malam bersama istrinya, tetapi karena lembur mendadak, janji itu kembali dibatalkan.

Istri yang sendirian di rumah merasa kesal. Begitu suaminya membuka pintu dan pulang, fia tak kuasa meluapkan kekesalannya: “Memangnya kalau hari ini tidak lembur, perusahaan akan bangkrut? Kenapa harus menyiksa diri sendiri seperti ini? Tidak bisakah kamu bilang pada atasan bahwa kamu tidak bisa lembur setiap hari?”

Tidak ada suami yang sanggup menahan disiram omelan ketika tubuh dan pikirannya sudah sangat lelah.

Namun, dalam kondisi letih itu, sang suami justru berkata dengan lembut : “Kamu tahu tidak? Saat aku lembur, memikirkanmu adalah satu-satunya penghiburanku.”

Sang istri pun tersenyum cerah seperti bunga persik yang bermekaran tertiup angin musim semi. Dia tak lagi mempermasalahkan makan malam yang batal itu.

Semua ini adalah bentuk kebijaksanaan yang lahir dari humor.

Humor tingkat tertinggi adalah ketika, pada saat yang secara logis seseorang seharusnya marah, dia justru mampu membalikkan suasana, dengan ringan memadamkan sumbu amarah yang sudah terlanjur menyala.

Banyak orang keliru mengira bahwa ketika orang lain marah, diam dan menahan diri adalah satu-satunya jalan.

Padahal, diam dan menahan diri sering kali justru membuat pihak yang marah semakin tersulut emosinya. Akan jauh lebih baik jika kita belajar seni berbicara yang mampu “mengangkat beban besar dengan kekuatan kecil” — sebuah keahlian hidup yang luar biasa dalam bersikap sebagai manusia.

Hikmah Cerita

Saya telah membaca banyak kisah dan artikel tentang seni berbicara. Yang paling membekas bagi saya adalah satu hal: orang-orang yang pandai berbicara belum tentu adalah orang yang sangat cerdas, tetapi hampir pasti mereka memiliki EQ yang sangat baik.

Hanya mereka yang mampu mengelola emosinya sendiri dengan baik, yang bisa menjaga tutur kata dan sikapnya.

Karena itu, sebelum mempelajari humor dan teknik berbicara, yang paling utama adalah belajar mengelola EQ. Tanpa EQ yang baik, sehebat apa pun kemampuan berbicara seseorang, ia tetap berisiko kehilangan kendali emosi dan mengucapkan kata-kata yang bisa disesali seumur hidup. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine