Tiga Perangkap Besar dalam Hidup

EtIndonesia. Suatu hari, seorang petani pergi ke kota untuk menjual seekor keledai dan seekor kambing.

Di leher kambing itu tergantung sebuah lonceng kecil.

Tiga orang pencuri melihatnya.

Salah satu dari mereka berkata:  “Aku akan mencuri kambing itu, dan si petani tidak akan menyadarinya.”

Pencuri kedua berkata: “Aku akan mencuri keledainya langsung dari tangan si petani.”

Pencuri ketiga berkata: “Itu semua mudah. Aku bahkan bisa mencuri seluruh pakaian yang dipakai petani itu.”

Pencuri pertama diam-diam mendekati kambing, melepaskan lonceng dari lehernya, lalu mengikat lonceng itu ke ekor keledai, setelah itu dia membawa pergi kambing tersebut.

Ketika sampai di tikungan jalan, petani menoleh ke sekeliling dan mendapati kambingnya sudah tidak ada. Dia pun mulai mencari-carinya.

Saat itu, pencuri kedua mendekati petani dan bertanya :  “Apa yang sedang Anda cari?”

Petani menjawab:  “Kambing saya hilang.”

Pencuri itu berkata: “Aku melihat kambingmu. Tadi ada seseorang yang menuntun kambing ke arah hutan itu. Kalau cepat, mungkin masih bisa dikejar.”

Petani memohon pencuri itu untuk menjaga keledainya sebentar, sementara dia pergi mengejar kambingnya.

Kesempatan itu langsung dimanfaatkan— pencuri kedua membawa kabur keledai tersebut.

Dari Satu Kehilangan ke Kehilangan Berikutnya

Petani kembali dari hutan, dan mendapati keledainya juga sudah hilang. Dia berjalan di sepanjang jalan sambil menangis sedih.

Di tengah perjalanan, dia melihat seorang pria duduk di tepi kolam sambil menangis.

Petani bertanya:  “Apa yang terjadi padamu?”

Orang itu menjawab:  “Seseorang memintaku mengantar satu karung emas ke kota. Aku terlalu lelah, jadi duduk beristirahat di tepi kolam. Tanpa sadar aku tertidur, dan dalam tidurku karung emas itu terdorong jatuh ke dalam air.”

Petani bertanya :  “Kenapa kamu tidak turun saja mengambilnya?”

Orang itu berkata: “Aku takut air. Aku tidak bisa berenang. Siapa pun yang mau menyelam mengambil karung emas itu, akan kuberi dua puluh batangan emas.”

Mendengar itu, petani sangat gembira.

Dia berpikir : “Mungkin justru karena kambing dan keledaiku dicuri, Tuhan hendak memberiku kebahagiaan yang lebih besar.”

Perangkap Terakhir

Tanpa banyak berpikir, petani pun melepas pakaiannya dan menyelam ke dalam kolam. Namun, sekuat apa pun dia mencari, tak ada karung emas di sana.

Ketika dia naik ke permukaan, dia baru menyadari bahwa pakaiannya telah lenyap.

Ternyata, pencuri ketiga telah mengambil pakaian petani itu.

Makna Cerita

Inilah tiga perangkap terbesar dalam hidup:

  1. Kelalaian
  2. Terlalu mudah percaya
  3. Keserakahan

Renungan

Cerita singkat ini ditulis dengan sangat baik. Dalam alur yang sederhana, kita langsung diperlihatkan tiga jebakan besar yang hampir pasti ditemui setiap manusia dalam hidupnya.

Tiga orang “pencuri” dalam cerita ini, jika dipikir-pikir, lebih mirip penipu daripada pencuri biasa—karena mereka tidak hanya mengambil harta, tetapi juga memanfaatkan kelemahan batin manusia.

Kelalaian, mudah percaya, dan keserakahan sebenarnya adalah hal yang semua orang tahu. Namun untuk menghindari dan mengatasinya, sungguh tidak mudah.

Bagaimanapun juga, ketiga hal ini adalah kelemahan dasar manusia. Bahkan orang berpendidikan tinggi, berpengalaman luas, atau pemilik perusahaan besar pun tidak kebal terhadapnya.

Di antara ketiganya, keserakahan mungkin adalah yang paling sulit dikendalikan. Sekilas tampak hanya soal ingin terlalu banyak, tetapi jika direnungkan lebih dalam, banyak peluang yang kita lihat sebagai “kesempatan emas” sebenarnya adalah perangkap yang dibungkus manis.

Kelalaian, mudah percaya, dan keserakahan adalah jebakan yang hampir pasti kita jumpai. Sedangkan kehati-hatian dan kewaspadaan adalah penawarnya.

Hanya dengan lebih banyak mendengar, lebih banyak bertanya, dan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, kita bisa memperkecil kemungkinan jatuh ke dalam perangkap kehidupan. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine