Biksu Tua yang Kehujanan

EtIndonesia. Menjelang senja, seorang biksu sedang dalam perjalanan kembali ke vihara. Tiba-tiba, langit bergemuruh, petir menyambar, dan hujan deras pun turun tanpa ampun. Hujan begitu lebat dan tampaknya tidak akan segera berhenti.

“Bagaimana ini?” Biksu itu menoleh ke sekeliling dengan cemas.

Syukurlah, tidak jauh dari sana terlihat sebuah rumah besar seperti perkebunan atau kediaman tuan tanah. Tanpa banyak pilihan, dia bergegas ke sana untuk memohon bermalam, sekadar berteduh dari hujan dan angin.

Rumah itu sangat besar. Penjaga pintu yang melihat seorang biksu mengetuk, setelah mendengar maksud kedatangannya, berkata dengan dingin: “Tuan kami sejak dulu tidak punya jodoh dengan kaum biksu atau pendeta. Lebih baik Anda mencari tempat lain.”

“Hujannya sangat deras, dan di sekitar sini tidak ada rumah atau penginapan lain. Tolonglah beri sedikit kemudahan,” pinta sang biksu dengan rendah hati.

“Aku tidak berani memutuskan sendiri. Aku harus bertanya dulu kepada tuanku,” jawab si pelayan.

Penjaga itu masuk ke dalam. Tak lama kemudian dia keluar, namun tetap menolak permintaan sang biksu.

Biksu itu lalu memohon setidaknya diizinkan bermalam di bawah atap, sekadar tidak kehujanan. Namun penjaga itu kembali menggelengkan kepala.

Tak ada pilihan lain. Dengan pasrah, sang biksu menanyakan nama pemilik rumah itu, lalu kembali berjalan menembus hujan deras, hingga tubuhnya basah kuyup, pulang ke vihara.

Tiga tahun kemudian, tuan rumah itu mengambil seorang selir yang sangat dia cintai. Sang selir ingin pergi ke vihara untuk berdoa dan memohon berkah, maka tuan rumah pun menemaninya.

Sesampainya di vihara, dia melihat namanya tertulis jelas pada sebuah papan doa panjang umur yang diletakkan di tempat mencolok. Dia merasa heran, lalu mencari seorang biksu kecil yang sedang menyapu halaman dan bertanya apa maksudnya.

Biksu kecil itu tersenyum dan berkata:  “Itu ditulis oleh kepala vihara kami tiga tahun lalu. Suatu hari beliau pulang kehujanan dan berkata bahwa ada seorang dermawan yang belum memiliki jalinan kebajikan dengannya. Karena itu, beliau menuliskan papan doa panjang umur untuk orang tersebut. Setiap hari, kepala vihara melafalkan sutra dan mendedikasikan jasa kebajikannya kepadanya, berharap dapat melunakkan permusuhan dan menambah jalinan kebaikan. Soal detailnya, kami sendiri tidak begitu tahu…”

Mendengar penjelasan itu, tuan tanah pun segera memahami segalanya. Hatinya dipenuhi rasa malu dan kegelisahan.

Sejak saat itu, dia menjadi donatur yang sangat tulus bagi vihara tersebut. Dukungan dan persembahannya tidak pernah putus sepanjang tahun.

Inilah kisah yang paling sering diceritakan oleh seorang biksu tua— sebuah cerita tentang mengubah “hubungan buruk” menjadi hubungan baik.

Dunia ini tidak terlalu besar, tetapi juga tidak terlalu kecil. Dalam hidup, cepat atau lambat, manusia pasti akan saling bertemu kembali.

Orang yang berhati luas dan berhati lapang memahami bahwa “dalam anugerah besar maupun kebencian besar, sejatinya tidak ada pemisahan antara aku dan orang lain.”

Segala perlakuan—baik atau buruk—yang datang dari lingkungan dan sesama, dapat menjadi dorongan dan pelajaran bagi diri sendiri. Baik kebaikan maupun kebencian, keduanya dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kebijaksanaan dan kebajikan.

Sebaliknya, orang yang berhati sempit, demi kepuasan sesaat, justru menumpuk hubungan buruk dan menutup jalan bagi hubungan baik.Akibatnya, ia perlahan-lahan menutup sendiri kemungkinan masa depannya.

Mungkin, memiliki kelapangan hati dan kedalaman batin seperti kepala vihara dalam kisah ini bukanlah hal yang mudah.

Namun seperti pepatah: “Memandang gunung yang tinggi dan jalan yang mulia—meski belum mampu mencapainya, hati tetap merindukannya.”

Jika itu dijadikan salah satu tolok ukur pertumbuhan hidup, maka jalan kehidupan seseorang akan menjadi semakin luas tanpa batas.

Renungan

Betapa luhur budi seorang biksu tua. Ketika orang lain tidak terlebih dahulu menunjukkan kebaikan, maka dirinyalah yang memulai lebih dulu.

Jika bahkan kita sendiri tidak mau melepaskan niat baik, maka hubungan buruk akan terus terikat tanpa pernah terurai.

Setelah membaca kisah ini, mari kita bercermin: apakah kita dan masyarakat saat ini hanya menunggu orang lain berbuat baik terlebih dahulu, baru kemudian mau membalas dengan kebaikan?

Tindakan kepala vihara dalam cerita ini memberi satu pelajaran penting: orang-orang asing sejatinya tidak memiliki kewajiban apa pun untuk membantu kita. 

Namun cara untuk menghubungkan dua orang yang awalnya tidak saling terkait adalah memulai dengan kebaikan.

Jika semakin banyak orang memiliki pemikiran seperti ini, maka kehangatan dan rasa kemanusiaan dalam masyarakat pasti akan menjadi jauh lebih kuat dan nyata.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine