EtIndonesia. Zuo Zongtang sangat gemar bermain catur. Bukan sekadar hobi, dia juga dikenal sebagai pemain yang sangat piawai. Bahkan, para bawahannya hampir tidak ada yang mampu menandingi permainannya.
Suatu ketika, Zuo Zongtang menyamar dan melakukan perjalanan diam-diam. Di tengah perjalanan, dia melihat sebuah gubuk sederhana.
Pada balok penyangga gubuk itu tergantung sebuah papan bertuliskan: “Pemain Catur Terbaik di Bawah Langit.”
Zuo Zongtang merasa tidak terima. Dia pun masuk ke dalam gubuk tersebut dan menantang pemiliknya bermain tiga babak catur.
Hasilnya, pemilik gubuk kalah di ketiga babak.
Zuo Zongtang tertawa sambil berkata: “Kamu sebaiknya menurunkan papan itu!”
Dengan penuh percaya diri dan hati yang gembira : Zuo Zongtang pun melanjutkan perjalanannya.
Tak lama kemudian, setelah memimpin pasukan dan kembali ke ibu kota dalam keadaan menang perang, Zuo Zongtang kembali melewati tempat itu.
Rasa penasaran mendorongnya untuk kembali mengunjungi gubuk tersebut. Namun dia terkejut— papan bertuliskan “Pemain Catur Terbaik di Bawah Langit” ternyata masih tergantung di tempatnya.
Dia pun masuk lagi dan kembali bermain tiga babak dengan pemilik gubuk.
Kali ini, Zuo Zongtang kalah di ketiga babak.
Dia sangat terkejut dan bertanya kepada pemilik gubuk : “Bagaimana bisa hasilnya berbalik seperti ini?”
Pemilik gubuk itu menjawab dengan tenang : “Pada kunjungan Anda sebelumnya, Anda sedang mengemban tugas besar dan harus memimpin pasukan ke medan perang. Saya tidak ingin mematahkan semangat dan kepercayaan diri Anda. Sekarang, Anda telah kembali dengan kemenangan. Maka kali ini, tentu saja saya bermain dengan seluruh kemampuan saya, tanpa perlu mengalah lagi.”
Sesungguhnya, orang yang benar-benar hebat adalah mereka yang mampu menang, tetapi memilih untuk mengalah — karena memiliki kelapangan dada untuk memberi ruang bagi orang lain.
Mereka bisa menang, tetapi tidak selalu harus menang, karena memiliki empati dan pengertian terhadap situasi orang lain.
Bukankah demikian?
Hikmah Cerita
Keinginan untuk menang adalah sifat manusiawi. Namun, mampu menang lalu memilih untuk menahan diri demi memahami kondisi dan perasaan orang lain— itulah kelapangan hati yang sungguh patut dihormati.
Daya saing memang menjadi salah satu pendorong utama kemajuan manusia. Namun jika di dalam semangat untuk menang itu ditambahkan sedikit toleransi dan empati, maka hidup akan terasa jauh lebih utuh dan harmonis.
Kisah ini juga mengingatkan kita bahwa di dunia ini, orang berbakat dan berkemampuan luar biasa jumlahnya tak terhitung. Karena itu, jangan pernah sombong atas kemampuan diri sendiri.
Sebab selalu ada orang yang lebih hebat, dan selalu ada langit yang lebih tinggi dari langit yang kita lihat.
Maka, bersikap rendah hati adalah kebijaksanaan yang paling berharga dalam hidup.(jhn/yn)


