EtIndonesia. Menjelang Tahun Baru Imlek, berbagai daerah di Tiongkok dilanda gelombang besar aksi tuntutan pembayaran upah. Para buruh memanjat derek menara dan mengancam bunuh diri demi menekan pembayaran gaji. Ada kontraktor yang membakar diri, bahkan pekerja migran yang melakukan aksi kekerasan terhadap majikan karena frustasi. Tragedi demi tragedi terjadi beruntun.
Kasus tunggakan upah dilaporkan terjadi di sektor konstruksi, manufaktur, medis, transportasi umum, dan lainnya, meluas ke lebih dari sepuluh provinsi dan kota, termasuk Tianjin, Guangdong, Shaanxi, dan daerah lain.
Baru-baru ini, sejumlah warga dari berbagai lapisan masyarakat menerima wawancara dan menceritakan pengalaman mereka. Mayoritas menyatakan bahwa situasi tunggakan gaji tahun ini jauh lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jalur pengaduan tak membuahkan hasil, membuat banyak orang terjebak dalam kondisi tanpa jalan keluar.

Gelombang Tuntutan Upah di Akhir Tahun: Buruh Ancam Lompat dari Menara
Akhir dan awal tahun yang seharusnya menjadi momen para pekerja migran menerima gaji dan pulang kampung justru berubah menjadi masa tergelap bagi banyak orang.
Video yang beredar di internet menunjukkan para pekerja di berbagai daerah mengepung gerbang perusahaan, pabrik, dan lokasi proyek. Beberapa buruh yang emosional memanjat atap gedung atau derek konstruksi, mengancam akan melompat demi menekan pembayaran gaji—seolah mempertaruhkan nyawa demi uang yang menjadi hak mereka.

Kantor dinas tenaga kerja, kantor pengaduan, dan lembaga pemerintahan setempat dipenuhi warga yang datang menuntut haknya. Suasana di berbagai tempat digambarkan kacau dan penuh keputusasaan.
Beberapa insiden yang lebih tragis juga terungkap. Di Shanxi, seorang pekerja migran yang gajinya tertunggak sekitar seribu lebih yuan nekat membunuh keluarga majikannya setelah gagal menuntut upah. Di Quanzhou, Fujian, perusahaan milik negara daerah Rongqi Group disebut lama menunggak pembayaran proyek dan gaji pekerja. Seorang kontraktor yang putus asa dilaporkan membakar diri di lokasi proyek karena tak punya uang untuk pulang kampung.
Pada 13 Februari di Luoyang, Provinsi Henan, para pekerja proyek yang belum dibayar terlihat berdiri di atas atap gedung, mengancam akan melompat. Seorang penulis bernama Cui Chenghao dalam videonya mengatakan bahwa para buruh konstruksi mempertaruhkan nyawa demi menuntut hak mereka. Ia mengutip komentar warganet: “Jangan menertawakan mereka. Cahaya yang mereka perjuangkan hari ini, suatu saat juga akan menerangi Anda.”
Di balik kejadian ekstrem ini terdapat krisis utang sistemik akibat perlambatan ekonomi yang berkepanjangan, serta kegagalan sistem perlindungan hak buruh yang membuat jutaan pekerja terjebak dalam situasi tanpa harapan.
Tuntutan Upah Tanpa Hasil: Pengaduan Saling Lempar Tanggung Jawab
Sejumlah narasumber mengatakan bahwa mereka telah mencoba jalur hukum dan administrasi, namun selalu menemui jalan buntu. Tahun ini, kondisi ekonomi disebut sangat berat, bahkan banyak perusahaan milik negara pun ikut menunggak gaji.
Seorang insinyur teknik sipil bermarga Zhang mengatakan bahwa volume proyek saat ini telah menyusut drastis dibanding masa puncak industri. Menurutnya, sebelumnya pembangunan properti dan infrastruktur berlangsung masif—perumahan, jalan raya, metro, hingga kereta cepat dibangun di mana-mana. Kini sektor properti menyusut setengahnya, sementara proyek jalan dan rel sudah hampir selesai. Volume pekerjaan disebut berkurang setidaknya dua pertiga dibanding sebelumnya.
Ia menggambarkan situasi saat ini sebagai kondisi mendekati “keruntuhan sosial”, di mana bukan hanya satu keluarga yang terdampak, tetapi banyak orang yang berjuang mati-matian untuk bertahan, terutama di sektor konstruksi.
Seorang kontraktor dari Suzhou bernama Sun Wenguang mengaku telah dua tahun mengejar pembayaran utang dari Nantong No.2 Construction Group. Hingga kini perusahaan tersebut masih berutang sekitar 350.000 yuan kepadanya. Ia mengatakan sudah mendatangi berbagai instansi pemerintah, namun hanya mendapat jawaban saling lempar tanggung jawab.
Seorang pekerja migran di Xi’an, Liu Songlin, juga belum menerima upahnya dan tak bisa pulang kampung. Ia mengatakan bahkan perusahaan besar dan BUMN pun banyak yang menunggak pembayaran. Banyak pekerja akhirnya memilih berhenti karena “sudah bekerja pun belum tentu dibayar.”
Transportasi Umum: Sopir Dipaksa Jadi Pengemudi Ilegal
Masalah tunggakan gaji juga terjadi di luar sektor konstruksi. Di Xianyang, Shaanxi, seorang sopir bus bernama Zhao Zhicheng mengaku gajinya telah tertunggak selama lima bulan. Manajemen perusahaan disebut tidak menyelesaikan masalah, malah memaksa para sopir menggunakan waktu luang untuk mengemudi layanan transportasi online tanpa izin resmi guna menghasilkan pemasukan tambahan bagi perusahaan.
Menurutnya, setelah menyelesaikan jadwal tetap bus, sopir harus menjalankan mobil daring dengan target pendapatan harian sekitar 300 yuan. Lebih dari sepertiganya harus disetor ke manajemen, sisanya masih dipotong biaya listrik dan perbaikan kendaraan. Jika terkena tilang, seluruh denda ditanggung sendiri.
Ia menilai kebijakan tersebut sebagai cara terselubung untuk memaksa karyawan mengundurkan diri agar perusahaan tak perlu membayar kompensasi PHK.
Rumah Sakit: Perawat Tanpa Gaji Setengah Tahun
Di Shandong, seorang perawat bernama Li Yuhua mengungkapkan bahwa rumah sakit tempatnya bekerja telah menunggak gaji selama enam bulan dan bonus kinerja selama satu tahun penuh. Bahkan bayaran jaga malam sebesar 20 yuan per malam pun belum dibayar.
Ia mengatakan kini para tenaga medis tidak lagi menanyakan soal besar kecilnya gaji saat mencari pekerjaan, melainkan apakah gaji dan bonus bisa dibayarkan tepat waktu—sebuah perubahan pola pikir yang mencerminkan kekecewaan mendalam di sektor layanan publik.
Perspektif Internal: Konflik Fiskal Pusat dan Daerah
Seorang pejabat daerah di Jiangxi memberikan gambaran dari dalam sistem. Ia mengatakan gaji pegawai negeri di beberapa wilayah juga dipotong signifikan. Misalnya dari 6.000 yuan menjadi 4.000 yuan per bulan.
Ia menjelaskan bahwa sejak 2017, pemerintah pusat memperketat kontrol fiskal daerah. Pajak dikumpulkan lebih dulu oleh pusat, lalu disalurkan kembali dalam bentuk transfer dana. Namun daerah yang kekurangan anggaran kerap menggunakan dana tersebut untuk operasional, sehingga gaji pegawai terhambat.
Ia menyebut konflik fiskal antara pusat dan daerah kini semakin tajam, dan berdampak pada menurunnya kepatuhan aparat daerah terhadap instruksi atasan.
Frustrasi Memuncak: Ada yang Bakar Rumah Majikan
西安农民工跪地讨薪,却被中共污名化“恶意讨薪”。
— 邓丽婷是茉露 (@DengMolu104) February 13, 2026
中国平民一天为生存付出的时间最长最累,讨工资最难,辛苦付出得不到应有的回报,大头被中共和企业榨干,拿到手的利益只能勉强填饱肚子,这是持续七十几年的人道灾难之一。 pic.twitter.com/75Ef4zAYVj
Video lain menunjukkan seorang pekerja migran di Xi’an berlutut menuntut gaji, namun justru dituduh melakukan “tuntutan upah jahat”. Dalam kasus lain, warga yang gagal mendapatkan upah nekat membakar rumah pihak yang menunggak pembayaran.
Menjelang Tahun Baru, jalan pulang bagi banyak warga kelas bawah justru terhenti oleh satu hal sederhana: gaji yang tak kunjung dibayarkan. (jhon)
(Nama narasumber dalam artikel ini disamarkan demi keamanaan dan keselamatan mereka)
Judul asli dalam bahasa mandarin : Menjelang Tahun Baru, Tiongkok Dilanda Gelombang Tuntutan Upah yang Lebih Parah dari Tahun-Tahun Sebelumnya
到年底了,这样的事情只会越来越多
— 依琴 (@xctwy543808) February 8, 2026
重庆,人矿过不了年关,恶意讨薪不成直接烧了欠薪者的房子!😲 pic.twitter.com/2uzKFW64WA
2月12日,福建泉州惠安,打工者3天讨不到工钱,睡了3天桥洞,没钱吃饭没钱买车票回家,一把火把欠薪企业4万平方米仓库烧了,估计损失40亿。 pic.twitter.com/V5Z8WPd2aA
— 英国伦敦阳光农场 (@sunshinefarmuk) February 13, 2026


