EtIndonesia. Seorang pemuda sedang berbelanja di sebuah supermarket. Dia menyadari bahwa ada seorang nenek bertubuh kecil dan kurus yang terus berjalan di belakangnya. Saat dia berhenti, nenek itu ikut berhenti.
Bahkan, nenek itu mulai menatapnya dengan saksama.
Akhirnya, nenek tersebut mendahuluinya dan ketika berada di depan kasir, dia menoleh dan menyapanya: “Aku harap aku tidak membuatmu merasa tidak nyaman. Wajahmu sangat mirip dengan putraku yang telah meninggal.”
“Oh, tidak apa-apa,” jawab si pemuda dengan penuh simpati.
“Aku tahu permintaanku ini agak tidak pantas, tetapi jika sebelum aku keluar dari supermarket ini kamu mau memanggilku dengan sebutan ‘Ibu’ dan berkata ‘sampai jumpa’, aku akan sangat bahagia.”
Nenek itu lalu menyelesaikan pembayarannya.
Saat dia hendak melangkah keluar dari supermarket, si pemuda pun memanggil dengan lantang: “Ibu, sampai jumpa.”
Nenek itu melambaikan tangan dan tersenyum hangat sebagai balasan.
Si pemuda merasa senang karena telah membuat hari seorang nenek asing menjadi lebih bahagia.
Kemudian tibalah giliran si pemuda membayar belanjaannya.
Kasir berkata : “Totalnya empat ribu tiga ratus lima puluh dolar.”
“Bagaimana bisa sebanyak itu? Saya hanya membeli lima barang,” protesnya terkejut.
“Benar, tetapi ibu Anda tadi mengatakan bahwa Anda juga akan membayarkan belanjaannya,” ” jawab kasir.
Apakah cerita ini membuat Anda terharu? Atau justru tertawa terbahak-bahak?
Ini adalah kisah berbagi pengalaman penipuan yang pernah terjadi di Amerika.
Hikmah Cerita
Saat pertama membaca kisah ini, saya sempat mengira ini adalah cerita yang menyentuh hati. Perasaan mulai dibawa ke suasana haru, namun tiba-tiba cerita berakhir dengan penutup yang benar-benar di luar dugaan. Emosi pun berubah dari hangat, menjadi tersentuh, lalu terkejut, beralih ke tertawa, dan akhirnya berakhir pada rasa tidak nyaman.
Di tengah maraknya penipuan, orang-orang menjadi semakin takut untuk tertipu, bahkan takut untuk menolong. Kehilangan uang mungkin masih bisa diterima, tetapi dalam kasus yang lebih serius, seseorang bisa kehilangan reputasi, bahkan nyawa. Akibatnya, banyak orang menjadi ragu untuk membantu mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan.
Jangan pernah menggunakan ketulusan dan kebaikan hati orang lain demi kepentingan pribadi. Kebaikan akan kembali, begitu pula keburukan. Setiap orang pasti akan berada pada saat membutuhkan bantuan orang lain. Jika suatu hari kepercayaan di antara sesama benar-benar hilang, maka kita sendiri—atau keluarga kita—yang pada akhirnya akan menanggung akibatnya.
Metode penipuan terus berkembang dan semakin sulit dikenali. Karena itu, tetaplah waspada dalam kehidupan sehari-hari. Jika menemukan indikasi penipuan, segera hubungi pihak berwenang yang terkait. (jhn/yn)


