EtIndonesia. Pada zaman yang sangat lampau, di Istana Langit Lingxiao—kediaman Kaisar Langit—tinggal dua ekor burung kecil yang cerdas dan lincah. Keduanya hidup di alam surgawi yang jauh dari hiruk-pikuk dunia manusia. Karena telah lama mendampingi Kaisar Langit, hati mereka pun tumbuh penuh welas asih.
Dua burung itu adalah gagak dan burung kucica. Keduanya diperlakukan secara adil, hidup tanpa kekhawatiran, dan menjalani hari-hari yang bahagia bersama, hingga akhirnya menjadi sahabat yang sangat akrab.
Apa pun makanan enak yang didapat gagak, selalu dia ingat untuk dibagi dengan kucica. Apa pun hal menarik yang ditemukan kucica, selalu dia ajak gagak untuk menikmatinya bersama.
Namun di dalam hati mereka, tersimpan sebuah keinginan yang sama: mereka ingin menyempurnakan diri dan terlahir kembali sebagai manusia. Gagak ingin menjadi seorang pria berbakat dan berjiwa bebas, sementara kucica ingin menjadi seorang wanita cantik yang cerdas dan anggun.
Mereka pun memberanikan diri menyampaikan harapan ini kepada Kaisar Langit.
Kaisar Langit sangat menyayangi kedua burung itu, tetapi dia juga tidak tega melihat mereka turun ke dunia fana dan menanggung penderitaan manusia.
Akhirnya, dia mengajukan sebuah syarat: Gagak dan kucica harus menyelesaikan beberapa tugas, yakni membawa kebahagiaan dan peringatan bagi manusia di dunia, barulah keinginan mereka dapat dikabulkan.
Keduanya dengan gembira menyetujui syarat itu dan turun ke dunia manusia untuk menjalankan misi mereka.
Setelah berdiskusi, mereka membagi tugas:
- Gagak memilih untuk muncul saat manusia akan menghadapi bencana, guna memperingatkan mereka.
- Kucica memilih untuk hadir saat manusia akan mengalami peristiwa bahagia, untuk menyampaikan kabar baik.
Sejak saat itu, mereka menjalankan misi masing-masing.
Setiap kali sebuah keluarga akan tertimpa musibah besar, gagak akan terbang ke atap rumah itu dan berteriak: “A! A! A! A!”
Begitu pula kucica, setiap kali sebuah keluarga akan kedatangan kabar gembira, dia akan terbang ke jendela rumah itu dan berkicau riang.
Namun lama-kelamaan, manusia mulai menyadari satu hal: setiap kali gagak datang, bencana pun menyusul.
Akibatnya, manusia menjadi membenci gagak. Mereka melemparinya dengan batu dan mengusirnya.
Sebaliknya, manusia juga menyadari bahwa setiap kali kucica muncul, keberuntungan akan datang. Maka mereka menyukai kucica, bahkan dengan senang hati membiarkannya bersarang di atap rumah.
Namun meski demikian, keinginan kedua burung itu tetap tidak terwujud.
Mengapa?
Karena setiap kali gagak muncul, manusia ingin membunuhnya, hingga gagak akhirnya bersembunyi di pegunungan yang dalam.
Sementara kucica, meski disambut dengan hangat oleh manusia, namun dunia manusia penuh dengan keserakahan dan pertikaian. Dan di mana ada pertikaian, bagaimana mungkin ada kebahagiaan sejati?
Akibatnya, jejak kucica pun perlahan-lahan menghilang dari dunia manusia.
Renungan
Dalam budaya masyarakat Tionghoa, gagak sering dianggap sebagai pertanda kesialan. Begitu mendengar suaranya, orang langsung mengira akan ada musibah, hingga orang yang sering berkata buruk pun dijuluki “mulut gagak”.
Namun di Inggris, gagak justru dianggap burung pembawa keberuntungan. Bahkan, jika gagak pergi, itu dipercaya sebagai tanda bahwa bencana akan segera datang.
Burung yang sama— namun perlakuannya sangat berbeda, hanya karena lingkungan dan sudut pandang yang berbeda.
Sesungguhnya, baik atau buruknya sebuah pertanda bukan terletak pada gagak, melainkan pada cara manusia memaknainya.
Orang yang menganggap gagak sebagai pembawa sial, berpikir dengan hati yang pesimis dan suka menyalahkan keadaan.
Namun bila sudut pandang diubah— jika mendengar gagak berarti bencana akan datang, maka manusia bisa menjadi lebih waspada dan berhati-hati.
Dengan kewaspadaan itu, bukan tidak mungkin musibah justru bisa dihindari.
Bila dilihat dari sudut pandang ini, gagak bukan lagi burung pembawa sial, melainkan penjaga yang membantu manusia menjauh dari bahaya.(jhn/yn)


