EtIndonesia. Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek tradisional, berbagai wilayah di Tiongkok daratan dilanda gelombang besar tuntutan pembayaran upah. Situasi tahun ini disebut-sebut jauh lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, sebagian pekerja nekat melakukan tindakan ekstrem demi menuntut hak mereka, memicu perhatian luas dari masyarakat.
Memasuki akhir tahun 2026, berbagai sektor seperti konstruksi, manufaktur, layanan kesehatan, hingga transportasi umum secara bersamaan terseret masalah tunggakan gaji. Kasus-kasus ini dilaporkan terjadi di lebih dari sepuluh provinsi dan kota, termasuk Tianjin, Guangdong, dan Shaanxi.
Banyak pekerja mengepung kantor perusahaan, pabrik, hingga lokasi proyek konstruksi untuk menuntut pembayaran upah. Ada pula yang memanjat atap gedung atau menara derek di lokasi proyek, mengancam akan melompat sebagai bentuk tekanan agar gaji mereka segera dibayarkan.


Di Shanxi, seorang pekerja migran yang gagal mendapatkan upahnya dilaporkan membunuh satu keluarga majikannya. Di Kota Quanzhou, Provinsi Fujian, seorang kontraktor yang tidak menerima pembayaran proyek nekat membakar dirinya sendiri di lokasi proyek. Sementara di Huian, Fujian, sejumlah pekerja yang tak kunjung menerima gaji membakar gudang milik perusahaan yang menunggak upah.
Pembangkang politik Tiongkok, Chen Siming, mengatakan bahwa fenomena ini telah berlangsung bertahun-tahun.
“Sudah banyak kasus orang melompat dari gedung, minum pestisida, bahkan ada yang pada malam Tahun Baru tidak punya uang untuk membeli tiket pulang kampung karena tidak menerima gaji. Semua ini akibat upah yang tidak dibayarkan. Pemerintah terlalu fokus pada proyek-proyek pencitraan dan mengejar angka PDB, meluncurkan banyak proyek yang tidak memberi manfaat sosial, hanya manfaat politik, sehingga menumpuk utang dalam jumlah besar,” ujarnya
西安农民工跪地讨薪,却被中共污名化“恶意讨薪”。
— 邓丽婷是茉露 (@DengMolu104) February 13, 2026
中国平民一天为生存付出的时间最长最累,讨工资最难,辛苦付出得不到应有的回报,大头被中共和企业榨干,拿到手的利益只能勉强填饱肚子,这是持续七十几年的人道灾难之一。 pic.twitter.com/75Ef4zAYVj
到年底了,这样的事情只会越来越多
— 依琴 (@xctwy543808) February 8, 2026
重庆,人矿过不了年关,恶意讨薪不成直接烧了欠薪者的房子!😲 pic.twitter.com/2uzKFW64WA
2月12日,福建泉州惠安,打工者3天讨不到工钱,睡了3天桥洞,没钱吃饭没钱买车票回家,一把火把欠薪企业4万平方米仓库烧了,估计损失40亿。 pic.twitter.com/V5Z8WPd2aA
— 英国伦敦阳光农场 (@sunshinefarmuk) February 13, 2026
Sejumlah analis menilai bahwa kondisi ekonomi tahun ini sangat berat. Bahkan banyak perusahaan milik negara juga mengalami penunggakan gaji. Beberapa proyek yang dipimpin pemerintah daerah atau BUMN terhenti atau mangkrak. Rantai pembayaran proyek pun tersendat, sehingga kontraktor dan pekerja migran tidak menerima upah mereka.
Chen Siming menambahkan, “Saya rasa bukan karena mereka tidak mau membayar pekerja, tetapi memang tidak mampu membayar karena sudah tidak punya uang. Banyak proyek mangkrak akibat kebijakan yang sembarangan dan tidak terencana. Mustahil setiap proyek mangkrak bisa menjamin hak-hak pekerja.”
Pemimpin redaksi media sekaligus mantan pendiri organisasi nirlaba (NPO) di Shenzhen, Ai Shicheng, menyatakan bahwa sejak era Hu Jintao dan Wen Jiabao, akhir tahun memang selalu menjadi periode rawan tuntutan upah. Namun beberapa tahun terakhir situasinya semakin serius.
“Bukan hanya pekerja migran biasa yang menuntut upah, masalah ini sudah merambah hingga ke lembaga-lembaga yang berada di pinggiran sistem pemerintahan, terutama pekerja kebersihan, bahkan kelompok guru,” katanya.
Ia juga menyoroti bahwa antarinstansi pemerintah sering saling melempar tanggung jawab, sehingga pekerja kesulitan mencari perlindungan hukum dan berada dalam situasi tanpa jalan keluar. Hal ini, menurutnya, mencerminkan bahwa krisis ekonomi Tiongkok terus memburuk dan kondisi fiskal semakin menipis.
Ai Shicheng menjelaskan lebih lanjut, “Dulu, kasus tuntutan upah pekerja konstruksi biasanya terjadi karena proyek dialihkan berlapis-lapis hingga ke kontraktor terakhir yang hampir tidak memperoleh keuntungan, sementara dana tertahan atau dipotong di setiap tingkatan. Secara keseluruhan, ini akibat sistem yang gelap dan sarat korupsi.”
“Dalam beberapa tahun terakhir, penunggakan upah semakin meluas dan memburuk. Hal ini terkait dengan tekanan terhadap ekonomi swasta, penarikan investasi asing, sehingga sumber dan basis pajak menyusut drastis, keuangan negara pun mengering. Situasi ini kemungkinan akan terus meluas dan semakin parah.” (jhon)
Sumber : NTDTV.com


