EtIndonesia. Di Inggris, pada kemasan bohlam lampu selalu tercetak peringatan: “Do not put that object into your mouth.” Artinya: Jangan memasukkan benda ini ke dalam mulut.
Astaga… Siapa pula yang iseng memasukkan bohlam ke dalam mulut? Orang Inggris ini ada-ada saja…
Tapi tunggu dulu— dalam hidup ini, tidak ada yang benar-benar mustahil!
Suatu hari, aku sedang menonton televisi di rumah bersama seorang teman asal India. Aku menceritakan soal peringatan aneh di kemasan bohlam itu.
Dia langsung berkata bahwa di buku pelajaran sekolah dasar di negaranya juga tertulis hal yang sama: jika bohlam dimasukkan ke dalam mulut, maka bohlam itu akan tersangkut dan tidak akan bisa dikeluarkan lagi, apa pun caranya. Dia sangat yakin, karena katanya buku memang menulis demikian.
Aku jelas meragukannya. Menurut logikaku, permukaan bohlam itu licin. Jika bisa dimasukkan ke dalam mulut, berarti mulut cukup besar untuk menampungnya— secara teori, seharusnya juga bisa dikeluarkan kembali.
Namun temanku yang “keras kepala” itu hanya berkata : “Kalau buku bilang begitu, berarti benar.”
Sikapnya yang tidak mau berpikir kritis membuatku kesal. Aku bilang dia bodoh. Dia balas berkata aku tidak bisa bahasa Inggris dan tidak suka membaca. Akhirnya, kami pun bertengkar.
Dengan perasaan kesal, aku pulang ke rumah. Aku mengambil sebuah bohlam berukuran normal dan duduk di ranjang, berpikir keras. Semakin kupikirkan, semakin aku yakin bahwa aku tidak salah.
Dengan semangat ilmuwan sejati— “berani berhipotesis, hati-hati membuktikan”, aku memutuskan untuk membuktikannya.
Tentu saja aku melakukan tindakan pengamanan… aku membeli sebotol minyak goreng.
Semua siap. Tanpa banyak berpikir, aku langsung memasukkan bohlam ke dalam mulut.
Dalam waktu kurang dari satu detik, bohlam itu meluncur masuk dengan mulus.
Gampang sekali! Kupikir, mengeluarkannya pasti juga mudah.
Dalam hati aku tertawa: “Lihatlah kebodohanmu, wahai orang India! Inilah kecerdasan dan keberanian orang Tionghoa!”
Aku merasa sangat bangga. Tiongkok menang atas India—setidaknya di kepalaku. Aku tertawa sendiri.
Lalu aku menarik bohlam itu pelan-pelan.
Baik… aku tarik sedikit lebih kuat…
Oke… aku buka mulut lebih lebar…
Tenang… aku buka mulut semaksimal mungkin, lalu tarik sedikit lagi
(harus sangat hati-hati agar bohlam tidak pecah).
Sialan! Bohlam itu benar-benar tersangkut di dalam mulutku.
Untung masih ada minyak goreng…
(30 menit kemudian)
Aku sudah menghabiskan tiga perempat botol minyak. Separuhnya malah masuk ke perutku. Namun bohlam itu tidak bergerak sedikit pun.
Akhirnya aku sadar— aku butuh bantuan.
Aku meraih telepon… lalu baru ingat: bagaimana caranya menelepon dengan bohlam tersangkut di mulut?
Tak ada pilihan lain. Aku menulis secarik kertas dan pergi ke rumah tetangga—seorang nenek tua.
Begitu melihatku, dia langsung berteriak ketakutan.
Aku segera menyerahkan kertas itu: “Tolong panggilkan taksi dan beri tahu sopirnya untuk membawa saya ke rumah sakit.”
Dia membaca catatan itu sekitar 1 menit 45 detik, lalu tertawa terbahak-bahak.
(Kalau aku bisa bicara, pasti sudah kumaki dia.)
Lima belas menit kemudian, taksi datang. Begitu sopir melihatku, dia langsung tertawa— dan sejujurnya, tidak pernah berhenti tertawa.
Di dalam taksi, dia terus bertanya kenapa aku melakukan hal sebodoh itu.
(Dan tentu saja… bagaimana aku bisa menjawab?)
Dia bahkan berkata, “Mulutmu terlalu kecil. Kalau mulutku sih, pasti tidak masalah.”
Aku melihat mulutnya—memang besar.
Aku ingin sekali memperingatkannya: jangan pernah mencoba hal ini! Sayangnya, aku tidak bisa bicara.
Kulihat bayanganku di kaca spion. Aku tampak seperti sedang menelan seekor ikan mas.
Di rumah sakit, perawat memarahiku selama lebih dari sepuluh menit, mengatakan aku membuang-buang waktu mereka.
Aku masih harus antre panjang. Aku berdiri di tengah kerumunan selama 2,5 jam… dua setengah jam!
Para pasien lain yang tampak kesakitan, begitu melihatku, seolah rasa sakit mereka berkurang. Semua orang menahan tawa. Setidaknya aku merasa hidupku masih ada gunanya—menghibur orang lain.
Akhirnya dokter datang. Dia menyumpal kapas di kedua sisi mulutku, lalu memecahkan bohlam itu sedikit demi sedikit dan mengeluarkannya.
Mulutku bengkak parah.
Sebelum aku pergi, dokter berkata, “Jangan pernah mencoba ini lagi. Dan ceritakan pengalamanmu kepada orang lain.”
Aku mengangguk kuat-kuat. Aku bersumpah, tidak akan pernah lagi.
Saat keluar dari rumah sakit, aku berpikir: “Sepertinya di seluruh dunia ini, tidak ada makhluk yang lebih bodoh dariku.”
Namun tepat saat aku membuka pintu… seseorang masuk dari arah berlawanan.
Itu adalah sopir taksi tadi.
Dan di dalam mulutnya… tersangkut sebuah bohlam lampu.
Hikmah Cerita
Sesungguhnya, di negara mana pun dan pada ras apa pun, selalu ada orang-orang yang luar biasa ceroboh.
Padahal sudah jelas dilarang, bahkan sudah ada contoh dan bukti nyata, tetap saja ada orang yang nekat mencoba— hingga akhirnya menyesal setengah mati.
Mungkin ini berasal dari sifat dasar manusia yang memberontak: semakin dilarang, semakin ingin dilakukan.
Untuk membuktikan keberadaan diri, membuktikan bahwa dirinya berbeda, atau merasa lebih hebat dari orang lain.
Namun sering kali, setelah “pembuktian” itu, baru disadari bahwa dirinya… memang bodoh.
Kisah ini juga mengingatkanku pada satu kalimat terkenal: “Jika kamu ingin sebuah rahasia tersebar ke seluruh dunia, cukup bisikkan kepada seseorang: ‘Ini rahasia ya… jangan sampai bilang ke siapa-siapa.’”
Begitulah manusia. Semakin dilarang, semakin ingin mencoba. Semakin tidak boleh diceritakan, semakin ingin disebarkan.
Mungkin karena itulah hidup memberikan berbagai pelajaran— untuk meluruskan sifat buruk manusia.
Meski sifat “tahu salah tapi tetap dilakukan” sering menjerumuskan manusia ke dalam kebodohan, tak bisa dipungkiri bahwa kegagalan dan kesalahan juga menjadi motor utama kemajuan manusia.
Karena manusia belajar dari kesalahan, kita bisa terbang di udara, menyelam ke dasar laut, bahkan berjalan di luar angkasa.
Setelah membaca kisah ini, marilah kita mengucapkan terima kasih kepada penulisnya— karena telah berbagi pengalaman langka, memberi kita tawa, dan menyelamatkan kita dari mencoba kebodohan yang sama.(jhn/yn)


