Rumah Sang Tukang Kayu

EtIndonesia. Seorang tukang kayu yang sudah berusia lanjut bersiap untuk pensiun. Dia memberi tahu majikannya bahwa dia tidak ingin lagi membangun rumah. Dia ingin menikmati sisa hidupnya bersama sang istri dalam suasana yang lebih santai dan tenang.

Meski masih merasa berat meninggalkan penghasilan yang ia peroleh, dia tahu bahwa waktunya untuk pensiun telah tiba.

Sang majikan merasa sangat menyesal kehilangan pekerja yang begitu baik. Dia lalu meminta satu permintaan terakhir: apakah sang tukang kayu bersedia membangun satu rumah lagi, sebagai bantuan pribadi untuknya.

Tukang kayu itu pun menyetujuinya.

Namun, pikirannya sudah tidak sepenuhnya tertuju pada pekerjaannya. Keahliannya menurun, dan dia bahkan mulai bekerja asal-asalan serta menghemat bahan.

Setelah rumah itu selesai dibangun, sang majikan datang menemuinya.


Dia menepuk bahu sang tukang kayu, lalu berkata dengan tulus : “Rumah ini milikmu. Anggap saja ini hadiah dariku untukmu.”

Tukang kayu itu terkejut setengah mati.

Dia merasa sangat malu. Seandainya sejak awal dia tahu bahwa rumah itu dibangun untuk dirinya sendiri, pasti dia akan bekerja dengan cara yang sama sekali berbeda.

Tukang kayu itu adalah dirimu.

Setiap hari, kamu memaku satu paku, memasang satu papan, dan mendirikan satu dinding. Namun sering kali, kamu tidak mengerjakannya dengan sepenuh hati dan segenap kemampuan.

Hingga suatu hari, kamu tersentak menyadari bahwa kamu harus tinggal di rumah yang kamu bangun sendiri.

Hidup adalah sebuah proyek yang kita kerjakan sendiri. Sikap kita dalam bekerja hari ini akan menentukan rumah seperti apa yang akan kita tinggali di masa depan.

Hikmah Cerita

Pepatah mengatakan: “Saat buku dibutuhkan, barulah menyesal karena dulu tidak banyak membaca.”

Banyak orang saat masih muda hanya tahu bermain dan bersenang-senang, tanpa mau bersungguh-sungguh belajar dan mengasah diri. Baru setelah terjun ke masyarakat, mereka menyadari betapa lemahnya daya saing yang dimiliki, lalu menyesali waktu muda yang terbuang sia-sia.

Sebagian besar orang menghabiskan hari-harinya dalam lingkaran keluhan dan penyesalan.

Setiap hari mengulang pertanyaan yang sama:  “Mengapa dulu aku tidak berusaha lebih keras, hingga sekarang hidup terasa begitu berat?”

Padahal mereka tidak menyadari satu hal penting:  usaha hari ini menentukan kualitas hidup di masa depan.

Belajar tidak pernah kata terlambat. Selama kita mau terus belajar dan mengembangkan keterampilan diri, maka dalam beberapa tahun ke depan, daya saing akan meningkat  dan kualitas hidup pun akan ikut membaik.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Chemistry Tumbuh dari Kedekatan: Mengapa Kencan Tatap Muka Masih Tak Tergantikan di Era Digital

Di era ketika lebih dari setengah lajang berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi kencan, berbagai bukti menunjukkan bahwa pendekatan digital terhadap percintaan mungkin...

Mengapa Introvert dan Ekstrovert Sama-Sama Berperan Penting dengan Kekuatan Mereka yang Unik

Cara sistem saraf kita merespons lingkungan sosial mencerminkan lebih dari sekadar kepribadian. Oleh Sarah Campise Hallier Dua orang teman memasuki sebuah bar karaoke. Yang satu langsung...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine