Raja dan Pengemis

EtIndonesia. Di dunia ini terdapat begitu banyak rupa dan bentuk kenikmatan yang mampu menggoda hati manusia dan membuatnya tersesat. Menahan diri dari godaan indera dan nafsu bukanlah hal yang mudah. Karena itu dikatakan: “Melihat yang baik lalu tidak ingin menambah lagi, itu sangat sulit.”

Orang yang memiliki rasa serakah yang kuat, hampir selalu tidak pernah puas dengan keadaan yang sedang dimilikinya. Dia terus merasa kosong dan kehilangan.

Karena tidak puas dengan kenyataan, dia terus mengejar sesuatu. Demi mengejar tujuan di masa depan, dia sering kali kehilangan jati diri. Banyak orang yang masa depannya hancur justru karena dorongan keinginan untuk terus mengejar dan memiliki.

Pada masa Buddha masih hidup, ada seorang raja dari sebuah kerajaan kecil. Raja ini bisa dikatakan sangat kaya raya, bahkan termasuk yang terkaya di dunia.

Dia sangat yakin bahwa kedudukan tinggi dan kekuasaan yang dimilikinya dalam kehidupan ini adalah hasil dari perbuatan memberi dan menebar kebaikan di kehidupan lampau. Karena itu, dia sangat gemar bersedekah dan berbuat kebajikan.

Suatu hari, dia membuka gudang harta kerajaannya dan mengumumkan bahwa selama tujuh hari penuh, siapa pun—tanpa memandang asal, jarak, maupun ras—yang datang meminta, pasti akan diberi.

Dia membagi harta tersebut menjadi tumpukan-tumpukan, masing-masing sebesar kira-kira enam puluh butir kurma yang ditumpuk. Setiap orang yang datang, pasti mendapatkan satu tumpukan.

Meskipun banyak orang datang mengambil, harta itu tetap masih tersisa sangat banyak.

Buddha mengetahui niat baik sang raja. Namun Buddha juga melihat bahwa kebajikan yang dilakukan raja tersebut belum merupakan pembebasan sejati, karena di balik pemberiannya masih ada keinginan—yakni mengharap kebahagiaan di kehidupan berikutnya.

Maka Buddha menjelma menjadi seorang pengemis dan datang menghadap raja.

Raja berkata: “Jika kamu memiliki kesulitan apa pun, silakan katakan. Jangan sungkan, aku pasti akan memenuhinya.”

Pengemis itu berkata:  “Aku tahu Paduka Raja gemar bersedekah dan menolong, karena itu aku datang untuk meminta harta.”

Raja menjawab: “Baik, ambillah satu tumpukan!”

Pengemis itu mengambil satu tumpukan harta lalu pergi. Namun baru berjalan tujuh langkah, dia kembali dan meletakkan harta itu ke tempat semula.

Raja bertanya heran: “Eh? Mengapa kamu mengembalikannya?”

Pengemis menjawab: “Awalnya aku pikir cukup jika bisa makan tiga kali sehari. Tetapi setelah memiliki harta ini, aku tetap hidup mengembara dan merasa tidak aman. Aku jadi ingin membangun sebuah rumah.”

Raja merasa itu masuk akal dan berkata : “Baik, ambillah satu tumpukan lagi.”

Pengemis itu mengambilnya, berjalan beberapa langkah, lalu kembali lagi dan mengembalikannya.

Raja semakin bingung dan bertanya:  “Ada apa lagi?”

Pengemis menjawab: “Jika harta ini kujual, mungkin hanya cukup untuk membangun rumah. Tapi jika ingin menikah, rasanya masih belum cukup.”

Raja berkata: “Kalau begitu, ambillah tiga tumpukan. Itu pasti cukup untuk membangun rumah dan menikah.”

Pengemis Brahmana itu mengambil tiga tumpukan harta dan pergi. Namun setelah berjalan tujuh langkah, dia kembali lagi dan meletakkan semuanya seperti semula.

Raja terkejut dan berkata: “Kamu ini benar-benar aneh. Tiga tumpukan harta masih belum cukup?”

Pengemis berkata: “Aku sudah menghitungnya, tetap belum cukup. Karena setelah rumah dibangun, menikah, dan punya anak, aku masih harus mempekerjakan pelayan untuk melayani istri dan anak, atau memperindah rumah. Jika dihitung-hitung, tetap saja tidak cukup.”

Menghadapi orang seperti ini, raja tetap berlapang dada dan berkata: “Kalau begitu, ambillah tujuh bagian!”

Pengemis itu benar-benar mengambil tujuh tumpukan harta dan pergi. Namun setelah berjalan cukup jauh, dia kembali lagi dan mengembalikan semuanya tanpa kurang satu pun.

Raja mulai marah dan berkata: “Kamu sungguh aneh! Ini sudah cukup untuk membangun rumah, menikah, dan mempekerjakan pelayan. Kamu masih merasa kurang? Harta ini cukup untuk membuatmu hidup nyaman seumur hidup!”

Pengemis itu menghela napas dan berkata: “Bagaimanapun aku menghitungnya, tetap terasa belum cukup. Meski semua sudah ada, anak pun kelak akan tumbuh dan menikah…

Ah! Hidup manusia memang tidak ada habisnya untuk dikejar dan dikerjakan.

Lagipula hidup ini tidak kekal. Aku lebih memilih hidup sederhana dan bebas seperti sekarang—tanpa beban batin dan tanggungan keluarga, menjalani hidup dengan bersih dan tenang sampai akhir.

Menurutku, kehidupan yang sekarang inilah yang paling ideal, paling bebas dan damai.”

Mendengar uraian pengemis Brahmana itu, raja pun tersadar. 

Dia berpikir: “Benar! Keinginan manusia memang tidak ada ujungnya. Aku sekarang sudah sangat berkecukupan, namun masih ingin mengejar kebahagiaan di kehidupan mendatang. Jika hidup demi hidup hanya mengejar pahala dan kenikmatan, maka tidak akan pernah ada pembebasan sejati. Sebagai raja, aku harus memikirkan rakyat, negara, dan ancaman dari luar—dipenuhi kekhawatiran. Apakah ini benar-benar kebahagiaan? Aku seharusnya mengejar kebahagiaan yang lebih luhur dan bebas.”

Manusia pada umumnya memiliki keinginan yang tak terbatas. Karena itu dikatakan, “melihat yang baik lalu tidak ingin menambah lagi, itu sulit.”

Seperti sang raja—meski menjadi penguasa tertinggi dan sangat kaya, dia masih ingin mengejar kebahagiaan di kehidupan selanjutnya. Sang pengemis pun demikian—ingin rumah, lalu ingin menikah, setelah menikah ingin pelayan, lalu memikirkan anak dan cucu di masa depan.

Contoh ini dengan jelas menunjukkan bahwa keinginan manusia tidak pernah berakhir—betapa melelahkannya hidup seperti itu.

Sebenarnya, “mengejar” tidak sepenuhnya buruk. Dalam belajar Dharma pun kita perlu mengejar kemajuan. Namun kemajuan itu bertujuan untuk membebaskan batin, menembus godaan nafsu duniawi, dan dengan semangat luhur mencapai kejernihan hati—hingga akhirnya melepaskan keinginan dan keserakahan, serta meraih kedamaian sejati.

Renungan

Pepatah Tiongkok mengatakan: “Keserakahan yang tak pernah puas ibarat ular menelan gajah.” Artinya, keserakahan tanpa batas pada akhirnya membawa bencana. Keinginan manusia, seperti pengemis dalam kisah ini, selalu berkembang: cukup makan, lalu menginginkan kenikmatan lain—dan tidak pernah merasa puas.

Saat belum punya uang, asal bisa makan kenyang, berpakaian hangat, dan punya tempat tidur, hati sudah merasa cukup.Ketika mulai punya uang, ingin makan lebih enak, berpakaian lebih bagus, dan tinggal lebih nyaman.

Saat menjadi sangat kaya, keinginan berubah menjadi: makanan harus mewah, pakaian harus bermerek, memakai perhiasan, tinggal di rumah besar, mengendarai mobil mahal—keinginan muncul tanpa henti dan berubah menjadi cinta pada kemewahan semu.

Ketidakpuasan memang bisa menjadi pendorong kemajuan manusia, tetapi juga merupakan sumber kejatuhan manusia. Jika mampu menahan diri dari kesombongan dan hanya mengejar apa yang benar-benar perlu dan dibutuhkan—bukan sekadar mengikuti tren secara membabi buta—barulah hidup bisa dijalani dengan bahagia dan damai.

Definisi cinta kemewahan semu menurut “tertawa mengembara di dunia” adalah:

  • Menyukai barang bermerek, tetapi tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk, asli atau palsu.
  • Menyukai barang antik, tetapi tidak memahami nilai seni maupun keasliannya.
  • Menyukai berlian dan perhiasan, tetapi bahkan tidak bisa membedakan yang asli dan palsu—lalu apa bedanya memakai yang asli atau tiruan?

Orang yang benar-benar memahami selera dan kehidupan, menikmati sesuatu karena minat dan makna, bukan demi mendapatkan tatapan kagum dari orang lain.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine